Jumat, 1 Mei 2026

Salam

Ibu Hamil Ditandu Demi Akses Kesehatan

Di tengah derasnya arus Sungai Pintu Rime, warga Pining dan sekitarnya, Gayo Lues, kembali mempertontonkan sebuah potret

Tayang:
Editor: mufti
IST
ILUSTRI -- FOTO DIAMBIL BEBERAPA TAHUN YANG LALU -- IBU HAMIL DIRUJUK KE RS - Ibu hamil melewati jembatan gantung menggunakan grek sorong untuk dirujuk ke RSUD Datu Beru Takengon, Minggu (27/10/2024). 

Di tengah derasnya arus Sungai Pintu Rime, warga Pining dan sekitarnya, Gayo Lues, kembali mempertontonkan sebuah potret kegetiran yang mestinya tidak lagi terjadi di negeri ini. Seorang ibu hamil harus ditandu menyeberangi sungai demi mendapatkan perawatan di RSUD Muhammad Ali Kasim. Peristiwa yang terjadi Jumat (3/4/2026) itu bukan sekadar kisah dramatis, melainkan alarm keras tentang rapuhnya akses pelayanan kesehatan di daerah pedalaman.

Sejak jembatan penghubung putus dihantam banjir akhir November 2025, warga tidak punya pilihan lain selain menjadikan sungai sebagai jalur darurat. Empat bulan berlalu, jembatan itu belum juga diperbaiki, meskipun pejabat datang silih berganti. Akibatnya, setiap kali ada pasien yang harus dirujuk, masyarakat bergotong-royong menandu, bertaruh nyawa melawan derasnya arus. “Kami hanya bisa berdoa semoga semuanya selamat,” ungkap Sasmita, petugas kesehatan Puskesmas Pining.

Kondisi ini jelas tidak bisa dibiarkan berlama-lama. Sungai bukanlah jalan, apalagi untuk membawa pasien dalam kondisi darurat. Apa yang terjadi jika arus sungai tiba-tiba meluap dan itu kerap terjadi di kawasan tersebut? Apa yang terjadi jika pasien kritis kehilangan waktu emas untuk ditangani? Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya menggugah nurani pemerintah. Karena ini bukan sekadar soal infrastruktur rusak, melainkan soal keselamatan manusia, soal hak dasar warga untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Negara hadir untuk menjamin keselamatan rakyatnya. Maka, pembangunan kembali jembatan Pintu Rime harus ditempatkan sebagai prioritas. Tidak ada alasan untuk menunda, apalagi mengabaikan. Setiap hari yang berlalu tanpa jembatan adalah hari di mana warga dipaksa berjudi dengan nyawa. Pemerintah daerah dan pusat mesti segera berkoordinasi, memastikan anggaran tersedia, dan pekerjaan dimulai.

Jembatan itu bukan hanya sekadar beton dan besi. Ia adalah simbol penghubung antara harapan dan kenyataan, antara hidup dan mati. Ia adalah jalur yang memastikan seorang ibu hamil bisa melahirkan dengan selamat, seorang anak bisa mendapat perawatan tepat waktu, dan seorang lansia bisa mengakses obat tanpa harus menantang arus sungai.

Serambi mengingatkan: jangan tunggu korban jiwa baru bergerak. Jangan biarkan warga Gayo Lues terus menanggung beban yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara. Pembangunan jembatan Pintu Rime adalah soal kemanusiaan, soal hak dasar, soal martabat bangsa. Pemerintah harus segera menepati janji kehadiran negara di pelosok, agar warga tidak lagi bertaruh nyawa hanya untuk sekadar menyeberang menuju pelayanan kesehatan. Karena jembatan yang runtuh bukan hanya soal infrastruktur yang hilang, tetapi tentang nyawa yang dipertaruhkan.(*)

POJOK

Ratusan murid di Tamiang masih belajar di tenda

Tapi, ada yang bilang hampir 100 persen pemulihannya

Warga Pidie Jaya bersemangat gotong royong membersihkan kawasan terdampak banjir

Pasti mereka tak meniru semangat kerja sama bupati dan wakil bupatinya?

Wali Nanggroe minta penanganan menyeluruh Aceh pascabencana

Kata-kata mudah diucapkan, kesulitan dalam implementasi

 

 

 

 

 

 

    

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved