Kamis, 7 Mei 2026

Citizen Reporter

Nanda Kumar dan Kanji Ramadhan: Harmoni Lintas Iman di Gampong Cureh Bireuen

Meski beragama Hindu, Pak Nanda telah puluhan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Tayang:
Editor: Agus Ramadhan
for serambinews
Nanda Kumar dan Kanji Ramadhan: Harmoni Lintas Iman di Gampong Cureh Bireuen 

Laporan Syedara Lon, Mallikatul Hanin

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN, Minggu (22 Februari 2026)  — Harmoni antarumat beragama di Aceh tidak selalu hadir dalam forum resmi atau seremoni besar.

Di Gampong Cureh, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, nilai toleransi justru tumbuh dari dapur sederhana dan sepanci kanji yang dimasak dengan penuh keikhlasan setiap bulan Ramadhan.

Sosok di balik tradisi itu adalah Nanda Kumar, seorang pedagang obat herbal dan pemilik Toko Herbal Kasturi.

Meski beragama Hindu, Pak Nanda telah puluhan tahun menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Aceh.

Pak Nanda Kumar telah menetap di Aceh selama kurang lebih 65 tahun.

Sebagian besar hidupnya dihabiskan di Bireuen, tempat ia membangun usaha dan menjalin hubungan sosial dengan masyarakat sekitar.

Selama sekitar 55 tahun, ia menekuni usaha perdagangan obat-obatan herbal tradisional yang dikenal luas oleh warga lintas generasi.

Namun, bukan hanya soal usaha yang membuat nama Pak Nanda dikenal. Setiap datangnya bulan suci Ramadhan, ia memiliki kebiasaan yang terus dijaga hingga kini.

Sejak pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB, Pak Nanda memasak kanji di tokonya.

Kanji tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat Muslim pada sore hri menjelang waktu berbuka puasa.

Kegiatan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi pemandangan yang akrab setiap Ramadhan.

Warga datang silih berganti, sebagian membawa wadah sendiri, sebagian lainnya sekadar singgah untuk menyapa. Tanpa memandang latar belakang, Pak Nanda melayani semua dengan ramah dan penuh ketulusan.

“Ini sudah lama saya lakukan. Ramadhan itu bulan yang baik untuk berbagi. Saya senang bisa ikut merasakan suasana Ramadhan bersama saudara-saudara Muslim,” ujar Pak Nanda saat ditemui di tokonya.

Tradisi berbagi ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari interaksi panjang Pak Nanda dengan masyarakat sekitar.

Selama puluhan tahun berdagang, ia dikenal ramah, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai saling menghormati.

Sikap itulah yang membuatnya diterima dengan baik di lingkungan yang mayoritas Muslim.

Di tengah berbagai narasi tentang perbedaan dan sekat identitas, kisah Pak Nanda Kumar menghadirkan wajah lain dari Aceh yaitu wajah yang ramah, inklusif, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Melalui tindakan sederhana namun konsisten, ia membuktikan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik hidup sehari-hari.

Di Gampong Cureh, harmoni itu tidak dibicarakan dengan kata-kata besar.

Ia hadir dalam kepulan uap kanji Ramadhan, dalam senyum orang-orang yang menanti waktu berbuka, dan dalam ketulusan seorang pedagang herbal yang memilih berbagi tanpa memandang perbedaan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved