Jumat, 15 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Tanpa Bangku dan Meja, 18 Sekolah Belajar di Tenda Darurat

Kita akan terus berupaya hadirkan sekolah darurat bagi siswa yang saat ini masih belajar di tenda. Pembangunannya akan dilaksanakan secepatnya

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE SERAMBI INDONESIA EDISI SELASA 20260106 

Ringkasan Berita:
  • Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti mengungkapkan sebanyak 18 sekolah di Aceh terpaksa menjalankan proses belajar mengajar di tenda darurat pascabencana banjir dan longsor.
  • Aktivitas belajar dilakukan dalam kondisi serba terbatas, tanpa bangku dan meja, menyusul rusaknya fasilitas pendidikan akibat bencana.
  • Abdul Muhari, menyampaikan, pada hari pertama sekolah diisi dengan sesi trauma healing. Siswa dan guru saling berbagi cerita mengenai pengalaman mereka selama bencana. 

“Kita akan terus berupaya menghadirkan sekolah darurat bagi siswa yang saat ini masih belajar di tenda. Pembangunannya akan dilaksanakan secepatnya,” ABDUL MU’TI, Mendikdasmen RI

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti mengungkapkan sebanyak 18 sekolah di Aceh terpaksa menjalankan proses belajar mengajar di tenda darurat pascabencana banjir dan longsor. Aktivitas belajar dilakukan dalam kondisi serba terbatas, tanpa bangku dan meja, menyusul rusaknya fasilitas pendidikan akibat bencana.

“Kita akan terus berupaya menghadirkan sekolah darurat bagi siswa yang saat ini masih belajar di tenda. Pembangunannya akan dilaksanakan secepatnya,” kata Abdul Mu’ti di sela-sela tugasnya sebagai pembina upacara pada hari pertama masuk sekolah pascabencana di SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (5/1/2026).

Ia menjelaskan, Provinsi Aceh menjadi wilayah dengan dampak kerusakan fasilitas pendidikan terbesar akibat banjir dan longsor, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang. Secara keseluruhan, bencana tersebut berdampak pada 2.756 sekolah atau satuan pendidikan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Dari jumlah tersebut, sekitar 90 persen sekolah atau sebanyak 2.468 satuan pendidikan sudah kembali beroperasi. Namun, 18 sekolah masih harus menggelar kegiatan belajar mengajar di tenda darurat, sementara 288 sekolah lainnya masih dalam tahap pembersihan lumpur dan puing pascabencana.

Dalam kesempatan itu, Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan pendidikan darurat. Abdul Mu’ti secara simbolis menyerahkan 2.000 paket school kit dari total 15.500 paket yang disiapkan untuk siswa terdampak bencana di Aceh.

Kemendikdasmen juga memberikan 78 unit tenda, 100 ruang kelas darurat, 90 ribu eksemplar buku pelajaran, dukungan psikososial senilai Rp 300 juta, serta Dana Operasional Pendidikan Darurat sebesar Rp 11,29 miliar.

Didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, Mendikdasmen juga meninjau perkembangan revitalisasi sekolah yang terdampak banjir di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa.

Terpisah, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengonfirmasi bahwa meski sekolah telah dibuka, kondisi infrastruktur pendidikan belum pulih total. Di SD Negeri 1 Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, misalnya, siswa terpaksa belajar menggunakan alas terpal karena meja dan kursi rusak terendam banjir.

“Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dengan sarana seadanya, termasuk penggunaan terpal sebagai alas belajar. Selain itu, belum seluruh peserta didik dapat hadir karena sebagian masih mengungsi di luar daerah,” ujar Abdul Muhari.

Sangat Antusias

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, yang dihubungi Serambi menyampaikan, sejumlah sekolah di Aceh saat ini belum sepenuhnya pulih pascabencana. Meski demikian, mayoritas sekolah terdampak sudah mulai kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara terbatas.

Murthalamuddin mengaku antusiasme siswa dan guru pada hari pertama masuk sekolah pascabencana cukup tinggi dan bahkan melampaui perkiraan. Hal tersebut ia sampaikan usai mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI saat meninjau SMA Negeri 4 Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang.

“Tadi saya mendampingi Pak Menteri. Alhamdulillah, itu di luar prediksi kita. Di SMA 4 Kejuruan Muda, awalnya kami perkirakan siswa yang hadir hanya sekitar setengah, ternyata kehadirannya cukup tinggi dan sangat antusias,” ujarnya.

Menurut Murthalamuddin, kondisi serupa juga terlihat di sekolah lain. Para siswa tampak bersemangat karena sudah lebih dari satu bulan tidak dapat berinteraksi langsung dengan teman dan guru akibat bencana. Bahkan, kata dia, sejumlah guru yang dalam kondisi kurang sehat tetap berusaha hadir.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved