Minggu, 3 Mei 2026

Berita Aceh Tenggara

Jalan Nasional Agara–Galus Terputus, Kinerja BWSS 1 Disorot

Banjir bandang di Aceh Tenggara memutus tiga jembatan dan melumpuhkan jalan nasional Agara–Gayo Lues.

Tayang:
Penulis: Asnawi Luwi | Editor: Saifullah
Serambi Indonesia/Bustami
JALAN LUMPUH TOTAL - Jalan Nasional Aceh Tenggara (Agara)-Gayo Lues (Galus), persisnya di kawasan Simpur Jaya, Ketambe, lumpuh total pasca dihantam banjir bandang 16 hari yang lalu. Foto direkam, Jumat (12/12/2025). 
Ringkasan Berita:
  • Banjir bandang di Aceh Tenggara memutus tiga jembatan dan melumpuhkan jalan nasional Agara–Gayo Lues.
  • BWSS 1 hanya mengerahkan dua excavator, sehingga kinerjanya disorot pengamat dan masyarakat sebagai tidak serius. 
  • BPBD menilai tambahan alat berat sangat mendesak agar akses vital logistik dan ekonomi segera pulih.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Asnawi Luwi | Aceh Tenggara

SERAMBINEWS.COM, KUTACANE – Musibah banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tenggara pada akhir November lalu, masih menyisakan dampak parah hingga Jumat (12/12/2025).

Tiga jembatan putus, satu jembatan nyaris ambruk, dan jalan nasional yang menghubungkan Aceh Tenggara (Agara) dengan Gayo Lues (Galus), lumpuh total akibat terjangan arus Sungai Alas dan Sungai Mamas.

Namun, di tengah kerusakan besar ini, Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) 1 hanya mengerahkan dua unit alat berat berupa excavator alias beko.

Kondisi tersebut memunculkan sorotan tajam dari masyarakat dan pengamat kebijakan publik yang menilai BWSS 1 tidak serius menangani bencana besar ini.

Dr Nasrul Zaman, pengamat kebijakan publik Aceh sekaligus tokoh masyarakat Aceh Tenggara menyampaikan kekecewaannya.

Menurut Dr Nasrul, 16 hari pasca bencana, Jalan Nasional Agara–Gayo Lues masih lumpuh total.

Baca juga: Jalan Agara–Galus belum Tembus, Dua Hari Alat Berat tak Bekerja Pasca Banjir Bandang

Sementara BWSS 1 hanya menurunkan dua alat berat yang tidak difokuskan pada jalur utama.

“Kita merasa kecewa terhadap BWSS 1 yang dinilai tak serius menangani bencana besar di Aceh Tenggara,” tuturnya.

“Apakah mereka menganggap bencana ini kecil? Ini harus menjadi catatan bagi Menteri PUPR untuk segera mengevaluasi kinerja Kabalai BWSS 1,” tegas Nasrul Zaman.

Ia menambahkan, banjir bandang ini bukan bencana kecil.

Data sementara menunjukkan, 15 orang meninggal dunia, satu orang hilang, ribuan rumah rusak, serta lahan pertanian hancur.

Skala kerusakan ini bahkan membuat Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri, wakil menteri, dan pejabat BNPB, turun langsung ke lokasi untuk bertemu korban di Desa Bambel Baru, Kecamatan Bukit Tusam.

Baca juga: Jalan Agara-Galus Bertebaran Debu Pasca Banjir Bandang, Warga Minta Disiram

Perlu Tambahan Beko

Sementara itu, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Mohd Asbi, ST membenarkan, bahwa BWSS 1 telah mengerahkan dua excavator alias beko pasca bencana.

Alat berat tersebut ditempatkan di Desa Tualang Sembilar, Desa Bambel Baru, dan Perapat Hulu.

Namun, menurut Asbi, jumlah tersebut jelas tidak cukup untuk menangani kerusakan besar.

Terutama di jalur nasional yang putus total di Desa Simpur Jaya, Kecamatan Ketambe, perbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues.

“Kami sudah bertemu dengan pihak BWSS 1 dan meminta agar segera menambah tiga excavator ke lokasi jalan nasional yang putus,” bebernya.

“Mereka berjanji akan menurunkan tiga unit tambahan dari Medan pada Senin (15/12/2025),” ungkap dia.

Baca juga: Dua Sungai Hancur Dihantam Banjir, Kalak BPBD Pidie: BWSS Harus Lapor ke Kementrian PUPR

“Namun saya minta agar Sabtu (13/12/2025) alat berat sudah sampai di Simpur Jaya Ketambe,” tegas Asbi.

Asbi juga mengakui bahwa selama ini koordinasi antara BPBD Aceh Tenggara dan BWSS 1 kurang berjalan optimal.

Pertemuan dengan pihak BWSS 1 bahkan baru difasilitasi oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh.

“Kami berharap koordinasi bisa lebih baik ke depan, karena penanganan bencana sebesar ini tidak bisa dilakukan setengah hati,” urai Asbi.

“Infrastruktur yang rusak harus segera diperbaiki agar akses masyarakat kembali normal,” ujarnya.

Masyarakat Aceh Tenggara kini berharap agar pemerintah pusat benar-benar serius menangani bencana ini.

Baca juga: Atasi Pendangkalan Krueng Meureubo, Pemkab Aceh Barat Surati BWSS

Jalan Nasional Agara–Gayo Lues merupakan jalur vital yang menghubungkan dua kabupaten.

Sekaligus menjadi akses utama distribusi logistik, bahan pangan, dan hasil pertanian.

Terputusnya jalur ini membuat mobilitas lumpuh, harga kebutuhan pokok melonjak, dan aktivitas ekonomi terganggu.

Kehadiran Presiden Prabowo beberapa waktu lalu memberi harapan besar.

Namun masyarakat menunggu langkah nyata dari instansi teknis seperti BWSS 1 untuk mempercepat pemulihan.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved