Internasional
Uni Eropa Peringatkan Taliban, Tidak Akan Mengakui Rezim Baru Afghanistan
Pejabat tinggi Uni Eropa memperingatkan Taliban, bahwa blok tersebut tidak akan mengakui rezim baru Afghanistan.
Tetapi juga bekerja di lapangan di Kabul bersama pejabat Taliban.
"Ini adalah situasi yang sangat sulit, berubah dari menit ke menit, tetapi ada kerja keras yang dilakukan untuk membuat yang terbaik dari situasi yang sangat sulit," katanya.
Von der Leyen, bagaimanapun, juga mendesak masyarakat internasional untuk membantu orang-orang Afghanistan yang akan tetap tinggal.
Dia mengatakan runtuhnya demokrasi yang didukung NATO dan kembalinya Taliban ke tampuk kekuasaan telah memicu perpindahan hampir 3,7 juta orang.
Banyak negara Eropa juga mengkhawatirkan gelombang migrasi lain yang serupa dengan yang terjadi pada 2015 yang dipicu oleh perang saudara Suriah.
“Kita harus membantu memastikan bahwa pengungsi Afghanistan dapat kembali ke rumah mereka," harapnya.
"Ttau setidaknya memiliki prospek, apakah mereka saat ini di Afghanistan atau di negara tetangga,” katanya.
Baca juga: Wanita Afghanistan Melahirkan di Dalam Pesawat Militer AS
Von der Leyen mengatakan masalah migrasi Afghanistan harus menjadi perhatian utama pertemuan G-7 minggu depan.
Sehingga, akan membantu menciptakan rute legal dan aman secara global, yang diselenggarakan oleh UE, komunitas internasional, dan yang membutuhkan perlindungan.
“Pemukiman kembali orang-orang yang rentan ini sangat penting,” katanya.
“Itu adalah kewajiban moral kita," ujarnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/presiden-komisi-uni-eropa-ursula-von-der-leyen.jpg)