Rabu, 8 April 2026

SALAM SERAMBI

Sudah Bolos Merokok Pula, Siswa Pantas Ditindak

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, an­tara lain, memberitakan ulah sejumlah siswa di Blang­pidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu kecamatan di kabupaten Abdya kena razia karena bolos saat jam belajar, dan kedapatan merokok, Jumat (20/9/2019). 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, an­tara lain, memberitakan ulah sejumlah siswa di Blang­pidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya yang bolos pada jam sekolah dan berkeliaran di luar. Mereka juga di­pergoki sedang pesta rokok.

Ulah mereka terungkap saat dirazia oleh petugas Sa­tuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Barat Daya saat bolos pada jam bela­jar, Jumat (8/11/2019) di kompleks perkantoran pem­kab setempat.

Dalam razia yang dipimpin oleh Sekretaris Satpol PP dan WH Aceh Barat Daya, Nazaruddin MM, itu para sis­wa yang kepergok sedang merokok langsung lari pontang-panting menghindar dari sergapan petugas.

Begitupun, petugas berhasil mengamankan dua siswa yang tak sempat lari. Mereka ditemukan dalam keadaan masih berseragam Pramuka dan di jari mereka masing-masing ada rokok yang sudah tersulut.

Setelah diamankan sebentar, kedua siswa yang bo­los itu kemudian diserahkan kepada orang tua masing-masing untuk dibina.

Upaya ini merupakan tindak lanjut dari permintaan Wa­kil Bupati Aceh Barat Daya agar Satpol PP aktif mengatasi anak sekolah yang berkeliaran pada jam belajar. Apala­gi kalau mereka melakukan hal-hal yang tidak terpuji saat bolos, misalnya merokok, main judi online, nonton video porno, atau bahkan mengonsumsi narkoba.

Pembaca yang budiman. Kisah yang tersaji dalam pem­beritaan Serambi Indonesia ini bukanlah peristiwa besar dan baru, mengingat hal serupa kerap terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh. Namun, kalau kita te­rus abai dan menganggap hal ini persoalan kecil atau se­pele, maka jangan heran kalau peristiwa serupa akan te­rus terulang. Ada kalanya anak orang lain yang kedapatan merokok saat bolos sekolah dan di lain waktu jangan ka­get kalau pelakunya adalah anak kita sendiri.

Rokok memang sesuatu yang masih debatable. Tapi anak sekolah yang belum punya penghasilan lalu mero­kok, itu sungguh hal yang sulit diterima akal sehat.

Bukan saja mereka secara sadar meracuni hidupnya, tapi juga memaksakan diri untuk memperoleh rokok de­ngan cara-cara tidak terhormat. Misalnya, meminta kepa­da teman, diam-diam mencuri rokok ayahnya di rumah, atau bahkan menahan diri tak jajan di kantin sekolah lalu uangnya dibelikan rokok.

Kebiasaan seperti ini bila terus terpupuk dengan kon­sisten, maka yang kita tuai kelak adalah generasi pero­kok. Bagi Aceh, perokok adalah komunitas yang, maaf, tercitrakan buruk. Secara nasional, hanya di Aceh pero­koknya luar biasa bernafsu. Mereka rata-rata mengisap rokok 19,5 batang per hari. Lebih dari 70 persen perokok berat di Aceh adalah orang miskin.

Ini sebab, BPS bersama Bank Indonesia, bahkan Bap­peda, selalu mengklaim bahwa konsumsi rokok di Aceh berkorelasi dengan kemiskinan. Orang miskin yang mero­kok tak sempat menabung, karena uang ekstranya diha­biskan untuk rokok.

Di sisi lain, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provin­si Aceh sudah lama mendapat fakta bahwa rokok adalah pintu gerbang jadi narkobais. Jangan kaget bahwa jumlah pelajar dan mahasiswa di Aceh saat ini yang terpapar nar­koba sudah mencapai 69.066 orang. Angka ini lebih ting­gi dari jumlah pekerja/pegawai di Aceh yang positif narko­ba, hanya sekitar 48.000 orang.

Artinya, pelajar dan mahasiswa yang umumnya belum punya penghasilan tetap, tapi justru paling banyak me­ngonsumsi narkoba. Kalau kita biarkan mereka terus me­rokok dan bolos sekolah, mau jadi apa mereka kelak? Tak mungkinlah Aceh yang termiskin di Sumatra kita se­rahkan estafet kepemimpinannya kepada generasi pen­candu rokok dan sudah rusak karena narkoba.

Maka, kalau sekarang dipergoki ada siswa yang bolos dan petentang-petenteng merokok di ruang publik, tindak saja! Panggil orang tuanya agar serius melakukan pembinaan. Se­mua ini demi kebaikanmasa depan mereka dan kemaslahatan bersama. Kalau kita tak tegas memerangi rokok dan narkoba, juga siswa malas, jangan pernah berharap Aceh Hebat.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved