Jumat, 1 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Mendagri: Pemerintah Mendengar, Memahami, dan Menindaklanjuti Kritik Penanganan Bencana Sumatera

Medan yang berat serta keterbatasan teknis di lapangan menjadi tantangan utama dalam proses penanganan darurat dan pemulihan pascabencana.

Tayang:
Penulis: Hendri Abik | Editor: Mursal Ismail
Kompas.com/Rahel
MENDAGRI - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025). Mendagri mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan dalam penanganan bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera.  

Ringkasan Berita:
  • Mendagri Tito Karnavian mengakui masih ada kekurangan dalam penanganan banjir dan longsor di Sumatera akibat medan berat dan keterbatasan teknis. 
  • Tito menyampaikan permohonan maaf atas kinerja yang belum optimal dan menegaskan pemerintah terus memperbaiki upaya penanganan darurat serta pemulihan korban bencana di Sumatera. 
  • Pemerintah menekankan pentingnya solidaritas dan gotong royong. Data BNPB per 19 Desember 2025 mencatat 1.068 korban meninggal, 190 hilang, dan sekitar 577.600 pengungsi.
 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Menteri Dalam Negeri atau Mendagri, Tito Karnavian mengakui masih terdapat berbagai kekurangan dan kelemahan dalam penanganan bencana banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera. 

Medan yang berat serta keterbatasan teknis di lapangan menjadi tantangan utama dalam proses penanganan darurat dan pemulihan pascabencana.

Karena itu, Tito menegaskan pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat terkait kinerja penanganan bencana di sejumlah daerah terdampak di Sumatera.

“Kami, pemerintah, mendengar dan memahami berbagai kritik serta masukan dari masyarakat terhadap penanganan bencana di Sumatera,” ujar Tito dalam konferensi pers perkembangan penanggulangan bencana Sumatera di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas ketidakpuasan publik terhadap kinerja pemerintah yang dinilai belum optimal, termasuk aksi pengibaran bendera putih oleh korban bencana banjir dan longsor di Aceh sebagai simbol keputusasaan.

Tito menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila upaya pemerintah selama ini belum sepenuhnya memenuhi harapan.

Sejumlah kampung di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, masih terisolasi hingga dua puluh empat hari pasca banjir bandang. Isolasi ini disebabkan oleh tertutupnya akses Jembatan Pematangdurian oleh tumpukan kayu berukuran besar dari penebangan liar yang menutupi mulut jembatan secara total.
Sejumlah kampung di Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, masih terisolasi hingga dua puluh empat hari pasca banjir bandang. Isolasi ini disebabkan oleh tertutupnya akses Jembatan Pematangdurian oleh tumpukan kayu berukuran besar dari penebangan liar yang menutupi mulut jembatan secara total. (Serambinews.com/Rahmad Wiguna)

Baca juga: Korban Bencana Aceh-Sumatera Dapat Bantuan Perabot Rumah Tangga, Segini Besarannya

Namun, ia menegaskan pemerintah terus melakukan perbaikan kinerja secara berkelanjutan guna mempercepat pemenuhan kebutuhan darurat korban bencana.

“Dengan segala kerendahan hati, kami meminta maaf apabila masih terdapat kekurangan. Kendala di lapangan memang cukup besar karena medan yang berat.

Namun, sebagai pemerintah, kami berkewajiban untuk terus bekerja, mengatasi hambatan, memperbaiki kinerja, dan bergerak cepat memenuhi kebutuhan darurat saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat,” tegas Tito.

Lebih lanjut, Tito menekankan bahwa para korban bencana saat ini membutuhkan soliditas dan solidaritas dari seluruh elemen, baik pemerintah maupun masyarakat. 

Menurutnya, semangat gotong royong dan kemanusiaan menjadi kunci utama dalam proses pemulihan daerah terdampak.

“Uluran tangan masyarakat sangat membantu. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi.

Baca juga: Harga Semen di Aceh Naik Tak Wajar, Mualem Perintahkan Pengawasan Ketat

Mari terus bersama-sama dalam bingkai soliditas kebangsaan dan kemanusiaan untuk mempercepat pemulihan,” ujar Tito.

Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 19 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumatera mencapai 1.068 jiwa.

Sementara itu, jumlah korban yang masih dinyatakan hilang tercatat sekitar 190 orang, serta jumlah pengungsi mencapai sekitar 577.600 jiwa yang tersebar di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved