Selasa, 7 April 2026

Opini

Kunci Sukses Aceh Kolaborasi Kebersamaan dan Keikhlasan

Akibat jasa tak dimaknakan dengan baik dan benar, maka terjadilah perlawanan rakyat yang berwujud  pemberontakan yaitu dari Darul Islam 1953 hingga Ge

Editor: mufti
ist
Dr Munawar A Djalil MA, Pegiat Dakwah dan Kadis Pendidikan Dayah Aceh 

Dr Munawar A Djalil MA, Pegiat Dakwah dan Kadis Pendidikan Dayah Aceh

DALAM catatan sejarah, Aceh terkenal sebagai sebuah daerah yang sarat dengan perjuangan dan pemberontakan. Upaya rakyat Aceh dengan kebersamaannya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan sumbangan dua pesawat termasuk Suara Radio Rimba Raya sebagai bagian dari perjuangan tersebut. Hakikatnya perjuangan ini merupakan ikhtiar Aceh agar Republik ini tetap ada dalam peta dunia.Namun dalam perjalanan berikutnya jasa perjuangan Aceh seakan tak punya makna dan tak dihargai Pemerintah Pusat, dari janji syariat Islam tak ditunaikan sampai keinginan meleburkan Aceh ke dalam wilayah Sumatera Utara hingga masa Orba kemudian keadilan ekonomi pun tak dirasakan rakyat.

Akibat jasa tak dimaknakan dengan baik dan benar, maka terjadilah perlawanan rakyat yang berwujud  pemberontakan yaitu dari Darul Islam 1953 hingga Gerakan Aceh Merdeka. Pemberontakan terakhir yang memakan waktu lebih 30 tahun selesai dengan perjanjian damai 2005. Sejak itu hingga kini, alhamdulillah nikmat damai tersebut telah sama kita rasakan.

Prolog di atas sebagai review penting bagi kita bahwa damai adalah gerbang utama membangun Aceh yang lebih baik ke depan dan kuncinya adalah kolaborasi, kebersamaan dan keikhlasan yang terpenting komitmen bersama seluruh rakyat lintas sektor untuk mendukung Pemerintah Aceh di bawah Pj Gubernur Bustami Hamzah.

Sukses Aceh

Ketika apel perdana Pemerintah Aceh pasca Idulfitri yang dipimpin langsung oleh Pj Gubernur Aceh Bustami Hamzah pada 16 April 2024  lalu, Beliau dalam amanatnya sempat berulang kali menyebutkan kata kolaborasi dan kebersamaan serta keikhlasan. Artinya Pj Gubernur Aceh amat menekankan akan pentingnya membangun Aceh secara bersama-sama, melibatkan semua pihak dengan penuh kebersamaan dan keikhlasan.

Karena sebagaimana diketahui bahwa Pemerintahan Aceh pernah mengalami masa sulit dimana perseteruan internal sempat terjadi berkali-kali  antara eksekutif dan legislatif terkait dengan pengesahan APBA. Saat itu berbagai upaya dilakukan  dari cara eksklusif hingga pola inklusif yaitu dengan melakukan upaya “sowan” namun pola-pola itupun akhirnya juga tak memberi solusi dan jalan keluar.

Alhamdulillah ala kulli hal, permasalahan itu berhasil dicairkan tak lama setelah pelantikan Pj Gubernur Aceh Bustami Hamzah. Beliau dengan tangan dingin dan kebijaksanaannya dengan prinsip kebersamaan dan keikhlasan berhasil merangkul semua pihak dengan pola mengumpulkan yang berserak atau “peusapat yang meusipruek” dan akhirnya APBA 2024 berhasil ditandatangani, tentu untuk satu tujuan utama yaitu Aceh yang lebih baik.

Penulis menilai secara sosial-politik kemesraan dan kebersamaan antara seluruh stakeholders Pemerintah dan lintas sektor masyarakat  harus terus dijaga karena hampir dapat dipastikan akan menjadi barometer kepemimpinan Aceh dalam rangka menyukseskan beberapa agenda besar antaranya pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional dan Pilkada 2024.

Islam dan norma adat

Pada dataran ini perlu juga diketahui bahwa merawat dan menjaga jauh lebih sulit daripada perjuangan mendapatkanya, kenapa tidak,  karena di dalamnya itu dipastikan akan ada dinamika dan liku-liku. Maka tidak ada cara yang lebih indah kecuali menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian, persatuan dan kebersamaan. Karena hal itu sesungguhnya adalah ajaran agama yang harus diyakini dan sekaligus salah satu norma yang diatur dalam kearifan lokal Aceh.

Bagi kita orang Aceh yang terkenal sebagai masyarakat yang religius, tentu kita memahami bahwa Islam adalah sebuah agama yang mengajarkan keharmonisan antar sesama. Dalam sejarah disebut bahwa sukses Nabi di Madinah karena kolaborasi, keharmonisan dan kebersamaan dan semua ini  dibangun Nabi dengan cinta dan kasih sayang. Hal ini tertuang dalam Piagam Madinah sebagai konstitusi yang dibuat Nabi.

Salah satu poin penting dalam piagam tersebut kewajiban penduduk Madinah (tak pandang muslim maupun nonmuslim) untuk menjaga dan membangun kota Madinah secara bersama-sama. Artinya Nabi Muhammad saw juga menekankan prinsip kolaborasi dan kebersamaan. Bercermin dari sukses Madinah yang dipimpin Nabi Muhammad saw dengan kebersamaan maka sudah sepatutnya sukses Serambi Mekkah pun saat ini di bawah Pj Gubernur Bustami Hamzah juga harus dibangun berdasarkan prinsip tersebut.

Karenanya seluruh elemen masyarakat Aceh harus tetap bersinergi, bahu-membahu membangun Aceh penuh kebersamaan dalam bingkai damai yang merupakan nikmat Allah swt yang patut kita syukuri. Karena kebersamaan dalam damai menjadi kunci dan instrumen penting dalam menyukseskan pembangunan menuju Aceh yang bermartabat.

PR bersama

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

JKA di Mata Hukum

 

JKA di Mata Hukum

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved