Kamis, 7 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Hasil Pengawasan BPTU-HPT, 3 Pasar Tradisional di Banda Aceh dan Aceh Besar Bebas Beras Oplosan

Praktik oplosan tidak ditemukan di sana, lantaran pedagang mengaku menjual beras lokal. Malah mereka mengaku beras sempat langka. YANHENDRI

Tayang:
Editor: mufti
Serambi Indonesia
DISKUSI DENGAN PEDAGANG - Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Yanhendri berdiskusi dengan pedagang beras di Pasar Induk Lambaro, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (7/8/2025). 

“Praktik oplosan tidak ditemukan di sana, lantaran pedagang mengaku menjual beras lokal. Malah mereka mengaku beras sempat langka.” YANHENDRI, Kepala BPTU-HPT Indrapuri

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tiga pasar tradisional yang ada di Aceh Besar dan Banda Aceh bebas dari praktik penjualan beras oplosan. Hal itu terungkap dari hasil pengawasan Kementerian Pertanian melalui Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri, Kamis (7/8/2025).

Dalam peninjauan tersebut, pihak BPTU-HPT melakukan pengawasan di Pasar Tradisional Al-Mahirah, Pasar Induk Lambaro dan para pedagang beras di pasar Aceh.

Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Yanhendri, mengatakan, pemantauan itu dilakukan sesuai dengan perintah Menteri Pertanian terkait penindakan terhadap para oknum pengoplos beras. “Dari tiga pasar yang kita pantau, semua pedagang dan konsumen mendukung langkah menteri untuk melaporkan pengoplos itu kepada APH,” katanya.

Para pedagang mengaku, dugaan adanya praktik penjualan oplosan itu juga menimbulkan rasa kekhawatiran mereka dan konsumen. Untuk mencegah beras beras oplosan, pedagang mengaku terlebih dahulu melakukan pengecekan secara manual atau membeli langsung dari pihak pabrik.

“Dan dari pengecekan juga bahwa tidak ada beras yang dioplos di pasar itu baik itu premium dan medium. Pedagang mengaku bahwa untuk Aceh Besar dan Banda Aceh aman dari praktik tersebut,” sambungnya.

Meski begitu, kata Yanhendri, pedagang mengaku kerap terjadi kelangkaan beras beberapa pekan terakhir lantaran kurangnya stok gabah yang membuat harga beras melambung tinggi. Rata-rata beras yang dijual merupakan beras lokal dari yang dipasok dari Aceh Besar dan Pidie. 

“Praktik oplosan tidak ditemukan di sana, lantaran pedagang mengaku menjual beras lokal. Malah mereka mengaku beras sempat langka,” ujarnya.

Dikatakan, berkat dari penindakan tegas dilakukan APH dan Kementan, tingkat pembelian beras jenis premium di pasar Al Mahirah dan Pasar Induk Lambaro justru meningkat. “Langkah hukum ini mendapat dukungan dari masyarakat, terlebih tim langsung turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan. Pedagang mengaku memeriksa beras medium dan premium untuk mengecek itu beras oplos atau bukan. Jadi pengakuan mereka tidak ada beras oplosan di tiga pasar ini,” pungkasnya.(iw)

 

Lakukan Pengecekan Manual

SEMENTARA itu, seorang pedagang di Pasar Induk Lambaro, Boy Jaya, mengatakan, sebagai pedagang kecil, pihaknya selalu menerima beras produk lokal. Namun ia kurang mengetahui apakah beras itu asli atau sudah dioplos.

Untuk mengantisipasinya, pedagang melakukan pengecekan secara manual dengan melihat kualitas beras tersebut. Dengan adanya penindakan pelaku pengoplos beras seperti di Pidie beberapa hari lalu, pihaknya sangat bersyukur.

“Beras disuplai dari pabrik misalnya harga Rp 240 ribu kita jual segitu juga. Kita ambil dari pabrik langsung. Kita juga buka beras untuk dicek langsung konsumen,” ujarnya.

Selama maraknya kasus beras oplosan, kata Boy, ia mengaku tidak pernah menerima komplain dari konsumen. Sebab, sebelum menjual kepada masyarakat, pihaknya memberikan contoh sampel kepada pelanggan.

“Kalau memang kurang cocok dan kurang memuaskan, bisa tukar balik. Saat ini harga beras mulai turun. Karena kan di beberapa daerah ada yang sudah mulai panen,” tutupnya.

Hal serupa juga dikatakan Fazil, pedagang grosir beras di Pasar Al-Mahirah Lamdingin. ia tidak menampik jika ada masyarakat takut membeli beras yang ternyata oplosan. “Tapi di tempat kita nggak ada komplain. Karena bukan beras oplosan yang kita jual. Penjualan justru meningkat. Bahkan sempat kosong barang karang stok nggak ada,” pungkasnya.(iw)

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved