Sabtu, 18 April 2026

RAMADHAN MUBARAK

Ramadhan Bulan Penguat Solidaritas

Ramadhan merupakan bulan yang dimuliakan bukan hanya karena kewajiban puasa, tetapi juga karena nilai sosial dan spiritual yang dikandung di dalamnya

|
Editor: mufti
IST
Tgk Faisal Ali, Ketua MPU Aceh 

Tgk. H. Faisal Ali, S.Sos, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh

Ramadhan merupakan bulan yang dimuliakan bukan hanya karena kewajiban puasa, tetapi juga karena nilai-nilai sosial dan spiritual yang dikandung di dalamnya. Ia hadir sebagai madrasah ruhaniyah yang membentuk kepribadian individu sekaligus memperkuat ikatan sosial umat. 

Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, Ramadhan memiliki peran strategis sebagai momentum penguatan ukhuwah Islamiyah—persaudaraan sesama Muslim yang berlandaskan iman, akhlak, dan tanggung jawab moral.

Tentunya dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, ukhuwah menempati posisi sentral sebagai fondasi kehidupan bersama. Al-Qur’an secara tegas menegaskan pentingnya persaudaraan ini. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat: 10). 

Ayat ini menempatkan ukhuwah bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai konsekuensi keimanan. Keimanan yang benar menuntut keterhubungan sosial yang harmonis, saling menguatkan, dan penuh empati.

Puasa Ramadhan mendidik umat Islam untuk menahan diri secara lahir dan batin. Tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan emosi, ego, serta kecenderungan merasa paling benar. Dalam konteks ini, puasa menjadi sarana tazkiyatun nafs yang berdampak langsung pada kualitas relasi sosial. Orang yang puasanya benar akan semakin rendah hati, lembut dalam tutur kata, dan mudah merasakan penderitaan orang lain.

Dimensi sosial ukhuwah ini sangat relevan dengan kondisi Aceh pasca musibah longsor dan banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah. Bencana tersebut tidak hanya menyisakan luka fisik berupa rumah yang rusak dan lahan yang hilang, tetapi juga trauma dan duka mendalam bagi masyarakat. Dalam situasi seperti ini, ukhuwah Islamiyah menemukan makna nyatanya. 

Ramadhan hadir sebagai ruang penguat solidaritas: ketika tetangga saling membantu, masjid menjadi pusat penggalangan kepedulian, dan tangan-tangan dermawan terulur bagi mereka yang terdampak. Nabi Muhammad SAW menegaskan hal ini dalam sabdanya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya dizalimi” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Hadis ini menegaskan bahwa persaudaraan bukan sekadar ikatan emosional, tetapi tanggung jawab moral. Dalam konteks bencana, membiarkan saudara kita berjuang sendiri di tengah kesulitan adalah bentuk pengabaian terhadap makna ukhuwah itu sendiri. Tradisi Ramadhan seperti buka puasa bersama, tadarus Al-Qur’an, pengajian, dan i‘tikaf menjadi ruang-ruang sosial yang efektif dalam merawat ukhuwah.

Di Aceh, tradisi ini semakin bermakna ketika dilaksanakan di tengah suasana pemulihan pascabencana. Perbedaan latar belakang sosial dan ekonomi melebur dalam satu ikhtiar: saling menguatkan dan mencari ridha Allah. Inilah wajah Islam yang meneduhkanIslam yang hadir membawa harapan di tengah duka.

Keberadaan ukhuwah Islamiyah juga menghadapi tantangan serius. Polarisasi sosial, perbedaan pandangan, serta budaya saling menyalahkan—terutama di ruang digital—sering kali melemahkan persaudaraan.

Ramadhan seharusnya menjadi momentum muhasabah bersama. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa kualitas ibadah diukur dari dampaknya terhadap akhlak. Ibadah yang tidak melahirkan kepedulian sosial hanyalah ritual kosong.

Penguatan ukhuwah Islamiyah harus tercermin dalam kepedulian nyata melalui zakat, infak, dan sedekah. Bagi masyarakat Aceh yang tengah bangkit dari musibah longsor dan banjir bandang, solidaritas ini menjadi penopang utama harapan.

Beranjak dari sinilah Ramadhan menjadi titik tolak, agar ukhuwah yang dirawat selama bulan suci terus hidup sepanjang tahun, membentuk umat yang dewasa, sejuk, dan bermartabat dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Lantas sudahkah kita implementasikan nilai-nilai tersebut? 

Wallahu muwaffiq ila aqwamit thariq

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved