Kamis, 23 April 2026

Profesor Humam Hamid Hadiri Forum Internasional Refleksi Aceh Damai di Jakarta

Humam Hamid mengatakan, kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat internasional masih mau peduli Aceh.

Penulis: Yeni Hardika | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/HANDOVER
Prof. Dr. Ahmad Human Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Dalam pandangannya, keberhasilan Aceh menjadi model resolusi konflik bukanlah buah dari satu tangan, melainkan hasil kerja kolektif--pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan dukungan komunitas internasional.

“Perdamaian Aceh adalah hasil kerja kolektif, bukan hanya keberhasilan elite,” ujar Humam menjawab Serambinews.com.

“Dan yang lebih penting, damai itu tidak otomatis. Ia perlu dirawat, dipelihara, dan dibarengi dengan keadilan,” lanjutnya.

Baca juga: Zikir Akbar Akan Warnai Peringatan 20 Tahun Damai Aceh di Aceh Utara

Tiga dimensi besar

Prof Humam Hamid menambahkan, diskusi nanti akan mengupas tiga dimensi besar: dinamika perundingan yang mengakhiri tiga dekade konflik bersenjata, strategi implementasi yang melibatkan berbagai pihak, serta tantangan menjaga stabilitas dalam lanskap politik dan ekonomi yang terus berubah. 

Bagi para peserta dari luar negeri, Aceh menjadi bukti bahwa negosiasi berbasis inklusi, partisipasi luas, dan kesediaan memberi ruang bagi lawan politik, dapat mengakhiri lingkaran kekerasan.

Di tengah dunia yang masih diwarnai perang dan krisis kemanusiaan, kisah Aceh punya daya tarik tersendiri. 

“Ia lahir bukan dari situasi di mana satu pihak kalah total, melainkan dari kesadaran kedua belah pihak bahwa perang tidak lagi memberi masa depan,” ungkap Humam. 

“Helsinki hanyalah awal, ujian sebenarnya ada di tahun-tahun sesudahnya,” lanjutnya. 

Sekilas tentang ERIA dan forum refleksi damai Aceh

ERIA (Economic Research Institute for ASEAN and East Asia) School of Government yang diketuai Professor Nobuhiro Aizawa adalah lembaga NGO Jepang yang fokus pada pengembangan kapasitas pemerintahan dan penelitian kebijakan di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. 

ERIA kerap melaksanakan forum pertemuan yang menghadirkan para tokoh, untuk mendorong pertukaran pengetahuan antara praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan lintas negara.

Khusus tentang forum “Refleksi Damai Aceh” ERIA menyusun acara ini bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk menginspirasi. 

“Kami ingin pengalaman Aceh menjadi referensi bagi kawasan Asia Tenggara dan dunia,” kata perwakilan ERIA dalam keterangan resmi yang dikirimkan kepada para terundang. 

“Bahwa damai itu mungkin, bahkan setelah trauma panjang.”

Saat para pembicara nanti bergantian mengambil mikrofon, narasi yang muncul mungkin akan berbeda-beda. 

Ada yang bercerita tentang tekanan diplomatik, ada yang mengingat momen-momen emosional di ruang negosiasi, ada pula yang menyoroti kerja teknis membangun rumah dan infrastruktur. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved