Senin, 15 Juni 2026

Feature

Menjaga Warisan Leluhur, Raja Mulieng Padukan Rapai Tua dan Rapai Karya Generasi Muda

SEJUMLAH rapai tua berusia ratusan tahun peninggalan indatu masih tersimpan dan dirawat dengan baik oleh Grup Rapai Raja Mulieng di Kemukiman Mulieng

Tayang:
Editor: mufti
for serambinews/IST
WAWANCARA - Syekh Rapai Raja Mulieng, Muhammad IB atau Syekh Amat (kanan), bersama Penasehat Grup Rapai Raja Mulieng, M Isa Ali, saat diwawancarai Serambi di Kecamatan Syamtalira Aron, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (13/6/2026). 

Secara organisasi, grup tersebut mulai dinotariskan pada 1992. M Isa Ali memimpin kelompok itu sejak 1998 hingga 2014 sebelum sempat vakum beberapa tahun. Sejak 2024, estafet kepemimpinan dilanjutkan generasi muda di bawah Abdul Hadi, putra keenam Syekh Amat.

Bagi M Isa, menjaga rapai bukan sekadar mempertahankan alat musik tradisional, melainkan merawat identitas budaya yang diwariskan leluhur. "Saat mengajak anak muda memang tidak mudah. Kami dekati pelan-pelan. Kalau bukan kita yang peduli terhadap peninggalan nenek moyang, siapa lagi yang akan menjaganya," ujarnya.

Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Semakin banyak pemuda yang tertarik bergabung dan belajar memainkan rapai. Mereka kini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi meu-uroh yang telah hidup selama berabad-abad di Kemukiman Mulieng.

Pemilihan Kulit Sapi

Dalam proses pembuatan rapai, M Isa juga masih mengingat berbagai cerita yang diwariskan para orang tua terdahulu. Menurutnya, pembuatan rapai pada masa lalu tidak hanya melibatkan keterampilan teknis, tetapi juga berbagai ritual adat.

"Kalau orang terdahulu yang kami dengar memang melakukan peusijuek, kemudian memanggil roh kayu dan ritual lainnya sebelum rapai digunakan," ujarnya.

Meski ritual tersebut tidak lagi dilakukan secara lengkap, nilai penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur tetap menjadi bagian dari proses pembuatan rapai hingga saat ini. Selain kayu tualang, kualitas suara rapai juga sangat ditentukan oleh membran yang terbuat dari kulit sapi. Karena itu, pemilihan kulit dilakukan dengan sangat teliti.

M Isa mengaku harus mengamati kondisi sapi mulai dari bobot hingga tekstur bulunya. Sapi yang dipilih umumnya memiliki bobot lebih dari 100 kilogram dengan berat kulit sekitar 22 hingga 25 kilogram. Tidak hanya itu, proses penyembelihan juga harus dilakukan secara hati-hati agar kulit tidak mengalami cacat sedikit pun.

"Orang yang menyembelih juga harus benar-benar paham cara memisahkan kulit dan daging. Kalau salah sedikit bisa merusak kualitas membran rapai," ujarnya.

Menurutnya, sapi berbulu halus menghasilkan kualitas kulit yang lebih baik dibandingkan sapi berbulu kasar. "Kalau bulunya kasar, saat ditarik untuk pemasangan akan melar seperti karet sehingga suara rapai menjadi kurang bagus," katanya.

Mereka juga menghindari penggunaan kulit sapi dari ternak yang terlalu banyak mengonsumsi pakan pabrikan. Berdasarkan pengalaman para pemain rapai, sapi yang lebih banyak digembalakan secara alami menghasilkan kualitas suara yang lebih jernih.

"Kalau terlalu banyak pakan buatan biasanya suara yang dihasilkan tidak bening. Mungkin karena kurang terkena cahaya matahari saat pemeliharaan," ujar M Isa.

Karena itu, ia berharap generasi muda terus mengambil peran dalam menjaga warisan leluhur, salah satunya seni Rapai Pase, sebelum terlambat.(jafaruddin)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
5 - 1
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved