Selasa, 21 April 2026

Berita Banda Aceh

Penelitian UIN Ar-Raniry: Terdapat 12 Rumah Ibadah Beda Agama dalam Satu Desa di Banda Aceh

Agamna melakukan penelitian ini dilatarbelakangi adanya tudingan selama ini bahwa Banda Aceh memiliki tingkat toleransi antaragama yang rendah.

Editor: Amirullah
for serambinews
Agamna Azka (tengah), mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) FDK UIN Ar-Raniry, berfoto bersama dewan penguji usai mempresentasikan skripsi berjudul “Komunikasi Pengurus Vihara, Gereja, dan Masjid dalam Mewujudkan Kampung Kerukunan di Kota Banda Aceh” di aula FDK UIN Ar-Raniry, Selasa (3/2/2026). 

SERAMBINEWS.COM, Banda Aceh Agamna Azka, mahasiswa semester tujuh Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry berhasil merampungkan penelitian menarik sebagai tugas akhir pendidikannya.

Penelitian Agamna berjudul “Komunikasi Pengurus Vihara, Gereja, dan Masjid dalam Mewujudkan Kampung Kerukunan di Kota Banda Aceh. Ia memfokuskan penelitian di Kampung Mulia Banda Aceh.

Agamna melakukan penelitian ini dilatarbelakangi adanya tudingan selama ini bahwa Banda Aceh memiliki tingkat toleransi antaragama yang rendah.

“Tudingan tersebut telah merusak citra Banda Aceh yang sebenarnya sangat toleran,” ujar Agamna saat mempresentasikan hasil penelitian di depan dewan penguji skripsi yang terdiri dari Hasan Basri M. Nur PhD (ketua), Arif Ramdan Sulaeman MA (sekretaris), Tgk Haji Fakhruddin Lahmuddin MPd (penguji 1) dan Dr Fairus (Penguji 2).

“Ternyata kondisi di lapangan berbanding terbalik dari tudingan itu. Bahkan salah satu desa di Banda Aceh yaitu Kampung Mulia dinobatkan sebagai desa sadar kerukunan,” papar Agamna dalam sidang yang berlangsung di aula FDK UIN Ar-Raniry, Selasa (03/02/2026).

Agamna melaporkan, di Kampung Mulia terdapat 12 unit rumah ibadah beda agama, yaitu 3 unit gereja Kristen, 3 unit vihara Budda, 3 unit masjid dan 3 unit mushalla.

Agamna menyesalkan adanya pihak-pihak di luar Aceh yang enggan melihat fakta harmoni antaragama di Aceh.

Baca juga: Rumah Toleransi Ansor Jadi Simbol Silaturahmi Santri dan Ruang Dialog Umat

Dia menyarankan orang luar untuk datang dan mengamati relasi agama di Aceh sebelum berbicara. 

Agamna memfokuskan penelitiannya pada praktik komunikasi antara pengurus vihara, gereja, masjid, dan mushalla dalam mewujudkan Kampung Kerukunan di Banda Aceh.  Dia melakukan analisis dengan mengacu pada teori komunikasi antarbudaya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerukunan antarumat beragama dibangun melalui tiga pola komunikasi utama. Pertama, komunikasi formal yang diwujudkan dalam forum dialog lintas.

Kedua, komunikasi nonformal antara pengurus rumah ibadah dan masyarakat lintas agama.

Ketiga, edukasi kerukunan yang disampaikan melalui khutbah, ceramah, dan pengajaran keagamaan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai toleransi antaragama.

“Temuan ini menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya berperan dalam membangun kerukunan dan toleransi antaragama, sekaligus menjadi kontradiktif atas indeks toleransi rendah yang dilekatkan pada Banda Aceh,” pungkas dia. 

Dewan penguji merasa puas atas hasil penelitian yang dilakukan selama satu tahun oleh Agamna. Dewan penguji merekomendasikan agar penelitian ini diperluas untuk kemudian dibukukan sehingga menjadi referensi terkini tentang relasi agama di Aceh.

Pada tahun 2025, Agamna Azka bersama Murizal Hamzah (jurnalis nasional) dan Hasan Basri M. Nur PhD (akademisi) menerbitkan buku berjudul: 1 Kota 5 Agama di Aceh.

Buku 1 Kota 5 Agama di Aceh lahir dari riset pada tahun 2024-2025. Buku tersebut dipasarkan secara online. Info lebih lanjut dapat menghubungi Agamna di nomor kontak: 082286070091. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved