Banjir Landa Aceh
Penanganan Banjir Aceh Dinilai Lambat, Guru Besar USK Bandingkan dengan Respons Tsunami 2004
“Kalau kita bandingkan itu nampak apa ya, anak muda bilang agak lelet. Dibandingkan dengan dulu masa tsunami itu,” ujar Prof Izarul.
Penulis: Sri Anggun Oktaviana | Editor: Amirullah
Penanganan Banjir Aceh Dinilai Lambat, Guru Besar USK Bandingkan dengan Respons Tsunami 2004
SERAMBINEWS.COM – Penanganan banjir besar yang melanda Aceh dinilai masih berjalan lambat dan belum menunjukkan respons cepat sebagaimana penanganan bencana tsunami 2004 silam.
Penilaian tersebut disampaikan Ketua Dewan Profesor Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Ir. Izarul Machdar, M.Eng, dalam program APIT AWE YouTube Serambinews, Selasa (17/12/2025), yang dipandu News Manager Serambi Indonesia, Bukhari M Ali.
Pernyataan itu disampaikan menyikapi lambannya penanganan banjir besar yang melanda Aceh serta wilayah Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Menurut Prof Izarul, lambannya respons penanganan terlihat jelas di lapangan, terutama jika dibandingkan dengan penanganan bencana tsunami 2004, meskipun jumlah korban saat ini tidak sebesar tsunami.
Baca juga: Ketua Dewan Profesor USK: Dalam Tanggap Darurat, Izin Bantuan Luar Negeri Cukup BNPB
“Kalau kita bandingkan itu nampak apa ya, anak muda bilang agak lelet. Dibandingkan dengan dulu masa tsunami itu,” ujar Prof Izarul.
Ia menegaskan, perbandingan tidak dilakukan dari sisi jumlah korban, melainkan dari luasnya dampak dan kecepatan respons.
“Tak etis sekali membanding-bandingkan jumlah korban. Kalau kita misalnya hilang satu orang dari keluarga, mungkin kita sudah gelisah,” katanya.
Prof Izarul menilai, dampak banjir kali ini justru lebih luas karena melumpuhkan berbagai sektor secara bersamaan, mulai dari akses jalan, listrik, komunikasi, hingga distribusi logistik.
Baca juga: Korban Banjir Aceh Timur Kehilangan Rumah Akan Dapat Dana Tunggu Hunian
“Ini dampaknya luas sekali. Semua fasilitas terputus. Listrik putus, komunikasi putus, BBM susah, gas enggak susah,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dalam kondisi darurat seharusnya prinsip “cepat” menjadi kunci utama, meskipun harus melampaui prosedur birokrasi.
“Di undang-undang sudah jelas kata cepat itu penting sekali, walaupun kata cepat itu menabrak prosedur,” tegasnya.
Prof Izarul juga menyoroti keterlambatan distribusi bantuan ke wilayah pedalaman yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
“Kalau di Aceh Utara itu kan pedalaman, enggak ada akses lain. Jadi sebenarnya enggak ada solusi lain selain helikopter,” katanya.
Ia mencontohkan pengalaman saat tsunami 2004, di mana bantuan udara dilakukan secara masif dan terkoordinasi.
Baca juga: Dishub Aceh Sediakan Angkutan Laut Gratis untuk Bantuan Korban Banjir ke Krueng Geukueh
Banjir Landa Aceh
banjir di aceh
tsunami 2004
Penanganan Banjir Aceh Dinilai Lambat
Serambinews
Serambi Indonesia
| Pemkab Sosialisasi Dana Stimulan Bagi Korban Banjir Bandang di Bandarpusaka |
|
|---|
| Diterjang Banjir Puluhan Dapur Bata di Bireuen Hancur, Warga Menjerit Minta Dukungan Pemerintah |
|
|---|
| Banjir Luapan Kepung Pidie Jaya, Jalan Nasional Terganggu Hingga Mobil Terjebak |
|
|---|
| Empat Bulan Pascabanjir, Aceh Tamiang Masih Krisis Air Bersih |
|
|---|
| Pembangunan Jembatan Bailey di Blang Reubek-Aceh Utara Rampung, Kapasitas 20 Ton |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Prof-Dr-Ir-Izarul-Machdar-MEng.jpg)