Berita Aceh Tengah

Pengamat Burung dari Aceh Birder Agus Nurza: Qanun Kampung HBB Langkah Maju Lestarikan Lingkungan

Agus Nurza bersama alat fotografer dengan latar belakang Danau Laut Tawar. FOTO DOKUMEN PRIBADI

Agus yang juga fotografer dokter hewan itu mengatakan, di lokasi Kampung HBB terdapat banyak burung endemik Sumatera.

Pengamat Burung dari Aceh Birder Agus Nurza: Qanun Kampung HBB Langkah Maju Lestarikan Lingkungan

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Pemerhati burung, dari komunitas Aceh Birder, Agus Nurza memuji langkah Reje Kampung Hakim Bale Bujang (HBB) Kecamatan Lut Tawar Aceh, Misriadi. 

Ya, reje ini menerbitkan Qanun Nomor 03 tahun 2019 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup.

"Itu langkah maju dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup di wilayah Kampung HBB," kata Agus Nurza, Kamis (31/10/2019).

Agus yang juga fotografer dokter hewan itu mengatakan, di lokasi Kampung HBB terdapat banyak burung endemik Sumatera.

Misalnya  "Sumatran Bulbul, Sumatran Flowerpecker, Sumatran Frogmouth, Sumatran Green Pigeon," dan lain-lain.

GeRAK Aceh Nilai Kecurangan dalam Penerimaan CPNS Saat Wawancara, Ini Harapan kepada Pemerintah

Reje Kampung Hakim Bale Bujang, Aceh Tengah, Misriadi (For serambinews.com)

Selain itu, juga ada hewan primata seperti "Thomas Leaf Monkey" dan "Red Giant Flying Squirrel" serta terdapat anggrek lokal yaitu "Paphiopedium Bungebelangi."

"Tercatat, ada 91 spesies burung di kawasan HBB. Dari jumlah tesebut 14 diantaranya burung endemik Sumatera dan bersatus dilindungi," ujar Agus yang ikut merancang kawasan wisata alam Bur Mulo Forest Park yang ada di HBB.

Agus mengatakan, ia bersama masyarakat Kampung HBB telah menyiapkan video promosi wisata (TVC) “Explore the Gayo Highland and Conservation Experiences” .

Video itu memuat objek wisata unggulan seperti Bur Telege, Bur Mulo Forest Park, dan Dermaga Lukup Penalam Dedalu. 

Video ini dikemas dengan potensi di sekitar wilayah seperti kopi gayo, menenun kerawang gayo, seni budaya dan potensi-potensi yang dimiliki desa Hakim Bale Bujang.

Menurut Agus Nurza, Qanun Kampung HBB tentang Pelestarian Lingkungan Hidup itu berisikan semangat melindungi semua jenis flora, fauna, khusunya aneka jenis burung yang semula berkembang biak dengan bebas di wilayah ini tapi kemudian kerap diburu.

Tim Gabungan Angkut Rak PKL ke Kantor Satpol PP dan Pendopo Bupati Bireuen, Ini Penyebabnya

"Dengan qanun ini tidak boleh lagi ada kegiatan perburuan burung dengan cara menembak, menjaring, memikat dan menangkap segala jenis burung dan ayam hutan di wilayah kampung serta dilarang menangkap dan/atau membunuh teringgiling, musang dan satwa langka lainnya untuk diperjualbelikan," ujar Agus.

Sebab, lanjutnya setiap orang yang melanggar dikenakan denda paling sedikit Rp 1.000.000. (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000 (lima juta rupiah).

"Harapan ke depan dengan disahkannya Qanun di Kampung HBB, wisata pengamatan burung atau 'avitourism' yang merupakan bentuk kegiatan konservasi burung dikemas dalam paket wisata pengamatan burung di habitat aslinya atau on the spot dapat terus berkembang.

Avitourism selain berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya kehadiran burung di alam juga bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi sekitar kawasan konservasi dan menjaga alam tetap lestari secara berkelanjutan," demikian Agus Nurza.

Pemugaran Hotel Renggali Disorot, Buang Material ke Danau Lut Tawar

Seperti diberitakan sebelumnya, berikut 14 larangan dalam Pasal 10 Qanun Nomor 03 Tahun 2019 tanggal 27 April 2019 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup itu

(1) Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang mengakibatkan
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup di wilayah Kampung.

(2) Setiap orang dilarang menebar dan/atau menggunakan bahan kimia, bahan beracun, bahan peledak dan strum listrik untuk menangkap ikan, udang, belut dan sejenisnya di sungai, kali, selokan, bendungan, parit, saluran  irigasi di wilayah Kampung.

(3) Setiap orang dilarang berburu, menembak, menjaring, memikat dan  menangkap segala jenis burung dan ayam hutan di wilayah kampung.

(4) Setiap orang dilarang menangkap dan/atau membunuh teringgiling, musang dan satwa langka lainnya untuk diperjualbelikan;

(5) Setiap orang dilarang membuang sampah, tinja, bangkai, bahan beracun,  bahan berbahaya, dan bahan pencemar air ke sungai, kali, selokan, dan saluran air.

(6) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan usaha yang ada kemungkinan menimbulkan pencemaran/kerusakan lingkungan hidup sebelum mendapatkan izin lingkungan dari instansi yang berwenang;

(7) Setiap orang dilarang menebang dan/atau merusak tumbuhan di sekitar mata air kampung.

(8) Setiap orang dilarang memperjual belikan air dari mata air kampung.

(9) Setiap orang dilarang membuka lahan baru dalam kawasan hutan lindung tanpa izin.

(10) Setiap orang dilarang menimbun pinggiran danau tanpa izin.

(11) Setiap orang dilarang mengebiri pohon (Gasi). 

(12) Setiap orang dilarang membangun keramba apung tanpa izin.

(13) Setiap orang dilarang melepas hewan ternak besar sembarangan.

(14) Setiap orang dilarang membangun gedung, rumah, pemukiman dan
bangunan lainnya tanpa izin. (*)

Berita Populer