Rabu, 8 April 2026

Internasional

Uni Eropa Peringatkan Taliban, Tidak Akan Mengakui Rezim Baru Afghanistan

Pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan Taliban, bahwa blok tersebut tidak akan mengakui rezim baru Afghanistan.

Editor: M Nur Pakar
AP/Paul White
Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen berbicara dalam konferensi pers di pangkalan udara militer Torrejon di Madrid, Spanyol, Sabtu (21/8/2021). 

SERAMBINEWS.COM, MADRID - Pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan Taliban, bahwa blok tersebut tidak akan mengakui rezim baru Afghanistan.

Dilansir AP, Minggu (22/8/2021), pembicaraan saat ini diadakan untuk mengamankan jalan keluar sebanyak mungkin pengungsi Afghanistan.

Tetapi, tidak berarti blok itu siap untuk mengakui rezim baru.

Tetapi, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen mengakui perlunya terus terlibat dengan Taliban.

Dia menyampaikan hal itu selama kunjungannya bersama Presiden Dewan Uni Eropa, Charles Michel, ke pusat penerimaan pengungsi yang didirikan oleh Spanyol, dekat Madrid.

“Kami memiliki kontak operasional dengan Taliban di saat krisis ini," ujar Leyen.

Baca juga: Mantan PM Inggris Sebut Keputusan AS Keluar dari Afghanistan Membuat Kelompok Jihad Bersorak Gembira

Dia mengakui masih perlu mendiskusikan di masa-masa sulit ini, untuk memfasilitasi orang-orang di Kabul dapat datang ke bandara.

“Tapi ini benar-benar berbeda dan terpisah dari pembicaraan politik," klaimnya.

"Tidak ada pembicaraan politik dengan Taliban dan tidak ada pengakuan terhadap Taliban," jelas Leyen.

Dia juga mengatakan kelanjutan bantuan kemanusiaan Eropa ke Afghanistan akan bergantung pada Taliban.

Dikatakan, hanya jika menghormati hak asasi manusia, terutama bagi kaum perempuan dan anak perempuan.

“Kami mendengar pernyataan Taliban yang menekankan, perempuan akan mendapatkan tempat yang tepat di masyarakat," jelasnya.

Ditambahkan, juga memiliki hak untuk belajar dan bekerja, dalam kerangka Islam.

"Tetapi, apa pun artinya, kami juga mendengar semakin banyak laporan tentang orang-orang yang diburu karena pekerjaan atau pendapat mereka di masa lalu," tambahnya.

"Kami mendengar wanita ditolak ketika mereka muncul di tempat kerja mereka yang biasa,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved