Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Aceh Timur

Psikolog Sebut Pria Beresiko Bunuh Diri Dua Kali Lipat Dibanding Wanita Setelah Perceraian 

"Ada stigma budaya yang sangat kuat terhadap kesehatan mental pria. Mereka dididik untuk tidak mengeluh. Akibatnya, saat perceraian terjadi...

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Maulidi Alfata | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/HO/Foto: dokumen pribadi Iyulen
Dosen Psikologi UIN Ar-raniry, Iyulen Pebry Zuanny, S.Psi., M.Psi., 

Laporan Maulidi Alfata | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI - Kasus bunuh diri yang melibatkan seorang pria di Aceh Timur pasca perceraian baru-baru ini menyita perhatian publik.

Di balik tragedi tersebut, tersimpan fenomena psikologis yang kelam.

Pria ternyata memiliki resiko bunuh diri yang tinggi hingga dua kali lipat dibanding wanita setelah perceraian atau runtuhnya rumah tangga.

Dosen Psikologi UIN Ar-raniry, Iyulen Pebry Zuanny SPsi MPsi mengungkapkan bahwa fenomena ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan akumulasi dari krisis indetitas, isolasi sosial, dan beban stigma yang dipikul pria dalam diam.

Menurut Iyulen, norma masyarakat yang menuntut pria untuk selalu tampil tangguh justru menjadi bumerang saat badai rumah tangga menerjang.

"Ada stigma budaya yang sangat kuat terhadap kesehatan mental pria. Mereka dididik untuk tidak mengeluh. Akibatnya, saat perceraian terjadi, pria cenderung menumpuk emosi dan melakukan tindakan impulsif karena tidak tahu cara menyalurkan rasa sakitnya," ujar Iyulen, saat dikonfirmasi Serambinews.com pada Selasa (24/2/2026).

Ia menambahkan, berbeda dengan wanita yang umumnya memiliki jaringan sosial lebih luas untuk berbagi cerita, pria cenderung menarik diri secara emosional.

Hal inilah yang memicu terjadinya isolasi sosial akut.

Baca juga: Pria Aceh Timur Ditemukan Tergantung di Pohon Sawit, Diduga Bunuh Diri

Iyulen membedah empat pilar psikologis yang sering kali membuat seorang pria merasa kehilangan pegangan setelah bercerai yaitu:

Runtuhnya Identitas, perceraian merampas peran pria sebagai kepala keluarga.

Kehilangan status ini sering kali memicu perasaan gagal yang mendalam.

Kehilangan struktur keluarga berarti kehilangan sistem pendukung utama.

Keengganan mencari bantuan profesional (psikolog/psikiater) karena takut dianggap lemah, membuat depresi berkembang tanpa terkendali.

Dan terowongan (tunnel vision). 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved