Selasa, 7 April 2026

Features

Admi Sang Penyelamat Jejak Sejarah Singkil

Belakangan dengan sedikit rezeki ia membeli lemari kaca untuk menjadi tempat yang lebih layak menyimpan koleksi benda-benda kuno temuannya.

Editor: mufti
IST
PERLIHATKAN BENDA SEJARAH - Admiller Oey alias Admi memperlihatkan benda-benda sejarah peninggalan Singkil Lama di rumahnya, Sabtu (13/7/2024). 

LEMARI kaca di rumah Admiller Oey dipenuhi ribuan koleksi artefak. Baik bentuk fragmen (pecahan) maupun utuh. Artefak tersebut merupakan sisa peradaban Singkil Lama, yang diselamatkan Admi sapaan akrab Admiller Oey.

Benda-benda sejarah itu disimpan dalam lemari kaca di rumahnya di Jl M Thaher, Kampung Ujung, Kecamatan Singkil. Artefak yang dikumpulkan Admi, menjadi bukti bahwa Singkil atau lebih tepatnya Bandar Singkil memiliki tempat istimewa dalam lanskap sejarah nusantara.

Selain karena dua sosok ulama masyhur, Hamzah Fansury dan Abdurrauf As-Singkili yang kini diakui sebagai peletak dasar peradaban Melayu, keberadaan daerah pesisir Aceh yang pernah menjadi penghasil kapur barus terkemuka ini juga sering disebut dalam banyak catatan sejarah.

Hal itu mengindikasikan arti penting Bandar Singkil dalam peta perdagangan dunia tempo dulu. Diperkirakan apa yang kini menjadi kawasan rawa Singkil dulunya adalah pertapakan bandar besar yang oleh sejarawan diidentifikasi sebagai Singkil Lama.

Singkil Lama, berada di sebelah barat Singkil masa kini atau disebut New Singkil, dalam map bangsa penjelajah dunia pada masa lalu.

Bandar Singkil lama adalah kota pelabuhan di pesisir Barat-Selatan Aceh, pernah menjadi pelabuhan tersibuk pada masa kejayaannya yang diperkirakan berlangsung antara abad 15-17 Masehi. Berbagai komoditi rempah, mulai lada, cengkeh, damar, ombil, gaharu, dan kamper atau kapur barus diperdagangkan di sini. Komoditi rempah itu disuplai oleh penduduk dari hulu sungai Singkil yang terus menyambung hingga ke wilayah Alas.

Adalah Admi (50) sosok pria sederhana warga Ujung yang telah berjasa menyelamatkan dan melestarikan beragam artefak dan benda-benda kuno jejak sejarah keberadaan Singkil Lama. Admi sehari-hari bertugas sebagai seorang polisi hutan.

Dengan robin (perahu mesin tempel), ia rutin berpatroli memonitor kawasan rawa Singkil yang menjadi area tugasnya, menjaga dan mencegah kawasan konservasi itu dari perburuan dan penebangan liar oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab.

Berdasarkan pengakuannya, Admi keturunan dari seorang pedagang Tiongkok bernama Im Tjoen Oey (Im Cun Wi). Leluhurnya diperkirakan berasal dari Guangzhou, Cina, yang berdagang dan menetap di Bandar Singkil Lama, setelah menikahi seorang wanita pribumi pada abad 17.

Sosok Admi, menjadi bukti hidup betapa Bandar Singkil Lama, dulunya adalah pusat perdagangan yang terbuka dan ramai didatangi oleh berbagai bangsa di dunia. Hingga membuatnya berkembang menjadi bandar atau kota yang kosmopolit dan heterogen. Beragam bangsa dan etnis seperti Aceh, Cina, Melayu, Minang, Arab, bahkan Belanda pada periode terakhir, berdagang, berinteraksi dan bermukim di Bandar Singkil Lama.

Khusus untuk orang-orang Tiongkok, keberadaaan mereka dibuktikan dengan pemakaman Cina yang kini tergerus ke dalam sungai Kilangan akibat abrasi. Warga Singkil, khususnya warga Kayu Menang dan Kuala Baru tahu persis lokasi pemakaman Cina Singkil Lama yang telah amblas dalam sungai yang memisahkan daratan Singkil dengan Kuala Baru.

Kembali ke Admi, ia mengaku mulai mengumpulkan benda-benda peninggalan jejak sejarah Bandar Singkil Lama sejak tahun 2000, jadi kurang lebih sudah 24 tahun.

Lelaki yang mengenyam pendidikan terakhir di Chulalongkorn University Pathum Tani, Thailand, tergerak mencari, mengumpulkan, dan menjaga harta karun sejarah ini setelah prihatin melihat banyak artefak-artefak peninggalan Bandar Singkil Lama diperjual-belikan oleh oknum masyarakat sekitar.

Dulu ada meriam, pedang, dan beberapa benda sejarah lainnya yang diambil dari Singkil Lama dijual begitu saja oleh masyarakat pada pemburu barang antik. "Ironisnya, dijual dengan harga yang amat murah," terang Admi dengan ekspresi penuh sesal.

Melihat kenyataan itu pria kelahiran 20 Juni 1971 tergerak untuk menyelamatkan artefak dan semua benda-benda peninggalan Bandar Singkil Lama. Sambil menjalankan tugasnya sebagai polisi hutan, ia keluar-masuk menelusuri kawasan Rawa Singkil yang cukup luas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved