Opini
Ketika Ilmu, Kekuasaan, dan Sepeda Motor Bertemu di Warung Kopi
Senior yang dulu menjadi panutan di kampus Banda Aceh era 1990-an, sosok aktivis HMI yang karakternya melegenda, kini seorang Guru Besar dan
Oleh: Ilyasak, SPd, M.Pd, Pengawas Sekolah Lanjutan Tingkat Atas Bireuen
SUBUH itu di Bireuen terasa berbeda. Udara lembap pasca banjir bandang masih menyisakan kesan kelam, tetapi pertemuan tak terduga di Masjid Al Ikhlas justru menyiram semangat. Berdampingan shaf dengan Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si., adalah kejutan pertama.
Senior yang dulu menjadi panutan di kampus Banda Aceh era 1990-an, sosok aktivis HMI yang karakternya melegenda, kini seorang Guru Besar dan mantan Rektor dua universitas.
Tidak sendirian, beliau bersama Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG, seorang pakar kedokteran ternama. Mereka sedang dalam misi kemanusiaan menanggapi bencana yang melanda Aceh.
Usai shalat, beliau mengajak ngopi. Sebuah ajakan sederhana yang memantik dilema. Kendaraan kami cuma sebuah sepeda motor tua. Dengan sedikit ragu, kami tawarkan: “Apakah Bapak Profesor bersedia dibonceng bertiga?”
Jawabannya justru menjadi momen pembelajaran paling mahal sepanjang karir kami sebagai guru dan pengawas sekolah: sebuah senyum tulus dan anggukan siap.
Dua profesor, dua pilar intelektual Aceh, dengan sukarela naik di atas jok motor sederhana, menuju warung kopi. Di sanalah, dalam 30 menit berbincang, terkristalisasi sebuah konsep keteladanan paripurna yang langka.
Keteladanan yang Menyentuh Bumi: Dari Menara Gading ke Jok Motor
Dalam dunia akademik yang sering dikritik elitis, tindakan sederhana naik motor bersama staf muda adalah sebuah pernyataan filosofis yang kuat.
Data dari World Values Survey menunjukkan bahwa salah satu indikator sosial budaya yang dihargai di masyarakat kolektif seperti Indonesia adalah kesederhanaan dan kedekatan pemimpin (Inglehart & Welzel, 2018).
Apridar dan Rajuddin mempraktikkannya secara nyata. Mereka sedang tidak berada di dalam mobil dinas mewah, meski berhak. Mereka memilih koneksi manusiawi yang otentik.
Ini adalah cerminan servant leadership (kepemimpinan pelayan) yang banyak dikaji dalam teori manajemen modern. Robert Greenleaf (1970) mendefinisikan pemimpin pelayan sebagai mereka yang pertama ingin melayani, lalu memimpin sebagai sebuah cara untuk melanjutkan pelayanan tersebut.
Bantuan karier untuk rekan-rekan semasa, yang diceritakan selama perjalanan dari masa Dekan, Pembantu Rektor, Ketua LPPM, hingga Rektor Universitas Malikussaleh (2010-2018), bukanlah politik transaksional. Itu adalah manifestasi dari komitmen membangun ekosistem.
Data dari Kemendikbudristek menunjukkan bahwa di bawah kepemimpinannya, Unimal mengalami pertumbuhan signifikan dalam jumlah program studi dan penelitian, yang tentu membuka lapangan karir luas (PDDikti, 2022).
Setelah purnatugas dari Unimal, dedikasinya berlanjut dengan mengembangkan Uniki di Bireuen, akar leluhurnya. Ini adalah teladan leader as a builder, pemimpin sebagai pembangun institusi berkelanjutan.
Intelektual yang Bergerak: Dari Teori ke Aksi Kemanusiaan
Percakapan di warung kopi tidak hanya tentang nostalgia. Dua profesor ini baru saja melintasi Banda Aceh, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, dan Aceh Tamiang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/teladan-iokjkl.jpg)