Sabang
Penjualan Souvenir dan Baju Khas Sabang Menurun Selama Libur Nataru 2025-2026
Aktivitas perdagangan souvenir dan baju khas Sabang mengalami penurunan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026...
Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Eddy Fitriadi
Ringkasan Berita:
- Aktivitas perdagangan souvenir dan baju khas Sabang turun tajam selama libur Nataru 2025–2026, dengan penurunan omzet hingga 70 persen dibanding tahun sebelumnya.
- Pelaku usaha menyebut berkurangnya wisatawan domestik pascabanjir di sejumlah wilayah Sumatera menjadi penyebab utama, meski wisatawan asal Malaysia mulai meningkat.
- Pedagang berharap pemerintah mempercepat pemulihan infrastruktur dan memberikan informasi akses darat terkini agar kunjungan wisatawan dan ekonomi Sabang kembali pulih.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Aulia Prasetya | Sabang
SERAMBINEWS.COM, SABANG - Aktivitas perdagangan souvenir dan baju khas Sabang mengalami penurunan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026. Sejumlah pelaku usaha mencatat penurunan omzet yang cukup signifikan dibandingkan periode libur akhir tahun sebelumnya.
Pemilik Ceudah Souvenir, Sarah, mengatakan penurunan pendapatan mencapai sekitar 70 persen. Menurutnya, kondisi ini berbeda jauh dibandingkan libur akhir tahun 2024 yang masih didorong oleh tingginya arus wisatawan.
“Pada libur akhir tahun lalu, omzet harian dapat mencapai Rp4 juta hingga Rp5 juta. Pada periode libur tahun ini, pendapatan menurun cukup tajam,” ujar Sarah, Selasa (30/12/2025).
Ia menjelaskan, pascabanjir yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, arus kunjungan wisatawan ke Kota Sabang sempat terhenti. Setelah akses darat mulai berfungsi kembali, wisatawan berangsur datang, meskipun jumlahnya masih terbatas.
“Saat ini omzet harian hanya berkisar Rp1 juta. Angka tersebut memang lebih baik dibandingkan beberapa hari setelah banjir, namun belum menunjukkan pemulihan yang signifikan,” katanya.
Menurut Sarah, wisatawan yang berkunjung ke Sabang saat ini didominasi wisatawan asal Malaysia, sedangkan wisatawan domestik, khususnya dari Sumatera Utara dan daerah sekitar Aceh, mengalami penurunan tajam.
Produk yang paling diminati wisatawan meliputi gantungan kunci dan magnet kulkas dengan harga Rp10.000 hingga Rp25.000, serta busana khas Sabang dengan harga Rp35.000 hingga Rp150.000, bergantung pada jenis dan kualitas bahan.
Kondisi serupa disampaikan Rizal, pelaku usaha souvenir lainnya di Sabang. Ia menyatakan bahwa penurunan jumlah wisatawan berdampak langsung terhadap distribusi dan perputaran barang dagangan.
“Biasanya pelaku usaha yang berjualan di kawasan Kilometer Nol secara rutin mengambil tambahan stok dari tokonya. Namun sejak pascabanjir, aktivitas tersebut belum kembali terjadi,” ujar Rizal.
Baca juga: BMKG Prakirakan Hujan Ringan Guyur Sabang, Minggu 28 Desember
Meski demikian, Rizal menyebutkan bahwa kunjungan wisatawan asal Malaysia relatif meningkat di tengah menurunnya wisatawan domestik. Ia berharap pemerintah dan instansi terkait dapat terus memberikan informasi terkini mengenai kondisi akses darat pascabanjir agar calon wisatawan memperoleh kepastian sebelum melakukan perjalanan.
Ia juga menegaskan bahwa kondisi Kota Sabang saat ini dalam keadaan aman dan layak dikunjungi, serta berharap proses perbaikan infrastruktur yang terdampak banjir dapat segera diselesaikan guna memulihkan aktivitas pariwisata dan perekonomian daerah.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pengunjung-mengamati-koleksi-baju-khas-Sabang-di-salah-satu-toko.jpg)