Jumat, 24 April 2026

Brain Rot, Dampak Kebiasaan Konsumsi Konten Digital Berlebihan pada Otak Anak dan Remaja

Penggunaan media sosial dan layar secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan fokus, memori, kesehatan mental, hingga kualitas tidur anak

Editor: Mursal Ismail
Chat GPT
ILUSTRASI KECANDUAN PONSEL - Foto ilustrasi anak kecanduan main ponsel yang dibuat mengguanakan kecerdasan buatan atau AI Chat GPT, Kamis (12/3/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Istilah brain rot menggambarkan dampak kebiasaan terlalu lama mengonsumsi konten digital cepat dan dangkal yang membuat otak sulit mempertahankan fokus.
  • Penelitian menunjukkan penggunaan layar berlebihan dapat menurunkan kemampuan kognitif, meningkatkan kecemasan, serta berkaitan dengan gejala ADHD pada anak.
  • Dampak tersebut dapat dikurangi dengan membatasi waktu penggunaan gawai, menghindari layar sebelum tidur, dan memperbanyak aktivitas yang melatih konsentrasi, seperti membaca buku.

SERAMBINEWS.COM - Penggunaan media sosial dan layar secara berlebihan dapat memengaruhi kemampuan fokus, memori, kesehatan mental, hingga kualitas tidur anak dan remaja. 

Meski demikian, dampak tersebut masih dapat dikurangi dengan membangun kebiasaan digital yang lebih sehat. 

Misalnya membatasi waktu layar, terutama sebelum tidur, serta mendorong aktivitas yang melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir mendalam.

Penggunaan media sosial yang semakin intens di kalangan anak dan remaja menimbulkan kekhawatiran baru terkait dampaknya terhadap kesehatan mental dan kemampuan kognitif.

Kekhawatiran ini juga menjadi salah satu alasan pemerintah berencana membatasi akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun, untuk melindungi perkembangan mereka.

Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul istilah brain rot yang makin sering digunakan untuk menggambarkan dampak kebiasaan terlalu lama mengonsumsi konten digital.

Baca juga: VIDEO - Penggerebekan Terduga Selingkuhan Istri, Suami Datangi Tempat Kerja Tukang Fotokopi

Istilah ini merujuk pada kondisi ketika seseorang terlalu sering terpapar konten online yang cepat, dangkal, dan terus berganti sehingga membuat otak sulit mempertahankan fokus dalam waktu lama.

Profesor psikologi dan neurosains, Mitch Prinstein, mengatakan bahwa penggunaan layar dalam waktu lama dapat memengaruhi bagian otak yang berperan penting dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan.

“Kita sangat membutuhkannya untuk hal-hal seperti pengendalian diri atau agar tidak terlalu impulsif,” kata Prinstein, dikutip dari The Washington Post, Kamis (12/3/2026).

Dampak Brain Rot pada Fokus dan Memori 

Kebiasaan mengonsumsi konten digital secara terus-menerus dapat membuat perhatian seseorang menjadi mudah terpecah.

Peneliti dari MIT, Nataliya Kos’myna, menjelaskan bahwa otak yang terbiasa dengan konten pendek akan kesulitan mempertahankan fokus pada aktivitas yang membutuhkan perhatian lebih lama.

Baca juga: Terungkap Alasan Rismon Sianipar Ajukan Restorative Justice, Kini Temui Jokowi di Solo

Misalnya, seseorang bisa merasa tidak nyaman saat harus menonton video berdurasi panjang atau membaca tulisan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Selain menurunkan kemampuan fokus, penelitian juga menemukan bahwa penggunaan media sosial secara intens berkaitan dengan penurunan kemampuan kognitif serta meningkatnya kecemasan.

Studi lain yang melibatkan lebih dari 7.000 anak juga menemukan bahwa penggunaan layar yang tinggi berkaitan dengan penurunan ketebalan korteks otak pada beberapa area tertentu.

Korteks merupakan bagian luar otak yang berperan penting dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi, memori, serta pengambilan keputusan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved