Rabu, 22 April 2026

Citizen Reporter

Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura

Pelatihan berlangsung 6–10 April. Pesertanya dari kawasan Asia, Timur Tengah, Eropa Timur, Afrika, hingga Kepulauan Pasifik.

|
Editor: mufti
for serambinews/IST
INDA AVRINI, S.E., M.Si., M.P.A., Widyaiswara Ahli Madya BPSDM Aceh, melaporkan dari Singapura 

INDA AVRINI, S.E., M.Si., M.P.A., Widyaiswara Ahli Madya BPSDM Aceh, melaporkan dari Singapura

Awal April 2026, saya mewakili Indonesia dalam Pelatihan ‘Public Administration and Governance’ yang diselenggarakan Kementerian Luar Negeri bersama Civil Service College (CSC) Singapura, bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri RI.

Pelatihan berlangsung 6–10 April. Pesertanya dari kawasan Asia, Timur Tengah, Eropa Timur, Afrika, hingga Kepulauan Pasifik. Suasananya seperti “mini PBB”, meski tanpa ketegangan sidang diplomatik.

Negara tanpa sumber daya

Kembali menjejakkan kaki ke Singapura setelah sekian lama, kesan yang muncul tetap sama:

modern, rapi, dan terasa hidup. Gedung-gedung futuristik berdiri berdampingan dengan ruang hijau yang terawat. Jalanan bersih dan hampir di setiap sudut tampak perencanaan yang matang. Sulit untuk tidak bertanya: bagaimana negara kecil seluas 728 km⊃2; ini bisa berkembang sepesat ini? Negara dengan PDB per kapita tinggi di dunia dan sistem pemerintahan yang sering dijadikan rujukan global.

Dalam salah satu sesi, fasilitator Mr Luke Tay mengajukan pertanyaan sederhana, “Apa yang membuat kami bisa seperti ini?”

Kami menunggu jawaban yang mungkin terdengar teknis atau penuh istilah akademik. Ternyata tidak. Jawabannya justru sangat sederhana, “Kami sadar kami tidak punya apa-apa. Tidak ada sumber daya alam, tanah pun terbatas.”

Kesadaran itulah yang menjadi titik awal. Keterbatasan justru memaksa Singapura untuk serius mengelola satu-satunya aset yang ada: manusia.

Ia juga menyinggung peran kepemimpinan yang berkomitmen dan visioner.

Disiplin dan konsistensi

Ada kebijakan unik yang membuat peserta tertegun. Kelihatan sepele, tetapi memiliki dampak sosial yang besar. Salah satunya adalah larangan penjualan permen karet sejak 1992, akibat vandalisme pada fasilitas publik. Sampah permen karet tertinggal di pintu lift, pintu MRT, kompleks perumahan, yang membutuhkan biaya dan tenaga untuk pembersihannya. Kebijakan ini bukan hanya soal aturan, tetapi juga pembentukan kesadaran kolektif bahwa ruang publik adalah tanggung jawab bersama.

Di bidang pendidikan, Singapura melakukan pendekatan ‘head, heart, and hand’ menekankan pengembangan intelektual, karakter, dan keterampilan secara seimbang.

Dalam studi PISA oleh OECD, Singapura menempati peringkat pertama dunia dalam literasi matematika dan sains. Ini menegaskan kekuatan sistem pendidikannya yang berorientasi pada kemampuan berpikir dan pemecahan masalah. Hasilnya juga tercermin dalam kualitas SDM dengan Human Development Index yang tinggi dan posisi universitas yang konsisten di peringkat global.

Hukum dan efisiensi

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved