Rabu, 29 April 2026

Banjir Landa Aceh

Guru SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng: “Entah Kapan Sekolah Kami Bersih”

Di tengah kompleks sekolah, lumpur masih menggunung setinggi lebih dari satu meter, bahkan menyisakan genangan air

Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Nur Nihayati
SERAMBINEWS.COM/YUSMANDIN IDRIS/Yusmandin Idris
Guru - Guru SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng, Bireuen, Jumat (23/1/2026) duduk di halaman sekolah mereka melihat tumpukan lumpur. SERAMBI/YUSMANDIN IDRIS 

Ringkasan Berita:
  • SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng yang kini menjadi saksi bisu dahsyatnya banjir bandang akhir tahun lalu.
  • Murniati, guru bahasa Inggris, mengungkapkan rasa lelah sekaligus pasrah. “Sekolah kami hingga saat ini belum bersih, entah kapan akan bersih,” katanya.
  • Di tengah kompleks sekolah, lumpur masih menggunung setinggi lebih dari satu meter, bahkan menyisakan genangan air

 


Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmadin Idris | Bireuen

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Di Desa Lueng Daneun, tepat di samping kantor camat, berdiri SMAN 1 Peusangan Siblah Krueng yang kini menjadi saksi bisu dahsyatnya banjir bandang akhir tahun lalu. 

Hingga Jumat (23/1/2026), sekolah ini masih dipenuhi endapan lumpur, membuat proses belajar mengajar berjalan seadanya.

Beberapa ruangan memang sudah dibersihkan, namun para siswa harus duduk di lantai karena seluruh fasilitas rusak. 

Di tengah kompleks sekolah, lumpur masih menggunung setinggi lebih dari satu meter, bahkan menyisakan genangan air. 

Rangka kursi besi berserakan, papan kayu yang rapuh terendam, dan sebagian guru memilih duduk di selasar sekolah yang masih bisa digunakan.

Belajar di Tengah Lumpur

Murniati, guru bahasa Inggris, mengungkapkan rasa lelah sekaligus pasrah. “Sekolah kami hingga saat ini belum bersih, entah kapan akan bersih,” katanya. 

Meski pembersihan dilakukan oleh siswa, guru, relawan, hingga unsur TNI, endapan lumpur tetap menyulitkan. Hanya beberapa ruangan yang bisa dipakai untuk belajar, itu pun dengan kondisi seadanya.

Khairurrazi, guru lainnya, menambahkan bahwa dari sembilan ruang belajar, ruang UKS, ruang guru, dan ruang kepala sekolah, sebagian besar sudah dibersihkan. 

Namun laboratorium yang sempat menjadi kebanggaan kini rusak total. 

“Jumlah murid ada 170 orang, guru 60 orang. Semua berusaha bertahan, tapi fasilitas hancur,” ujarnya.

Bantuan yang Belum Menuntaskan

Beberapa waktu lalu, alat berat dari Dinas Pendidikan yang dikirim Gubernur Aceh sempat membantu membersihkan sebagian lumpur. 

Namun pekerjaan besar masih menanti. Ketinggian air saat banjir mencapai lebih dari dua meter, merendam seluruh peralatan sekolah, termasuk televisi besar yang baru dibeli dua hari sebelum musibah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved