Minggu, 3 Mei 2026

Berita Aceh Utara

Minta Pemerintah Hidupkan Usaha Garam di Aceh Utara, Anggota Dewan: Kualitasnya Lebih Bagus

“Pemerintah harus hadir untuk menghidupkan kembali usaha garam rebus ini. Selain memiliki nilai sejarah, hasil penelitian BRIN juga menunjukkan...

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nurul Hayati
SERAMBI/BUDI FATRIA
ILUSTRASI - AZHAR (52) memasak garam yang diproduksinya secara tradisional di Gampong Lam Ujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Selasa (2/7). 
Ringkasan Berita:
  • Fakhrurrazi, Wakil Ketua Fraksi KIAS DPRK Aceh Utara, meminta pemerintah pusat dan daerah memberi perhatian serius terhadap usaha garam rebus tradisional di Aceh Utara.
  • Sentra produksi garam rebus di Desa Lancok (Syamtalira Bayu), Desa Matang Tunong, dan Desa Kuala Cangkoi (Lapang) hancur akibat banjir bandang November 2025, memperburuk kondisi ekonomi masyarakat pesisir.
  • Usaha garam rebus merupakan tradisi sejak masa Kerajaan Samudera Pase, namun kini jumlah petani semakin berkurang.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara 

SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Wakil Ketua Fraksi Karya Independen Amanat Sejahtera (KIAS) DPRK Aceh Utara, Fakhrurrazi, S.IP, meminta pemerintah daerah dan pusat memberi perhatian serius terhadap keberlangsungan usaha garam rebus tradisional di Aceh Utara

Karena sentra produksi garam rebus di Aceh Utara di tiga desa, yakni Desa Lancok Kecamatan Syamtalira Bayu, serta Desa Matang Tunong dan Desa Kuala Cangkoi di Kecamatan Lapang sudah hancur setelah diterjang banjir bandang besar pada akhir November 2025. 

Kerusakan tersebut semakin memperberat kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang selama ini bergantung pada sektor kelautan dan perikanan.

Padahal berdasarkan hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan garam rebus yang diproduksi masyarakat di memiliki kualitas lebih baik dibandingkan garam kerosok yang dihasilkan melalui proses penjemuran.

Fakhrurrazi yang juga Ketua DPD Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh Utara kepada Serambinews.com, Senin (16/3/2206) menyebutkan, usaha garam rebus merupakan warisan tradisi yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Samudera Pase. 

Namun kini jumlah petani yang menekuni usaha tersebut semakin berkurang.

“Pemerintah harus hadir untuk menghidupkan kembali usaha garam rebus ini. Selain memiliki nilai sejarah, hasil penelitian BRIN juga menunjukkan kualitasnya lebih bagus dan memiliki potensi ekonomi besar bagi masyarakat pesisir,” ujar Fakhrurrazi kepada Serambinews.com.

FAKHRURRAZI - Wakil Ketua Fraksi Karya Independen Amanat Sejahtera (KIAS) DPRK Aceh Utara, Fakhrurrazi, S.IP yang juga Ketua DPD PAN Aceh Utara. 
FAKHRURRAZI - Wakil Ketua Fraksi Karya Independen Amanat Sejahtera (KIAS) DPRK Aceh Utara, Fakhrurrazi, S.IP yang juga Ketua DPD PAN Aceh Utara.  (Serambinews.com/HO)

Baca juga: Dewan Minta Pemerintah Hidupkan Usaha Garam Rebus, Temuan BRIN Kualitasnya Lebih Bagus

Hasil analisis laboratorium BRIN menunjukkan bahwa garam rebus Aceh memiliki kemurnian tinggi dan stabilitas yang baik untuk penggunaan jangka panjang. 

Garam ini juga dinilai sangat cocok digunakan sebagai bahan utama pembuatan asam sunti, bumbu khas Aceh yang tidak dapat dibuat menggunakan garam biasa karena rentan menyebabkan pembusukan.

Tim peneliti BRIN juga menyebutkan garam rebus Aceh memiliki kandungan mikroba yang lebih sedikit dibandingkan garam kerosok hasil penjemuran.

Metode perebusan dinilai mampu meminimalkan potensi kontaminasi bakteri yang biasanya ditemukan pada lahan penjemuran terbuka.

Karena itu, Fakhrurrazi berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan sektor garam rakyat sekaligus mengembangkan potensi garam rebus sebagai produk unggulan daerah.

Menurutnya, jika mendapat dukungan fasilitas, teknologi, dan pemasaran yang memadai, garam rebus Aceh tidak hanya mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, tetapi juga dapat menjadi komoditas strategis yang berkontribusi terhadap kebutuhan garam konsumsi nasional. (*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved