Breaking News
Senin, 13 April 2026

Salam

Kepercayaan, Kunci Negosiasi

Negosiasi adalah seni mencari titik temu di tengah perbedaan kepentingan. Namun, sejarah panjang hubungan Amerika Serikat dan Iran

Editor: mufti
Chat GPT
PERUNDINGAN - Ilustrasi perundingan AS dan Iran di Pakistan. 

Negosiasi adalah seni mencari titik temu di tengah perbedaan kepentingan. Namun, sejarah panjang hubungan Amerika Serikat dan Iran menunjukkan bahwa bukan sekadar kepentingan yang menjadi penghalang, melainkan ketidakpercayaan mendalam yang terus membayangi setiap meja perundingan. Putaran pembicaraan di Islamabad, Pakistan, baru-baru ini kembali menegaskan hal itu. Meskipun 80 persen isu utama dikabarkan telah menemukan titik temu, kebuntuan tetap terjadi pada poin-poin krusial, terutama terkait program nuklir Iran.

Kepercayaan adalah fondasi yang rapuh dalam hubungan kedua negara. Dari perspektif Iran, pelanggaran janji berulang kali oleh Washington—mulai dari kesepakatan nuklir yang ditinggalkan hingga perang agresi yang menewaskan ribuan warga sipil—membuat diplomasi terasa seperti jebakan. Tidak mengherankan jika diplomat Iran menegaskan bahwa mereka memasuki pembicaraan dengan “ketidakpercayaan penuh.” Sementara itu, dari sisi Amerika, tuntutan agar Iran menghentikan pengembangan senjata nuklir dianggap sebagai syarat mutlak untuk perdamaian.

Namun, bagaimana mungkin kepercayaan tumbuh jika luka perang masih segar? Serangan yang menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk ratusan anak sekolah, meninggalkan trauma kolektif yang tidak bisa dihapus dengan sekadar duduk di meja negosiasi. Iran merespons dengan serangan balasan, menguasai Selat Hormuz, dan menunjukkan bahwa mereka bukan pihak yang mudah ditekan. Langkah ini bukan hanya memperlihatkan kapasitas militer, tetapi juga memperkuat dukungan domestik dan simpati internasional terhadap posisi defensif Teheran.

Di sisi lain, Pakistan sebagai mediator mencoba menjembatani jurang ketidakpercayaan itu. Perdana Menteri Shehbaz Sharif menegaskan pentingnya membangun kerangka kerja yang realistis. Optimisme hati-hati muncul, tetapi tetap rapuh. Publik Pakistan sendiri menunjukkan solidaritas terhadap Iran, menilai agresi AS–Israel sebagai ketidakadilan. Dukungan moral semacam ini memberi energi tambahan bagi delegasi Iran, namun sekaligus menambah tekanan bagi Amerika untuk membuktikan bahwa mereka tidak sekadar menjadi perpanjangan tangan kepentingan Israel.

Negosiasi yang berlangsung di Islamabad memperlihatkan paradoks diplomasi: di satu sisi ada peluang besar untuk mengakhiri konflik, di sisi lain ada jurang ketidakpercayaan yang bisa menggagalkan segalanya. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa tanpa komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, perdamaian tidak mungkin tercapai. Iran, sebaliknya, menuntut penghentian permanen serangan, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerugian perang. Dua posisi ini mencerminkan kebutuhan akan jaminan nyata, bukan sekadar retorika.

Pelajaran penting dari perundingan ini adalah bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun dalam semalam. Ia membutuhkan konsistensi, penghormatan terhadap komitmen, dan kesediaan untuk melihat lawan sebagai mitra, bukan musuh abadi. Tanpa itu, setiap negosiasi hanya akan menjadi panggung retorika, bukan jalan menuju perdamaian.

Dalam konteks global yang semakin rapuh, dunia menunggu apakah Washington dan Teheran mampu melampaui sejarah kelam mereka. Jika kepercayaan bisa ditumbuhkan, maka perdamaian bukan sekadar kemungkinan, melainkan keniscayaan. Tetapi jika ketidakpercayaan terus dibiarkan, maka perang berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.(*)

POJOK

Siswa di Sawang Aceh Utara naik perahu karet ke sekolah

Rencana bangun jembatan pun bagai janji karet 

Cak Imin yakin Prabowo menang lagi jika maju Pilpres 2029

Profesi politisi kadang mirip-mirip dukun, he..he..

Alfian: WFH ASN berpotensi jadi libur panjang terselubung

Yang libur terang-terangan pun tak dijamin terima sanksi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved