Salam
Selamat Jalan Nyak Sandang!
Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga dan masyarakat Aceh, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Kabar duka itu datang dari ujung barat Indonesia, dari sebuah kampung sederhana yang melahirkan sosok luar biasa. Tengku Nyak Sandang telah berpulang di usia seabad, meninggalkan jejak pengabdian yang tak lekang oleh waktu. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan bagi keluarga dan masyarakat Aceh, tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia.
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang kerap melupakan sejarah, sosok Nyak Sandang hadir sebagai pengingat bahwa kemerdekaan dan kedaulatan negeri ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari pengorbanan, keikhlasan, dan cinta tanah air yang begitu dalam.
Dengan kerelaan hati, ia mengorbankan harta yang dimilikinya demi membantu negara muda ini berdiri tegak, bahkan hingga berkontribusi dalam pembelian pesawat pertama Republik Indonesia.
Apa yang dilakukan Nyak Sandang bukanlah perkara kecil. Di masa ketika bangsa ini masih berjuang untuk bertahan, ketika segala sesuatu serba terbatas, ia memilih memberi, bukan menahan. Ia memilih berkorban, bukan berpaling. Tindakan itu bukan hanya mencerminkan keberanian, tetapi juga ketulusan yang hari ini semakin langka.
Karena itu, sudah sepantasnya kita menyebutnya sebagai pahlawan yang sesungguhnya. Bukan karena gelar atau tanda jasa, melainkan karena nilai-nilai yang ia wariskan: keikhlasan, kepedulian, dan rasa memiliki terhadap negeri ini. Ia tidak sekadar hidup sebagai warga negara, tetapi menjadi bagian dari denyut nadi perjuangan bangsa.
Kepergiannya menjadi refleksi bagi kita semua. Sudahkah kita menjaga semangat yang pernah ia nyalakan? Sudahkah kita berkontribusi, sekecil apa pun, untuk kemajuan negeri ini? Ataukah kita justru larut dalam kepentingan pribadi dan melupakan arti kebersamaan?
Sebelumnya diberitakan, tokoh bersejarah sekaligus penyumbang pesawat pertama untuk Indonesia, Tengku Nyak Sandang bin Ibrahim, meninggal dunia pada usia 100 tahun, Selasa (7/4/2026). Nyak Sandang mengembuskan napas terakhir pada pukul 12.20 WIB di kediamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya.
Almarhum dikenal luas sebagai sosok dermawan yang memiliki kontribusi besar dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam penggalangan dana untuk pembelian pesawat pertama Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Kepergian Nyak Sandang meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat. Sejak kabar wafatnya tersebar, sejumlah warga mulai berdatangan ke kediaman almarhum untuk memberikan penghormatan terakhir.
Jenazah almarhum Nyak Sandang kemudian dishalatkan di masjid yang merupakan hadiah dari Pemerintah Indonesia untuk dirinya. Masjid tersebut berada di desa kelahirannya, yakni Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.
Untuk itu, sekali lagi, kita menyampaikan “Selamat Jalan Nyak Sandang”. Jasamu akan selalu dikenang. Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa cinta kepada tanah air bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata!
POJOK
Trump maki-maki jurnalis yang singgung kejahatan perang
Itu tandanya kumat Trump belum sembuh juga, kan?
Usai Iran tolak gencatan senjata, warga Israel ramai-ramai tinggalkan kota
Bagus, nanti tinggal Netanyahu sendiri sambil menunggu ajal..
Dampak harga avtur melonjak, Pemerintah izinkan harga tiket naik
Hehehe, meuseupit laju-laju tanyoe..
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jejak-Pengabdian-Nyak-Sandang-Tokoh-Aceh-Penyumbang-Dana-yang-Pernah-Dianugerahi-Bintang-Jasa.jpg)