Citizen Reporter
Aceh, Kisahku: Dari Luka ke Pengabdian
Inilah kesaksian seorang ibu, penyintas, sekaligus relawan—tentang Aceh yang terluka, namun tak pernah kehilangan harapan.
Oleh: Asnidar, Relawan dari Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Bekasi
Aku menulis kisah ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan bagian dari hidupku. Aku pernah menjadi korban, kini aku menjadi relawan di mana pun bencana memanggil, seperti di Palu, Lombok, Majene - Sulawesi, bahkan juga di saat Pidie Jaya diguncang gempa.
Dan kali ini, panggilan itu datang saat aku memilih pulang berlibur di Aceh. Apa menjadi relawan menjadi takdir jalan hidupku? Inilah kisahku di bencana banjir bandang akhir tahun 2025.
23 November – Pulang untuk Liburan
Aku tiba di Banda Aceh bersama anak-anakku. Niatku sederhana: berlibur, menikmati kampung halaman, dan menghirup udara Aceh yang selalu membuatku rindu. Tapi siapa sangka, hujan deras yang turun sejak aku datang berubah menjadi bencana besar.
Ternyata, menurut BKMG hujan kali bukan hujan biasa. Curah hujan yang melanda Aceh, sudah di atas 100 mm/hari. Bahkan, dua hari kemudian hujan deras sempat mengguyur Aceh hingga 310,8 mm/hari—kategori hujan ekstrem di daerah tertentu.
Esoknya, 26–27 November (dini hari), banjir parah mulai menerjang Aceh. Media mengabarkan jalan-jalan terputus, rumah-rumah hancur, warga terisolir.
Suasana hatiku jadi tak menentu. Trauma lama menyeruak—aku teringat tsunami 2004, saat aku dan keluargaku menjadi korban. Aku melirik anak-anakku yang kini sudah dewasa, berdoa agar tragedi itu tidak kembali menimpa generasi mereka.
Hatiku makin gelisah ketika membaca kabar pada 27 November, Gubernur Aceh menetapkan status tanggap darurat setelah banjir meluas.
Akhir November – Panggilan Kemanusiaan
Beberapa hari kemudian, rekan-rekan dokter dari PDUI Bekasi menghubungiku. Mereka memintaku membantu koordinasi logistik dan kerjasama dengan relawan medis daerah. Aku pun mulai bergerak.
Baca juga: Rakyat Malaysia Murka, Tito Karnavian Disindir Gegara Sebut Bantuan untuk Aceh Dianggap Kecil
Awal Desember – Belanja Logistik di Banda Aceh
Aku ditugaskan membeli kebutuhan pokok: beras, minyak, obat-obatan, selimut dan lainnya berdasarkan ajuan kebutuhan yang aku sampaikan ke Tim PDUI Bekasi.
Tapi, Banda Aceh juga sedang tidak baik-baik saja. Bisa dibilang ikut terdampak bencana. Listrik lumpuh, begitu mati,’internet tidak stabil. Toko-toko banyak tutup. Harga-harga barang kebutuhan juga naik.
Meski sudah belanja barang kebutuhan, ternyata belum ada kepastian kapan bisa berangkat. Aku mencoba mencari relasi, tapi belum ada yang bisa segera bergerak.
Menyewa kendaraan pun sulit, karena medan ke daerah terdampak sangat berat. Awalnya, rencana menuju Pidie Jaya, bahkan sempat ada peluang lewat kapal, menuju Aceh Utara atau Aceh Tamiang, tapi akhirnya batal.
Semua ini menegaskan betapa tidak mudahnya mendistribusi logistik di tengah bencana.
8 Desember – Pertemuan dengan Kak Ana
Akhirnya, aku diarahkan ke Lanud. Siapa tahu bisa mendapat peluang untuk terbang. Niatku bulat,‘aku harus segera ke lokasi. Di jalan aku berdoa,’semoga bisa segera membantu warga korban bencana. Hatiku makin tidak enak jika terus berada di Banda Aceh.
Di Lanud, aku bertemu Kak Ana, istri Gubernur Aceh. Ini sosok yang sudah sejak awal terus bergerak di daerah bencana, bahkan sebelum diumumkan status darurat provinsi.
Tiba-tiba hatiku kuat tidak merasa sendiri. Rupanya perempuan Aceh memang tangguh, bahkan sudah sejak dahulu kala.’
Beliau berkata, “Kalau mau bawa tim dari Jakarta, jangan ke daerah yang sudah dapat bantuan seperti Pidie Jaya. Lebih baik ke Aceh Utara, Lhoksukon, atau Langkahan.” Aku menjawab mantap, “Lon dumpat jeut, Kak Ana.”
Baca juga: Soal Batas Usia Pengangkatan Perangkat Gampong, Wabup Syukri: Banyak Berpengalaman Terbentur Aturan
9 Desember – Perjalanan Udara ke Rembele
Pagi itu aku diminta datang jam 7 pagi. Tapi, tetap saja dengan tidak ada kepastian pesawat, hanya pesan: tunggu saja, bisa naik Cessna atau Hercules.
Alhamdulillah, aku dapat pesawat pertama, Cessna, berangkat jam 8 lewat.
Perjalanan 45 menit menembus awan hujan, mendarat di Bandara Rembele, Bener Meriah.
Sayangnya, sebagian logistik harus ditinggalkan karena kapasitas pesawat terbatas. Aku pasrah, tapi aku harus segera berangkat.
Logistik yang tinggal akan di bawa ke daerah lain. Tak masalah, toh sudah ada kepastian akan disampaikan kemana akan disistribusikan.
Hari Pertama di Rembele
Setibanya di Rembele, tim BNPB menyambut dan mengarahkan ke kantor bupati.
Di sana aku bertemu Sekda Riswandi. Ia menjelaskan bahwa tidak ada pengungsi di tenda karena suhu malam mencapai 16°C.
Semua diarahkan ke sekolah yang diliburkan atau balai desa. Kami relawan pun ikut menyesuaikan: tidur di RS Muyang Kute Redelong, beralaskan matras seadanya, dengan listrik dan sinyal yang mati hidup.
Di sana, aku berkolaborasi memberi pelayanan kesehatan dan sembako dengan IDI Bener Meriah, Dinkes Bener Meriah, Dokter USK, Dokter Kesdam, dan IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) Aceh.
Aku bertemu mereka di hari pertama sampa.Setelah makan siang di dapur umum, kami bergerak ke Desa Meriah Jaya Pantan Bayur. Dari Bener Meriah naik ambulans, tapi menjelang desa jalan longsor.
Ambulans tak bisa melanjutkan, kami berganti naik motor menembus jalur sempit dan licin. Perjalanan itu membuatku sadar: tidak ada jalan yang terlalu sulit jika tujuannya adalah kemanusiaan.
Sungguh aku sangat berterima kasih kepada mereka semua. Karena bersama mereka kehadiranku tidak sia-sia. “Semoga segenap ikhtiar, tenaga dan kebaikan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT,” bisik hatiku.
Hari Kedua – Kantor Bupati Jadi Rumah Bersama
Aku menyaksikan sesuatu yang membuatku terharu. Pak Bupati Tagore membiarkan warga lalu lalang di kantor bupati tanpa sekat. Siapa saja boleh masuk, siang maupun malam. Ada yang datang untuk ngecas HP, ada yang sekadar numpang wifi, ada yang mencari tempat aman untuk beristirahat.
Semua bebas, asalkan tetap menjaga kesopanan. Aku baru kali ini melihat kantor bupati sebebas itu: keluar masuk siapa saja boleh, tanpa protokol yang kaku. Di halaman belakang, dapur umum terus menyala, menyediakan makanan sederhana untuk siapa pun yang membutuhkan.
Baca juga: Fakta di Balik Isu Aceh Minta Bantuan PBB: Bantahan Mualem hingga Sikap Berseberangan DPR
Solidaritas di Dapur Umum
Di dapur umum, aku makan bersama warga, relawan, aparat, dan pejabat. Tidak ada sekat, semua setara.
Ada satu cerita haru yang tak mungkin pernah kulupakan. Dek Fatih, seorang anak kecil di posko Bale Redelong, telat bangun pagi dan datang ke dapur umum untuk makan.
Ia tidak bertanya apakah ada telur atau lauk lain. Ia hanya mengambil apa yang tersaji di depannya, tanpa mengeluh meski setiap hari menunya hanya mie dan nasi.
Sikapnya membuatku terdiam: di tengah keterbatasan, anak sekecil itu sudah mengajarkan arti menerima keadaan dengan lapang hati.
13–16 Desember – Menjangkau Desa Terpencil
Awalnya aku kabarkan ke teman di Banda Aceh bahwa aku mungkin akan ke Samar Kilang. Pasalnya, Samar Kilang dikabarkan masih terisolir.
Namun, akses ke sana hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki, dan itu berarti kami tidak bisa membawa apa pun untuk warga.
Membayangkan berjalan berjam-jam tanpa logistik membuatku sadar: niat baik saja tidak cukup—bantuan harus benar-benar sampai.
Akhirnya, pada 13 Desember, tim kami diarahkan ke Desa Jamur Atu dan Mesidah. Sampai hari itu, hanya tim kami yang berhasil masuk ke desa tersebut. Warga menyambut dengan penuh harapan, karena mereka benar-benar terisolir sejak bencana.
Namun, bantuan besar berupa 1 ton logistik via helikopter baru bisa dilaksanakan pada 16 Desember. Jadi selama beberapa hari, kehadiran kami menjadi satu-satunya jembatan antara desa dan dunia luar.
14 Desember – Ingatan Tsunami yang Kembali
Tanggal 14 Desember, aku mendapat kiriman video dari Ketua IDI Bener Meriah. Video itu menampilkan seorang ibu yang menggendong anaknya dengan ekspresi datar, seolah pasrah di tengah bencana.
Melihat video itu, aku langsung teringat hari kedua tsunami 2004. Saat itu aku berjalan tanpa alas kaki, masih memakai baju tidur seadanya, sambil menggendong anakku, Aca, di Simpang Lambaro.
Aku teringat lagi kisah mencari keluarga: ayah dan adikku. Satu per satu koran dan terpal yang menutupi mayat kubuka, berharap menemukan wajah yang kukenal. Tapi tidak ada, karena mayat-mayat itu sudah bengkak. Aca terus menangis di pelukanku.
Aku kemudian menumpang mobil orang, turun di dekat jembatan Beurawe. Kenangan itu begitu menyayat, dan kini, melihat video ibu yang menggendong anaknya dengan wajah pasrah, aku merasa kembali ke posisi itu.
Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini harus kembali melihat luka baru yang sedang menimpa Aceh.
Tanggal 15 Desember 2025 aku kembali terbang ke Banda Aceh, bukan untuk tidak kembali lagi melainkan untuk menata nafas agar kembali kuat.
Penutup
Aku datang ke Aceh hanya untuk liburan, tapi takdir membawaku kembali ke garis depan. Dari korban tsunami 2004, kini aku menjadi relawan yang hadir di tengah bencana 2025.
Aku belajar bahwa menjadi relawan bukan hanya soal niat, tetapi juga soal keberanian menghadapi realitas: logistik terbatas, akses sulit, suhu dingin, listrik dan sinyal mati hidup.
Namun, solidaritas warga, kepemimpinan yang humanis, dan semangat kebersamaan membuat semua tantangan bisa dihadapi. Aceh pernah bangkit dari tsunami, dan aku percaya, Aceh akan bangkit lagi dari banjir.
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
| 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Lulus Program Student Exchange ke Brunei Darussalam 2026 |
|
|---|
| Ikhtiar India Menghadirkan Hunian Layak bagi Masyarakat Miskin Kota |
|
|---|
| Menjalani Puasa Ramadhan di Musim Dingin Barat Irlandia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Asnidar-Relawan-dari-Persatuan-Dokter-Umum-Indonesia-PDUI-Bekasi.jpg)