Opini
Masa Depan Pelaku dan Korban Bullying
Bullying verbal seperti kata-kata kasar, ejekan, penghinaan, pengabaian dan cerita yang dibuat untuk menyakiti perasaan orang lain. Cyber Bullying sep
Hetti Zuliani PhD, Dosen Bimbingan Konseling USK
DEWASA ini semakin banyak terjadi bullying dalam masyarakat kita yang didominasi pada kalangan remaja dan lembaga pendidikan. Kondisi ini perlu ada perhatian khusus bagi masyarakat, lembaga penyelenggara pendidikan maupun pemerintahan, mengingat dampak jangka panjang terhadap korban begitu besar.Bullying adalah sebuah tindakan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu individu atau sekelompok individu untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain yang merasa lemah atau tidak berdaya. Bullying dikategorikan sebagai perilaku antisosial atau misconduct behaviour. Terdapat beberapa bentuk bullying yang sering kita temui yaitu bullying fisik seperti pukulan, tendangan, atau bahkan pengeroyokan.
Bullying verbal seperti kata-kata kasar, ejekan, penghinaan, pengabaian dan cerita yang dibuat untuk menyakiti perasaan orang lain. Cyber Bullying seperti penggunaan medsos yang berisi konten-konten merendahkan, mengejek, dan menjatuhkan mental orang lain. Berbagai bentuk ini sudah sering kita dapatkan dalam keseharian kita, perihal ini dapat memberikan dampak yang serius pada kesejahteraan individu yang terlibat.
Pelaku bullying akan menghadapi konsekuensi seperti terganggunya proses akademik, penurunan hubungan sosial, serta berisiko terlibat dalam perilaku kriminal di masa depan, kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat serta dapat mengalami gangguan perilaku dan kesehatan mental.
Sedangkan bagi korban dapat mengalami stres yang berkepanjangan, depresi, kecemasan, atau masalah kesehatan mental lainnya. Perkembangan sosial dan emosional terganggu yang menyebabkan korban menyendiri atau menutup dirinya dari lingkungan sosial, pendiam, kehilangan rasa percaya diri, kehilangan kepercayaan terhadap orang lain, serta perasaan tidak aman dialami oleh korban.
Tidak hanya itu korban juga menunjukkan penurunan akademik seperti menurunnya konsentrasi belajar, tidak memiliki minat untuk mengembangkan diri dan masa depannya. Beberapa korban bullying menunjukkan perubahan emosi yang signifikan dalam kesehariannya seperti menunjukkan kemarahan yang besar dan mudah sekali terpancing emosi sekalipun dengan hal-hal yang kecil.
Dalam beberapa kasus yang ekstrem dapat juga menyebabkan trauma jangka panjang (PTSD) dan bahkan berujung pada pemikiran bunuh diri. Melihat begitu besar dampak jangka panjang yang diakibatkan oleh bullying perlu kiranya kita menelaah lebih dalam tentang penyebab terjadinya bullying di kalangan remaja sehingga dapat sama-sama kita bangun upaya pencegahan dan mengantisipasi masalah ini tidak banyak terjadi.
Faktor pendorong
Ada beberapa faktor pendorong terbentuknya bullying di kalangan remaja saat ini yaitu lingkungan keluarga yang tidak stabil. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya disfungsi keluarga dimana orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikologis anak selama masa perkembangannya, anak yang tidak mendapatkan pemenuhan cinta, kasih sayang, perhatian, serta dukungan dalam keluarga memiliki kecenderungan untuk berperilaku agresif.
Apalagi bila anak terpapar kekerasan dalam rumah tangga baik secara verbal maupun nonverbal berisiko mengalami kendala pada kestabilan emosinya. Perihal ini menjadi sumber terjadinya perilaku bullying pada usia remaja.
Selain dari itu status ekonomi dan etnisitas dapat menjadi faktor perlakuan ketidakadilan sosial bagi beberapa remaja. Sehingga mereka akan merasa terpinggirkan atau disalahpahami dalam pergaulannya dapat berisiko menjadi pelaku atau korban bullying. Kondisi lainnya yang dapat menjadi resiko adalah tekanan dari kelompok teman sebaya untuk menjadi populer dan menonjol dalam kelompoknya untuk menunjukkan kekuatan dan dominasi agar mendapat pengakuan.
Hal tersebut dapat memicu terbentuknya dorongan perilaku bullying. Apalagi bila remaja tidak memiliki pemahaman empati yang baik. Kurangnya kemampuan berempati dan toleransi terhadap orang lain menjadi faktor lainnya yang memicu terjadinya perilaku bullying. Ketidakmampuan untuk memahami perasaan dan perspektif orang lain dapat mengarah pada terjadinya perilaku merendahkan dan menyakiti orang lain.
Terkait cara penanganan yang kerap dipilih juga memberi dampak terhadap pelaku yaitu semakin menguatnya perilaku bullying pada pelaku dan semakin parah kesakitan psikologis yang dialami oleh korban. Seperti upaya mendamaikan dan memberikan kompensasi bagi korban.
Langkah ini kurang efektif karena bagi pelaku tidak dapat memberikan efek jera yang kuat dan bagi korban akan hadir perasaan-perasaan diabaikan dan diremehkan atas kesakitan-kesakitan yang dia rasakan selama dia di-bully. Sehingga perlu kiranya kita semua mempertimbangkan kembali dalam memutuskan upaya penanganan yang dipilihkan.
Upaya pencegahan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Hetti-Zuliani-PhD.jpg)