Senin, 13 April 2026

Berita Aceh Singkil

Konflik Buaya Versus Nelayan di Aceh Singkil Terus Berkelanjutan, Ini Datanya

Berdasarkan catatan, sepanjang tahun 2024, sudah tiga kali nelayan di batas Samudera Hindia itu, diserang buaya. 

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Saifullah
SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI
Buaya di pinggir sungai dekat permukiman penduduk Singkil, Aceh Singkil. 

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil 

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Konflik buaya dengan nelayan di Kecamatan Pulau Banyak Barat, Kabupaten Aceh Singkil, tak kunjung berhenti dan terus berkelanjutan. 

Berdasarkan catatan, sepanjang tahun 2024, sudah tiga kali nelayan di batas Samudera Hindia itu, diserang buaya

Satu di antaranya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. 

Kejadian pertama pada 22 Januari 2024, dengan korban bernama Mei Swakarya Zendrato, tinggal di Desa Ujung Sialit, Pulau Banyak Barat. 

Korban sempat hilang, hingga akhirnya ditemukan meninggal setelah dilakukan pencarian oleh tim SAR gabungan. 

Kedua pada 17 Juli 2024, korbannya Arisman Gule, nelayan asal Dusun Kepeng, Desa Asantola. 

Korban berhasil diselamatkan rekannya. 

Terbaru pada 8 Oktober 2024m buaya serang Ama Nota, warga Dusun Kepeng, Desa Asantola.

Ama Nota diserang buaya saat sedang berenang menangkap tripang di dekat Pulau Matahari.

Korban setelah mendapat perawatan intensif di Puskesmas Pulau Banyak Barat, lalu dirujuk ke RSUD Aceh Singkil

Konflik manusia dengan buaya terus terjadi.

Hal ini karena wilayah tangkap nelayan saling bersinggungan dengan habitat buaya

Nelayan memaksa mencari nafkah di lokasi rawan buaya, sebab terdesak kebutuhan ekonomi. 

Terkait kondisi itu, Kepala Dinas Perikanan Aceh Singkil, Saiful Umar menyampaikan, sejumlah usulan untuk penanganan buaya sesuai kewenangan masing-masing. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved