Berita Aceh Timur
Sebelum Banjir Bandang, Harimau Bawa Jas Hujan Turun ke Perkampungan Aceh Timur
Menurut warga setempat, adanya keterkaitan antara turunnya satwa liar ke desa saat itu dengan mengigit jas hujan di mulutnya.
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Amirullah
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Maulidi Alfata | Aceh Timur
SERAMBINEWS.COM, IDI - Banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Timur, tidak hanya menyisakan kerusakan parah.
Tetapi juga meninggalkan sebuah pertanda alam. Bagi warga Desa Sijudo, dua hari sebelum banjir menerjang perkampungan mereka, tanda-tanda bencana telah diperlihatkan melalui kehadiran satwa liar, khususnya harimau Sumatera.
Menurut warga setempat, adanya keterkaitan antara turunnya satwa liar ke desa saat itu dengan mengigit jas hujan di mulutnya.
Susandi Wijaya, seorang warga Sijudo mengungkapkan kesaksiannya kepada Serambi pada, Sabtu (13/12/2025), dua hari sebelum hujan ekstrem, melanda daerah itu, seekor Harimau Sumatera yang anehnya bersikap jinak turun ke permukiman.
"Harimau itu datang dengan mengigit jas hujan yang diambil dari depan rumah warga. Dia mengigitnya di mulut dan berdiri seolah-olah menunjukkan sesuatu kepada masyarakat," tutur Susandi.
Warga yang awalnya ketakutan segera mengusir satwa tersebut. Harimau itu kemudian bergerak menuju jembatan dan menjatuhkan jas hujan yang dibawa di lokasi tersebut. Sebelum akhrinya berbalik masuk kembali ke hutan.
Baca juga: Warga Aceh Mengadu ke Prabowo: Air Bersih Langka, Listrik Masih Padam, Berbeda dengan Klaim Bahlil
Baca juga: Sosok Armia Fahmi, Bupati Aceh Tamiang yang Bikin Prabowo Terkesan, Ternyata Eks Jenderal Polri
"Memang di sini banyak harimau, tapi yang turun hari itu sangat jinak, meskipun n warga tetap ketakutan, kita bisa lihat bahkan anjing di desa tidak menggonggong saat harimau itu turun. Tak lama setelah kejadian itu banjir tiba," tuturnya
Air bah dengan ketinggian mencapai 7 meter menghancurkan segalanya. Lima Dusun di desa-desa tersebut porak-poranda, merusak seluruh rumah warga, fasilitas umum dan merobohkan pepohonan. Hanya permukiman yang berada di tempat tinggi atau perbukitan yang tersisa.
Awalnya, warga beranggapan haromauntutun hanya untuk mencari makan karena habitat atau stok makanan
habis dan rusak. Namun dengan skala bencana yang terjadi, warga kemudian menyadari bahwa kehadiran harimau kala itu memberi isyarat apalagi mengigit jas hujan dan membawanya.
"Kami baru mengingatkan kembali akan kearifan lokal dan hubungan erat antara manusia dan alam liar di pedalaman Aceh Timur," jelasnya.
Susandi melanjutkan, bahwa prilaku satwa liar seringkali menjadi pertanda alam, dan insting hewani jauh lebih tajam dalam merespon tanda bahaya. Hujan deras yang melanda Aceh Timur juga merusak Sijudo dan Sahraja.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kondisi-desa-Sahraja-Kecamatan-Pante-Bidari-hancur-total.jpg)