Kamis, 4 Juni 2026

Berita Banda Aceh

Bantah Aceh Intoleran, Mahasiswi Cantik UIN Ar-Raniry Teliti Relasi Antaragama di Aceh

Mahasiswi UIN Ar-Raniry angkat riset soal strategi FKUB Aceh melawan stigma intoleran antaragama. Karyanya lulus dengan nilai A.

Tayang:
Editor: Amirullah
for serambinews
Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam FDK UIN Ar-Raniry, Wildia Ulfita Ladayani (tengah), berfoto bersama dewan penguji usai sidang munaqasyah karya tulis ilmiah di Banda Aceh. Penelitian Wildia mengulas strategi komunikasi FKUB Aceh dalam menghadapi stereotip intoleransi terhadap agama selain Islam dan dinyatakan lulus dengan nilai A. 

SERAMBINEWS.COM, Banda Aceh – Mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Wildia Ulfita Ladayani, terpanggil untuk meluruskan stereotip atau stigma negatif dalam relasi antaragama di Aceh.

“Selama ini kerap muncul pemberitaan dari media di luar Aceh yang menuding bahwa Aceh bersikap intoleran terhadap penganut agama-agama selain Islam,” papar Wildia di hadapan dewan penguji karya tulis ilmiah jurnal yang terdiri dari Hasan Basri M. Nur PhD, Syahril Furqani M.I.Kom, Taufik SE.Ak, M.Ed dan Dr Syukri Syamaun MAg.

“Selaku orang Aceh, saya merasa terganggu dan tidak bisa menerima label intoleran tersebut karena faktanya tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan,” ujar Wildia mengenai alasan dia melakukan penelitian.

“Ganjalan inilah yang mendorong saya untuk melakukan penelitian ini,” sambung gadis cantik yang masih duduk di semester tujuh ini dan disaksikan belasan temannya.

Wildia mengatakan, dirinya menyiapkan proposal penelitian sejak masih duduk di semester lima dalam Mata Kuliah Metode Penelitian Komunikasi. 

“Lalu, semester enam ikut seminar proposal dan dinyatakan diterima secara utuh. Kamudian di semester tujuh saya rampungkan penelitian,” katanya.

“Hasil penelitian ini dilaporkan melalui Jurnal Dakwatuna yang terindeks Sinta 5 agar dapat menjadi referensi penyeimbang sekaligus rujukan bagi penulis atau peneliti relasi agama di Indonesia,” kata gadis yang dikenal sebagai penyiar radio As-Salam Banda Aceh ini.

Baca juga: Kembalikan Semangat Belajar, M Zulhas Agustian Terima Bantuan Sepeda dari BFLF

Dalam penelitiannya, Wildia memfokuskan pada Strategi Komunikasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh dalam Menghadapi Stereotip Aceh Intoleran Terhadap Agama selain Islam. 

Menurutnya, FKUB sebagai lembaga sosial di bawah naungan Pemda Aceh menjadi salah satu lembaga sentral dalam mengimbangi framing negatif dalam relasi antaragama di Aceh. 

“Selain FKUB, terdapat Badan Kesbangpol, Dinas Syariat Islam, dan MPU yang mesti mengimbangi stigma negatif kehidupan sosial antaragama di Aceh,” katanya.

Wildia mengaku selama berbulan-bulan melakukan pengamatan kehidupan umat minoritas di gereja Kristen, gereja Katolik, vihara Buddha dan kuil Hindu yang ada di Banda Aceh.

“Saya juga melakukan wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh agama non-muslim di Aceh. Ada tokoh Buddha, Hindu, Katolik, dan Kristen. Semua mereka memberi kesaksian bahwa orang Aceh sangat toleran terhadap penganut agama lain,” ujar Wildia tegas.

“Stereotip intoleran bagi Aceh sungguh tidak sesuai dengan fakta. Tudingan itu sungguh merugikan Aceh, terutama dari aspek investasi dan pariwisata. Oleh sebab itu, kita semua, terutama Pemda, harus melawannya,” saran Wildia.

Dewan penguji sidang munaqasyah menyatakan puas atas laporan mendalam yang berhasil didapatkan oleh Wildia, dan dia dinyatakan lulus dengan A. []

Baca juga: Berlakukan Sistem Buka Tutup, Polres Bireuen Sasar Knalpot Brong Pelintas di Jembatan Kutablang

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved