Kupi Beungoh
Genosida Gaza dan Dosa Besar Amerika
WHO dan PBB memperingatkan bencana kelaparan dan penyakit yang meluas, sementara akses bantuan kemanusiaan terus diblokade.
*) Oleh: Prof. Mailizar, PhD
SUDAH hampir dua tahun dunia menyaksikan penderitaan luar biasa di Gaza. Ribuan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Di tengah krisis yang belum mereda, pada 7 Agustus 2025, Netanyahu mengumumkan rencana untuk mengambil kendali militer penuh atas Gaza.
Sementara itu, krisis kemanusiaan terus memburuk: lebih dari 61.000 warga Gaza syahid, dan hanya 1,5 persen lahan pertanian yang masih bisa digunakan.
WHO dan PBB memperingatkan bencana kelaparan dan penyakit yang meluas, sementara akses bantuan kemanusiaan terus diblokade.
Namun, yang lebih menyakitkan: tragedi ini bukan sekadar benturan dua pihak, melainkan hasil dari dukungan aktif Amerika Serikat terhadap kejahatan Israel.
Kini, semakin jelas bahwa apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar “konflik” atau “perang”, melainkan genosida yang didukung dan difasilitasi oleh kekuatan terbesar dunia
Genosida yang Tak Terbantahkan
Yang terjadi di Gaza bukanlah perang biasa. Organisasi hak asasi manusia dunia sperti Amnesty International, Human Rights Watch, hingga Doctors Without Borders sejak lama menyatakan bahwa yang kita saksikan setiap hari di koran, layar tv maupun layar ponsel adalah genosida.
Bahkan lembaga HAM Israel sendiri, B’Tselem, telah menyimpulkan secara tegas: Israel melakukan tindakan terkoordinasi untuk secara sengaja menghancurkan masyarakat Palestina di Gaza. Dengan kata lain, Israel sedang melakukan genosida.
Perdebatan soal istilah apakah genosida atau bukan sudah selesai. Yang tersisa adalah pertanyaan: apakah Amerika Serikat hanya pendukung atau justru pelaku aktif dalam genosida ini?
Kenyataan pahitnya, Amerika Serikat bukan sekadar menutup mata terhadap kejahatan Israel di Gaza.
Amerika membantu Israel menarik pelatuk. Mereka terlibat aktif dalam genosida ini.
Seperti diakui mantan Jenderal Israel, Yitzhak Brick: Semua rudal, amunisi, bom, pesawat, dan mesin perang lainnya—semuanya dari Amerika.
Begitu Amerika menutup keran pengiriman senjata, perang ini tak bisa dilanjutkan. Semua orang tahu, tanpa Amerika, perang ini tak akan berjalan.
Dukungan Amerika bahkan melampaui sekadar pendukung.
Pemerintahan Trump memberi lampu hijau penuh pada Netanyahu untuk “membersihkan” Gaza, menyediakan senjata, intelijen, dan dana.
Ketika blokade total diberlakukan, Netanyahu menegaskan itu dilakukan dengan koordinasi penuh bersama Trump dan timnya.
Kongres AS, khususnya Partai Republik, bahkan lebih ekstrem: ada anggotanya yang terang-terangan menyerukan penghancuran total Gaza.
Partai Demokrat pun tak bisa lepas dari dosa besar ini. Selama 16 bulan pertama pembantaian massal, pemerintahan Biden memberikan segala yang dibutuhkan Israel: bom 1.000 ton untuk kamp pengungsi, veto di Dewan Keamanan PBB untuk menghalangi gencatan senjata.
Mayoritas anggota Kongres Demokrat terus-menerus memilih untuk tetap mengirim senjata dan dana, bahkan ketika bukti kejahatan perang sudah tak terbantahkan.
Media, Korporasi, dan Institusi Amerika Membungkam Kebenaran dan Meraup Untung
Dosa Amerika tidak berhenti di pemerintahan. Media arus utama AS, baik media liberal maupun konservatif seperti fox news berperan besar dalam menutupi kenyataan genosida.
Mereka membingkai Gaza sebagai “konflik dua pihak”, menghindari istilah “genosida” dan “pembersihan etnis”, serta jarang mengangkat suara korban Palestina.
Institusi elite AS seperti kampus Ivy League, firma hukum besar, hingga perusahaan teknologi seperti Microsoft, Alphabet (Google), Amazon, IBM, dan Palantir—ikut membungkam suara anti-genosida.
Mahasiswa dan pekerja yang bersuara dipecat, dibungkam, atau didiskriminasi.
Bahkan PBB menyoroti perusahaan-perusahaan teknologi ini yang diduga mengambil untung dari genosida.
Laporan terbaru PBB yang dirilis pada Juli 2025 menyoroti keterlibatan langsung puluhan perusahaan raksana amerika dalam mendukung dan mengambil untung dari genosida di Gaza.
Microsoft, Alphabet, Amazon, dan IBM telah memberikan akses luas kepada pemerintah Israel atas teknologi cloud, kecerdasan buatan, serta pengelolaan dan pelatihan data biometrik yang memperkuat sistem pengawasan dan kontrol terhadap warga Palestina.
Palantir Technologies bahkan diduga menyediakan teknologi prediksi otomatis dan kecerdasan buatan yang digunakan untuk pengambilan keputusan di medan perang, termasuk dalam penentuan target serangan.
Selain itu, platform sewa properti seperti Booking.com dan Airbnb juga diidentifikasi mengambil untung dari pendudukan dan perang di Gaza.
Laporan PBB ini menegaskan bahwa genosida di Gaza terus berlangsung karena menguntungkan banyak pihak.
Genosida Gaza, menurut laporan tersebut, telah menjadi “ladang uji coba ideal” bagi produsen senjata dan perusahaan teknologi, dengan permintaan tinggi, minim pengawasan, dan tanpa akuntabilitas.
Fakta yang Tak Bisa Disangkal
Data dan bukti tak bisa dibantah bahwa Amerika memasok dan mengisi ulang bom serta peluru yang membunuh puluhan ribu warga sipil Gaza.
Amerika memfasilitasi penghancuran rumah dan rumah sakit; Amerika menyetujui kelaparan anak-anak sebagai alat perang.
Semua ini adalah dosa besar yang akan tercatat dalam sejarah.
Kepada semua pihak yang terlibat, baik yang mendukung maupun yang menjadi pelaku tragedi Gaza, sejarah akan mencatat dan menghakimi setiap bom yang dijatuhkan, setiap suara yang dibungkam, dan setiap kebohongan yang disebarkan.
Sejarah juga akan mencatat keterlibatan aktif Amerika dalam genosida ini—bagaimana mereka membantu dan bersekongkol dalam salah satu kejahatan terbesar terhadap kemanusiaan.
Sejarah tidak akan lupa siapa yang berdiri di sisi kemanusiaan, dan siapa yang memilih diam, atau bahkan turut berkontribusi dalam genosida ini. (*)
*) PENULIS adalah Guru Besar FKIP USK dan Alumni James Madison University, USA
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DI SINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Mailizar-SPd-MPd.jpg)