Jurnalisme Warga
Asyiknya Menjadi ’Santri’ di Lembaga BPVP Banda Aceh
Akan tetapi, harus berusaha, tanpa meminta-minta kepada orang lain. Menurut saya, ”Geutanyo ureung agam harus jeut buet jaroe yang geutanyoe galak [Ki
Tgk, FIKRI, S.H., Guru Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, melaporkan dari Meunsah Bie, Meurah Dua, Pidie Jaya
PEKERJAAN yang baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan tangan. Itulah sepenggal isi hadis makhluk paling mulia di atas muka bumi ini, yakni Rasulullah Muhammad saw. Menelaah maksud dari kutipan di atas adalah agama Islam mengajarkan kita, para pemeluknya, agar tidak terbelenggu dari mencari rezeki.
Akan tetapi, harus berusaha, tanpa meminta-minta kepada orang lain. Menurut saya, ”Geutanyo ureung agam harus jeut buet jaroe yang geutanyoe galak [Kita lelaki harus bisa hard skill sesuai yang kita sukai].”
Nah, beranjak dari situlah saya berminat mendaftarkan diri menjadi peserta pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Banda Aceh atau sekarang berganti nama menjadi Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh. BPVP ini merupakan sebuah lembaga pemerintah melalui Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk membimbing masyarakat dalam hal bakat bekerja guna meningkatkan ’softskill’ dan ’hardskill’.
Suatu hari, tepatnya di sebuah warkop seputaran Kota Beureunuen, kawan seperjuangan menawarkan kepada saya terkait program Kemnaker melalui BPVP Banda Aceh. Setelah benar-benar yakin untuk mencoba, saya pun mengikuti rangkaian prosedur pelatihan, mulai dari pendaftaran secara online, kemudian ujian tulis dan wawancara, maka yang terakhir baru menunggu hasil kelulusan. Dua hari kemudian keluarlah hasil kelulusan yang mana terdapat nama saya di daftar pengumuman.
Pas waktu daftar ulang, di situlah munculnya waswas, karena di satu sisi saya harus meninggalkan dayah untuk beberapa waktu. Namun, di sisi lain saya juga ingin menambah ilmu di bidang yang ditawarkan itu. Akhirnya, setelah menelaah ulang saya pun jadi mendaftar ulang.
Keberadaan BPVP dengan ragam programnya ini bisa menampung minat-minat anak bangsa untuk Indonesia maju dalam hal mengurangi angka pengangguran. Saya salah seorang pemuda yang merasakan segi positifnya.
Setidaknya ada 12 jenis kejuruan yang tersedia di BPVP Banda Aceh, meliputi: Teknik Manufaktur, Refrigerasi (Pendinginan), Fashion Technology, Las (Welder), Teknologi Informasi dan Komunikasi, Otomotif, Bisnis dan Manajemen, Listrik, Elektronika, Bagunanan, Pariwisata dan Processing.
Dalam hal ini, saya lebih memilih kejuruan refrigerasi (teknik pendingin dan tata udara) jurusan teknik AC Residential I. Itulah jurusan yang saya ambil pada Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) Batch 1 Boarding Tahun 2023, beberapa waktu lalu.
Target dari pelatihan ini adalah peserta bisa merawat (maintenance) sistem pendingin (AC), baik itu dari bongkar pasang, cuci, servis, dan bisa menerapkan prinsip kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di tempat kerjanya masing-masing.
Waktu itu sekitar pukul 07.00 WIB saya berangkat dari kampung halaman Beureunuen menuju BPVP Banda Aceh ditemani kawan yang juga peserta pelatihan di unit yang sama. Sekitar pukul 11.15 kami tiba di lokasi tujuan yang disambut oleh panitia. Setelah registrasi kami diarahkan ke asrama untuk ditunjukkan kamar.
Nah, di BPVB ini ada dua sistem pembelajaran. Pertama, boarding (diasramakan). Program ini khusus bagi peserta yang berdomisili di luar Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh.
Kedua, nonboarding artinya tidak diasramakan alias datang pagi pulang sore.
Saya saat ini berdomisili di Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III Pidie Jaya. Tentunya dalam hal ini saya termasuk peserta yang diasramakan. Dalam satu unit terdiri atas 16 peserta dari berbagai latar belakang dan daerah, baik dari kalangan mahasiswa, pekerja, bahkan ada yang sudah berkeluarga. Rekan-rekan ini rela meninggalkan keluarganya untuk mengikuti pelatihan berharga ini.
Sebulan lebih saya diasramakan. BPVP ini bagaikan pesantren kedua bagi saya. Banyak pengalaman dan ilmu tambahan yang saya dapati, baik itu dari kawan-kawan peserta maupun instruktur dan pihak penyelenggara.
| Asyiknya Belajar Alam di Sungai Lhok Buloh |
|
|---|
| Kepedulian Bupati Syech Muharram terhadap Aksara Arab Melayu melalui Program ‘Beut Kitab bak Sikula’ |
|
|---|
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
| Mengoptimalkan Potensi Gedung Karantina Haji Pulau Rubiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/FIKRI-SH.jpg)