Jumat, 5 Juni 2026

Pojok Humam Hamid

Thailand: Bencana, dan Makna Permintaan Maaf Negara

Permintaan maaf kepala pemerintahan kerap dibaca secara dangkal sebagai gestur empati atau strategi

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. 

Negara mengakui adanya kegagalan dalam melindungi warganya - baik dalam pencegahan, kesiapsiagaan, maupun respons. 

Pengakuan semacam ini penting karena negara modern tidak hanya dinilai dari kemampuannya menyediakan layanan, tetapi juga dari kesediaannya untuk merefleksikan diri.

Negara yang menolak mengakui kegagalan akan tampak defensif dan berjarak. 

Sebaliknya, negara yang berani mengatakan “kami gagal melindungi Anda” sedang membangun hubungan baru dengan warganya - hubungan yang bertumpu pada kejujuran, bukan sekadar otoritas. 

Dalam konteks ini, permintaan maaf bukan tanda kelemahan, melainkan pintu masuk menuju koreksi kebijakan dan pembelajaran institusional.

Permintaan maaf juga berkaitan langsung dengan legitimasi. 

Dalam situasi krisis, legitimasi tidak bersumber dari prosedur formal atau bahasa hukum, melainkan dari rasa keadilan dan keberpihakan. 

Warga bersedia menunggu dan bersabar jika mereka merasa negara jujur dan bertanggung jawab. 

Namun ketika negara bersikap dingin, teknokratis, atau menutup diri, ketidakpercayaan tumbuh dengan cepat. 

Bantuan sebesar apa pun terasa kurang, karena yang hilang bukan hanya sumber daya, tetapi ikatan moral antara negara dan rakyat.

Lebih jauh, permintaan maaf publik menandai bahwa negara memahami bencana bukan semata soal teknis, melainkan juga ujian etika. 

Bencana membuka lapisan terdalam tata kelola: siapa yang dilindungi lebih dulu, siapa yang tertinggal, dan siapa yang menanggung beban terberat. 

Dengan mengakui kegagalan, negara sekaligus mengakui bahwa keputusan-keputusan sebelumnya memiliki konsekuensi nyata bagi kehidupan warga. 

Ini bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan tentang keberanian menata masa depan dengan lebih jujur.

Tentu, permintaan maaf hanya bermakna jika diikuti oleh perubahan nyata. 

Tekanan moral

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved