Breaking News

Sejarah Aceh

Kesaksian Kelam Para Warga Aceh di Masa Darurat Militer 20 Tahun yang Lalu: Dihabisi Secara Sadis!

Banyak dari warga mengungkapkan kekejaman aparat militer saat melakukan operasi militer di Aceh: penghilangan paksa, pelecehan, pembunuhan sadis.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
AFP FOTO/ HOTLI SIMANJUNTAK
Dua wanita Aceh berpapasan dengan tentara Indonesia yang sedang berpatroli di kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) di Banda Aceh, 18 November 2003. Perang terakhir Indonesia dengan pemberontak separatis Aceh, GAM akan memasuki bulan ketujuh 20 November, dengan hampir 1.600 orang tewas termasuk ratusan warga sipil dan tidak ada habisnya pertumpahan darah di depan mata. 

Kesaksian Kelam Para Warga Aceh di Masa Darurat Militer 20 Tahun yang Lalu: Dihabisi Secara Sadis!

SERAMBINEWS.COM – “Kehidupan tidak memiliki nilai di sana (Aceh). Jika saya menabrak ayam dengan mobil saya, saya harus membayar. Tapi nyawa seseorang siapa yang membayar untuk itu?,” kata seorang pria Aceh berusia 18 tahun.

Pernyataan itu dia sampaikan kepada Human Rights Watch ketika diwawancara pada 2003, saat dia melarikan diri dari Aceh.

Salah satu peristiwa yang paling dicatat dan diingat oleh masyarakat Aceh, adalah pemberlakuan Operasi Militer di Aceh 20 tahun silam tepatnya pada 19 Mei 2003.

Banyak dari warga mengungkapkan kekejaman aparat militer saat melakukan operasi militer di Aceh.

Para aparat melakukan kekerasan fisik, penghilangan paksa, pelecehan, pembunuhan yang dilakukan secara sadis.

Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpatroli di Teupin Raya, Bireuen, Aceh pada 25 Mei 2003. Serangkaian ledakan mengguncang Lhokseumawe di Aceh Utara, saat jumlah korban meninggal terus meningkat pada minggu pertama operasi besar-besaran pemerintah untuk menumpas GAM.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) berpatroli di Teupin Raya, Bireuen, Aceh pada 25 Mei 2003. Serangkaian ledakan mengguncang Lhokseumawe di Aceh Utara, saat jumlah korban meninggal terus meningkat pada minggu pertama operasi besar-besaran pemerintah untuk menumpas GAM. (SOPHIA ANANDA / AFP)

Serambinews.com mengutip sejumlah cerita warga Aceh yang berhasil kabur saat operasi militer diberlakukan di Aceh.

Cerita ini dikutip Serambinews.com dari laman Human Rights Watch.

Seorang pria Aceh dari Lhokseumawe, menceritakan sebuah kejadian di bulan Mei 2023:

“Di awal darurat militer, di bulan Mei, itu benar-benar dini hari. Tentara ada di desa kami [nama dirahasiakan],

Mereka menyeret seorang pria melewati jalan. Tiga tentara. Mereka bertanya kepada semua orang, "Apakah Anda kenal pria ini?" Jika Anda mengatakan Anda tidak mengenalnya, Anda dipukul. 

Mereka bertanya kepada saya, "Apakah Anda kenal pria ini?" Saya bilang iya." Mereka memeriksa dengan orang-orang siapa pria ini, apa yang dia lakukan? 

Mereka memeriksa namanya dengan orang-orang. Namanya Jamal. Dia masih muda, berusia20 tahun. 

Awalnya saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lain bergabung.

Saya melihat salah satu tentara memborgol pergelangan kaki pria ini, dan kemudian tentara lain memegang kakinya dan mengayunkannya ke pohon. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved