Jumat, 8 Mei 2026

TNI

Cerita Satgas Pamtas Yonif 113/Jaya Sakti Menembus Kabut di Homeyo

Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, tersimpan realitas kehidupan yang menggetarkan hati. Di Kampung

Tayang:
Penulis: Zaki Mubarak | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/Dok Yonif 113/JS
ANAK-ANAK SANEPA: Satgas Pamtas RI-PNG Mobile Yonif 113/JS asal Aceh, menyapa anak-anak di Kampung Sanepa, salah satu dari 21 kampung di Distrik Homeyo, hak-hak dasar anak untuk tertawa, bersekolah, dan hidup sehat seolah menjadi kemewahan yang sulit digapai, Jumat (23/1/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Hingga awal 2026, Kampung Sanepa masih terisolasi dari pembangunan fasilitas dasar. 
  • Akses menuju kampung pedalaman ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari menyusuri hutan.
  • Dansatgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 113/Jaya Sakti, Letkol Inf Agus Susanto, mengatakan isolasi geografis yang diperparah konflik berkepanjangan di wilayah pegunungan.

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Zaki Mubarak | Intan Jaya

SERAMBINEWS.COM, INTAN JAYA – Di balik rimbunnya hutan hujan tropis Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, tersimpan realitas kehidupan yang menggetarkan hati. Di Kampung Sanepa, salah satu dari 21 kampung di Distrik Homeyo, hak-hak dasar anak untuk tertawa, bersekolah, dan hidup sehat masih terasa seperti kemewahan yang sulit digapai.

Hingga awal 2026, Kampung Sanepa masih terisolasi dari pembangunan fasilitas dasar. Akses menuju kampung pedalaman ini hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama berhari-hari menyusuri hutan belantara atau menggunakan jalur udara dengan biaya yang sangat mahal.

Dansatgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 113/Jaya Sakti, Letkol Inf Agus Susanto, mengatakan isolasi geografis yang diperparah konflik berkepanjangan di wilayah pegunungan membuat anak-anak Sanepa tumbuh dalam kepungan kemiskinan dan ketidakpastian masa depan.

Menurutnya, kehidupan anak-anak di Sanepa sangat kontras dengan anak-anak di wilayah perkotaan. Jika anak-anak kota akrab dengan gawai, kartun populer, dan internet, anak-anak Sanepa hidup jauh dari sentuhan teknologi.

“Keseharian mereka diisi dengan permainan tradisional, seperti mancala, atau bermain dengan tumpukan batu dan dedaunan,” ujar Letkol Inf Agus Susanto melalui keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).

Alih-alih belajar di ruang kelas yang memadai, anak-anak Sanepa lebih banyak menghabiskan waktu membantu pekerjaan rumah tangga sederhana atau menjelajahi hutan yang menjadi halaman bermain sekaligus sumber kehidupan mereka.

“Mereka tidak mengenal berita dari luar daerah atau tren teknologi. Dunia mereka adalah hutan, budaya, dan bertahan hidup,” ungkapnya.

Baca juga: Satgas Yonif 113 JS Ikut Tradisi Budaya Bakar Batu, Ritual Adat Khas Tanah Papua

Namun, di balik keterbatasan tersebut, tersimpan sisi yang mengagumkan. Keterpisahan dari dunia modern membuat anak-anak Sanepa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan alam dan budaya leluhur. Mereka mewarisi keterampilan praktis serta ketahanan fisik yang jarang dimiliki anak-anak modern.

“Sayangnya, kearifan lokal saja tidak cukup untuk menjamin masa depan mereka. Tanpa akses pendidikan, informasi, dan layanan kesehatan yang memadai, peluang mereka untuk berkembang menjadi sangat terbatas,” imbuh Agus Susanto.

Ia menambahkan, rendahnya literasi kesehatan juga membuat anak-anak rentan terhadap wabah penyakit dan risiko bencana yang seharusnya dapat dicegah.

Kondisi Kampung Sanepa menjadi pengingat bahwa pembangunan di Tanah Papua masih menyisakan kesenjangan besar di wilayah terpencil. Kehadiran negara, kata dia, sangat dibutuhkan agar hak tumbuh dan berkembang anak-anak Papua tidak sekadar menjadi slogan.

“Anak-anak Sanepa berhak mendapatkan lebih dari sekadar bertahan hidup. Mereka berhak bermimpi dan memiliki jalan untuk mewujudkannya,” tegasnya.

Dalam rangka menjawab keterbatasan tersebut, Satgas Pamtas RI–PNG Mobile Yonif 113/Jaya Sakti hadir di Titik Kuat (TK) Sanepa dengan berbagai upaya nyata. Salah satunya melalui program Jaya Sakti Sehat berupa layanan kesehatan gratis yang digelar secara rutin bagi warga, terutama anak-anak, mengingat jauhnya akses menuju fasilitas medis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved