Sabtu, 18 April 2026

Jurnalisme Warga

Asyiknya Menjadi ’Santri’ di Lembaga BPVP Banda Aceh

Akan tetapi, harus berusaha, tanpa meminta-minta kepada orang lain. Menurut saya, ”Geutanyo ureung agam harus jeut buet jaroe yang geutanyoe galak [Ki

Editor: mufti
IST
Tgk, FIKRI, S.H., Guru Dayah Mahasiswa Ummul Ayman III, melaporkan dari Meunsah Bie, Meurah Dua, Pidie Jaya 

Kenapa saya katakan pesantren kedua? Ya, tentunya kegiatan ini sangat teroganisasi, layaknya di pesantren. Mulai dari pukul 05.10 sudah terdengar sirine untuk siap-siap shalat Subuh berjemaah di musala.

Kemudian pukul 06.00 sampai dengan 07.00 WIB senam pagi dikomandoi oleh pihak tentara. Pada pukul 07.00 sampai dengan 08.00 sarapan pagi dan bersi-bersih. Barulah kemudian pada pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB kami diberi bimbingan di workshop (ruangan) baik dari segi materi maupun praktik.

Pada malamnya, setelah shalat Isya, kami diperintahkan untuk standby di halaman asrama untuk apel kehadiran yang diawasi langsung pihak security setempat. Setelah apel, barulah kami diizinkan untuk istirahat.

Di antara hal yang membuat saya terharu, di unit saya ada dua peserta yang berasal dari Papua dan Pekanbaru. Ini menandakan bahwa ilmu itu sangatlah penting. Tidak ada alasan jarak jauhnya suatu tempat, bahkan hadis Nabi Muhammad berbunyi, ”Tuntutlah ilmu walupun ke negeri Cina.”

Nabi mengajarkan kepada kita sebagai umatnya untuk mencari ilmu meskipun ke tempat yang sangat jauh. Karena itu, seorang muslim tidak boleh bermalas-malasan dalam menuntut ilmu dan tidak boleh cepat merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya saat ini.

Di acara pembukaan pelatihan, kami dikumpulkan di sebuah hotel dengan pakaian hitam putih aala calon pegawai negeri sipil (CPNS).

”Dengan terus belajar dan meningkatkan kompetensi, tentunya akan meningkatkan peluang untuk sukses di masa depan,” ungkap Rahmat Faisal ST selaku Kepala BPVP Banda Aceh di sela-sela sambutannya.

Ia juga meminta kami untuk  belajar dengan sungguh-sungguh serta tekun, sehingga kami berkompeten di bidang yang kami pilih.

Bagi saya, jurusan Teknik AC Residential adalah sangatlah masih awam. Konon lagi saya yang notabene-nya adalah seorang santri. Meskipun sebelumnya saya pernah mengikuti pelatihan teknisi listrik di salah satu lembaga pendidikan swasta dan LSP, tetapi untuk urusan teknik AC residential ini tentunya awal-awal membuat saya kewalahan dalam mempelajarinya.

Namun, lagi-lagi saya teringat kata mutiara tentang sungguh-sungguh, ”man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkannya).”

Dari mulanya saya datang ke tempat pelatihan itu dalam keadaan nol alias tanpa sedikit pun ilmu yang saya punya, tapi alhamdulillah setelah keluar dari BPVP ini, saya benar-benar paham dan bisa mengimplementasikannya di dunia kerja saya. Terutama di dayah yang saat ini saya berdomisili. Tiap  terjadi kerusakan pada AC di dayah, saya sudah mampu mengatasinya.

Ini semua berkat keyakinan dan kesabaran serta usaha keras para instruktur dalam membimbing dan mengarahkan kami.

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved