Selasa, 5 Mei 2026

Opini

Literasi Digital di Aceh: Ancaman atau Peluang?

Gelombang transformasi digital yang deras datang bukan lagi sesuatu yang dapat ditolak, melainkan sebuah realitas

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

DI era yang semakin terhubung, literasi digital telah menjadi sebuah keniscayaan, termasuk bagi masyarakat Aceh. Provinsi yang kaya akan warisan budaya, sejarah, dan agama yang kuat ini sedang berdiri di persimpangan jalan. 

Gelombang transformasi digital yang deras datang bukan lagi sesuatu yang dapat ditolak, melainkan sebuah realitas yang harus dihadapi. Pertanyaan besarnya adalah: bagi Aceh, apakah literasi digital ini merupakan ancaman yang berpotensi mengikis identitas dan nilai-nilai luhur, atau justru peluang emas untuk melompat ke depan, mempertahankan relevansi, dan mencapai kemajuan yang berkelanjutan? 

Berdasarkan data dan fakta yang ada, jawabannya tidak hitam putih. Literasi digital adalah pedang bermata dua; ia akan menjadi ancaman jika diabaikan, tetapi merupakan peluang luar biasa jika diadopsi dengan strategi yang cerdas dan kontekstual.

Potensi Ancaman: Di Balik Layar yang Mengintai

Mengutip data We Are Social per 2023, Indonesia memiliki 212,9 juta pengguna internet, dengan penetrasi yang terus merata hingga ke daerah. Aceh, dengan populasi sekitar 5,4 juta jiwa (BPS 2022), merupakan bagian dari gelombang ini. 

Namun, peningkatan kuantitas penggunaan belum tentu diiringi dengan kualitas literasi. Inilah sumber dari segala ancaman.

Inflasi dan Piring Nasi: Analisis Ekonomi Politik dan Masa Depan Indonesia

Pertama, ancaman terhadap nilai sosial dan budaya. Aceh memiliki karakteristik sosio-kultural yang unik dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan adat istiadat (hukum adat). Ruang digital yang bebas dan tanpa batas dapat menjadi saluran masuknya nilai-nilai global yang seringkali berseberangan dengan nilai lokal. 

Konten-konten yang tidak sesuai dengan syariat Islam, gaya hidup hedonistik, dan individualisme dapat mengikis nilai-nilai kegotongroyongan dan kesopanan yang menjadi ciri khas masyarakat Aceh. Tanpa filter literasi digital yang baik, generasi muda rentan terpapar dan terpengaruh oleh nilai-nilai asing ini.

Kedua, penyebaran misinformasi dan hoax. Aceh bukanlah daerah yang kebal dari fenomena ini. Isu-isu sensitif terkait politik, agama, dan SARA dapat dengan mudah menyebar dan memicu perpecahan sosial. Masyarakat dengan literasi digital rendah cenderung lebih mudah percaya dan membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. 

Dalam konteks Aceh yang memiliki sejarah konflik, penyebaran hoax dapat menjadi pemicu ketidakstabilan yang berbahaya.

Ketiga, ancaman keamanan dan privasi. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat peningkatan signifikan dalam kasus penipuan digital, phishing, dan kebocoran data. 

Masyarakat Aceh yang baru mengenal transaksi digital, seperti e-commerce dan perbankan digital, sangat rentan menjadi korban kejahatan siber jika tidak dibekali dengan pengetahuan tentang keamanan digital yang memadai. Kerugian materiil dan non-materiil dapat menjadi dampak serius dari rendahnya pemahaman ini.

Peluang Emas: Membuka Pintu Kemajuan Aceh

Di balik segala ancamannya, justru dalam literasi digitallah terletak peluang-peluang strategis untuk memajukan Aceh.

Pertama, peluang ekonomi digital. Aceh memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah yang dapat dipasarkan ke seluruh dunia. Literasi digital memberdayakan UMKM, pengrajin, dan pelaku usaha lokal untuk naik kelas. Mereka dapat memanfaatkan platform e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, atau bahkan marketplace khusus syariah untuk menjual produk-produk unggulan seperti kopi Gayo, sarung tenun Aceh, keripik pisang, dan cenderamata khas. 

Promosi melalui media sosial dan digital marketing dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara untuk berkunjung, membangkitkan sektor pariwisata yang sempat terpuruk. Data dari Bank Indonesia menunjukkan transaksi e-commerce di Indonesia terus tumbuh, dan ini adalah pasar yang harus diraih oleh pelaku usaha Aceh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved