Pojok Humam Hamid
Thailand: Bencana, dan Makna Permintaan Maaf Negara
Permintaan maaf kepala pemerintahan kerap dibaca secara dangkal sebagai gestur empati atau strategi
Permintaan maaf negara, dalam konteks respons pasca-Siklon Senyar dan perbandingan dengan Thailand, bukanlah sekadar gestur empati atau strategi komunikasi, melainkan penanda etika kepemimpinan: bahwa negara bersedia menundukkan ego, mengakui tanggung jawab atas kerentanan yang diciptakannya, dan belajar darinya.
Negara yang mampu melakukan itu bukan hanya memulihkan infrastruktur dan layanan publik, tetapi juga memperbaiki ikatan moral dengan rakyatnya.
Di tengah krisis yang kian berulang akibat perubahan iklim dan kegagalan tata kelola, mungkin inilah bentuk kekuatan negara yang paling relevan - bukan kekuasaan yang defensif, melainkan kepemimpinan yang jujur, reflektif, dan berani berubah.
*) PENULIS adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh.
Isi artikel dalam Pojok Humam Hamid menjadi tanggung jawab penulis.
artikel humam hamid
pojok humam hamid
Sosiolog humam hamid
Prof Humam Hamid
Permintaan maaf negara
Thailand
bencana
Serambinews
Serambi Indonesia
| Menjelang 20 Bulan Prabowo Berkuasa: Apa Beda Sumitronomics dan Prabowonomics? |
|
|---|
| Revisi Narasi Sejarah Aceh dari Hanya Perang dan Ulama: Saudagar Habib Bugak |
|
|---|
| Qurban Sosial: Mampukah Aceh Melepaskan Hambatan Kemajuan |
|
|---|
| Membaca Indonesia Hari Ini: Chairul Tanjung, Purbaya, dan Presiden Prabowo |
|
|---|
| Dolar Naik: Neraca Untung-Rugi Masyarakat Kawasan Pedesaan Kita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-tanggapi-Benny-K-Harman.jpg)