Feature
Menjaga Warisan Leluhur, Raja Mulieng Padukan Rapai Tua dan Rapai Karya Generasi Muda
SEJUMLAH rapai tua berusia ratusan tahun peninggalan indatu masih tersimpan dan dirawat dengan baik oleh Grup Rapai Raja Mulieng di Kemukiman Mulieng
Secara organisasi, grup tersebut mulai dinotariskan pada 1992. M Isa Ali memimpin kelompok itu sejak 1998 hingga 2014 sebelum sempat vakum beberapa tahun. Sejak 2024, estafet kepemimpinan dilanjutkan generasi muda di bawah Abdul Hadi, putra keenam Syekh Amat.
Bagi M Isa, menjaga rapai bukan sekadar mempertahankan alat musik tradisional, melainkan merawat identitas budaya yang diwariskan leluhur. "Saat mengajak anak muda memang tidak mudah. Kami dekati pelan-pelan. Kalau bukan kita yang peduli terhadap peninggalan nenek moyang, siapa lagi yang akan menjaganya," ujarnya.
Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Semakin banyak pemuda yang tertarik bergabung dan belajar memainkan rapai. Mereka kini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi meu-uroh yang telah hidup selama berabad-abad di Kemukiman Mulieng.
Pemilihan Kulit Sapi
Dalam proses pembuatan rapai, M Isa juga masih mengingat berbagai cerita yang diwariskan para orang tua terdahulu. Menurutnya, pembuatan rapai pada masa lalu tidak hanya melibatkan keterampilan teknis, tetapi juga berbagai ritual adat.
"Kalau orang terdahulu yang kami dengar memang melakukan peusijuek, kemudian memanggil roh kayu dan ritual lainnya sebelum rapai digunakan," ujarnya.
Meski ritual tersebut tidak lagi dilakukan secara lengkap, nilai penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur tetap menjadi bagian dari proses pembuatan rapai hingga saat ini. Selain kayu tualang, kualitas suara rapai juga sangat ditentukan oleh membran yang terbuat dari kulit sapi. Karena itu, pemilihan kulit dilakukan dengan sangat teliti.
M Isa mengaku harus mengamati kondisi sapi mulai dari bobot hingga tekstur bulunya. Sapi yang dipilih umumnya memiliki bobot lebih dari 100 kilogram dengan berat kulit sekitar 22 hingga 25 kilogram. Tidak hanya itu, proses penyembelihan juga harus dilakukan secara hati-hati agar kulit tidak mengalami cacat sedikit pun.
"Orang yang menyembelih juga harus benar-benar paham cara memisahkan kulit dan daging. Kalau salah sedikit bisa merusak kualitas membran rapai," ujarnya.
Menurutnya, sapi berbulu halus menghasilkan kualitas kulit yang lebih baik dibandingkan sapi berbulu kasar. "Kalau bulunya kasar, saat ditarik untuk pemasangan akan melar seperti karet sehingga suara rapai menjadi kurang bagus," katanya.
Mereka juga menghindari penggunaan kulit sapi dari ternak yang terlalu banyak mengonsumsi pakan pabrikan. Berdasarkan pengalaman para pemain rapai, sapi yang lebih banyak digembalakan secara alami menghasilkan kualitas suara yang lebih jernih.
"Kalau terlalu banyak pakan buatan biasanya suara yang dihasilkan tidak bening. Mungkin karena kurang terkena cahaya matahari saat pemeliharaan," ujar M Isa.
Karena itu, ia berharap generasi muda terus mengambil peran dalam menjaga warisan leluhur, salah satunya seni Rapai Pase, sebelum terlambat.(jafaruddin)
Menjaga Warisan Leluhur
Raja Mulieng
Rapai Tua
Rapai Muda
Raja Mulieng Padukan Rapai Tua dan Rapai Karya Gen
Kesenian Aceh
Serambi Indonesia
Serambinews.com
Serambinews
| USK Siap Mandiri di Era PTNBH, Fokus Kembangkan Usaha di Sektor Pangan |
|
|---|
| Merawat Rapai Pase di Tengah Keterbatasan Pascabanjir, Kisah Grup Kram Krum Tam-Tum Boh Beureutoh |
|
|---|
| Asa Penyintas Banjir Langkahan, Berharap Pemerintah segera Bangun Hunian Tetap |
|
|---|
| Wariskan Gagasan Jaga Aceh Mulia, Kapolda Luncurkan Buku "Polda Aceh Meutuah" |
|
|---|
| 1.700 Hektare Sawah Terselamatkan, Pemkab Aceh Selatan Tuntaskan Normalisasi Irigasi Gunung Pudung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Menjaga-Warisan-Leluhur.jpg)