Senin, 27 April 2026

4 Tanda Hubungan Mengandung Kekerasan Emosional yang Sering Tak Disadari

Kekerasan dalam hubungan tidak selalu berupa fisik, tetapi juga bisa terjadi secara emosional dan psikologis.

Editor: Mursal Ismail
Chat GPT
ILUSTRASI - Foto ilustrasi seorang wanita mengalami kekerasan emosional dari kekasihnya yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI Chat GPT, Jumat (6/3/2026) 

Ringkasan Berita:
  • Kekerasan emosional dapat muncul melalui perilaku manipulatif seperti love bombing, gaslighting, serta ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan pasangan.
  • Pelaku kerap merendahkan dan mengikis harga diri pasangan agar merasa tidak berharga dan bergantung secara emosional.
  • Banyak korban berada dalam fase penyangkalan dan sulit keluar dari hubungan karena trauma bond serta takut dihakimi orang lain.

SERAMBINEWS.COM - Kekerasan dalam hubungan tidak selalu berupa fisik, tetapi juga bisa terjadi secara emosional dan psikologis. 

Mengenali tanda-tandanya, seperti manipulasi, merendahkan pasangan, hingga ketidakkonsistenan perilaku, penting agar seseorang dapat keluar dari relasi tidak sehat dan membangun hubungan yang lebih aman.

Pasalnya, banyak orang terjebak dalam relasi yang secara emosional dan psikologis menyakitkan, namun sulit dikenali karena dibungkus dengan kata cinta.

Psikolog berlisensi sekaligus pendiri terapi Couples Learn, Sarah Schewitz menjelaskan, kekerasan emosional dapat mencakup merendahkan pasangan, memanggil dengan sebutan kasar, memanipulasi agar pasangan merasa tidak aman, menyebutnya gila, hingga berbohong atau berselingkuh.

“Perilaku abusive sering kali merupakan hasil dari ketidakmampuan seseorang mengatur sistem sarafnya, trauma masa lalu yang belum sembuh, dan kurangnya pemahaman tentang cara mempertahankan hubungan yang sehat,” ujarnya, seperti disadur PopSugar, Rabu (4/3/2026).

Berikut empat tanda utama hubungan yang penuh kekerasan emosional.

Baca juga: Emas, Beras hingga Lauk Pemicu Inflasi di Aceh, Sekda Minta Aksi Pengendalian Harus Serius

1. Love bombing di awal hubungan yang terlalu intens

Salah satu pola yang kerap muncul adalah love bombing, yaitu ketika pasangan menunjukkan perhatian, kasih sayang, dan janji komitmen secara berlebihan di awal hubungan.

Love bombing bertujuan membangun ikatan dan kepercayaan dengan cepat.

Secara ilmiah, kondisi ini membanjiri tubuh dengan dopamin, neurotransmiter yang memunculkan rasa senang dan euforia.  

Namun, sensasi ini bisa menciptakan ketergantungan emosional terhadap pasangan.

Hubungan yang dimulai dengan intensitas ekstrem sering kali berubah drastis ketika fase bulan madu berakhir.

Setelah ikatan terbentuk, pelaku dapat mulai menunjukkan perilaku manipulatif atau merendahkan, sementara korban tetap bertahan karena mengingat betapa indahnya fase awal hubungan.

Baca juga: Wagub Rapat Bersama Mendagri, Dana TKD Dicairkan 3 Tahap

2. Ketidakkonsistenan antara ucapan dan tindakan

Tanda berikutnya adalah inkonsistensi. Pelaku mungkin mengatakan, “Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah menyakitimu,” tetapi tindakannya justru bertolak belakang.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved