Jumat, 10 April 2026

Jurnalisme Warga

Geliat Ekonomi dan Etika Konsumsi di Bulan Suci

Selama Ramadhan, masyarakat memiliki tradisi berbuka puasa bersama serta penyediaan hidangan lebih bervariasi pada saat sahur dan berbuka.

Editor: Ansari Hasyim
IST
Nasrul Hadi 

Oleh: NASRUL HADI, S.E., M.M., Dosen Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), melaporkan dari Banda Aceh

PADA saat bulan Ramadhan tiba, seharusnya membuat konsumsi masyarakat menurun. Karena, pada

momen bulan suci ini kita menahan diri dari makan dan minum, serta kita juga mengendalikan nafsu untuk melakukan konsumsi secara berlebihan. Namun, pada realitanya setiap tahun Ramadhan tiba hingga menjelang akhir, tingkat pengeluaran masyarakat malah meningkat. Apalagi menjelang hari raya Idulfitri seperti sekarang ini. Bahkan,

Ramadhan menjadi momen puncak konsumsi masyarakat serta momen musiman mendorong ekonomi. Lantas mengapa demikian?

Kita melihat realita tersebut berulang terjadi setiap tahunnya. Pada saat bulan Ramadhan datang,

biasanya pengeluaran rumah tangga naik signifikan, seperti untuk kebutuhan pangan, pakaian, transportasi mudik, dan sebagainya.

Gelombang belanja masyarakat dan perputaran uang pun meningkat saat bulan suci, lebih-lebih menjelang hari Lebaran Idulfitri.

Mengutip Kompas.id disebutkan data Badan Pusat Statistik secara konsisten mencatat adanya inflasi

musiman pada periode Ramadhan dan Lebaran, terutama pada kelompok makanan, minuman, dan

transportasi. Dalam rilis pertumbuhan ekonomi, pada periode yang bertepatan dengan Ramadhan

dan Idulfitri, hampir selalu terjadi lonjakan konsumsi rumah tangga sebagai faktor musiman. Ini menandakan, bulan Ramadhan tidak hanya diisi oleh ritual ibadah individual, tetapi juga

peristiwa ekonomi, sosial, dan budaya yang memiliki dampak sistemik bagi masyarakat. Selama Ramadhan, ada beberapa tradisi yang mendorong konsumsi masyarakat meningkat dibandingkan dengan bulan-bulan di luar Ramadhan. Fenomena ini dalam teori bisa dilihat dalam konsep ritual

economy (ekonomi ritual), yaitu konsep antropologi ekonomi yang menjelaskan keterkaitan erat antara praktik ritual/keagamaan dengan aktivitas ekonomi—produksi, distribusi, dan konsumsi.

Selama Ramadhan, masyarakat memiliki tradisi berbuka puasa bersama serta penyediaan hidangan lebih bervariasi pada saat sahur dan berbuka. Meskipun siang hari berpuasa, tetapi saat waktu berbuka hidangan makanan dan minuman biasanya sangat beraneka ragam. Maka wajar, toko penjual pangan ramai dikunjungi pembeli selama Ramadhan. Begitu juga warung makan maupun

restoran pada sore hari ramai dikunjungi masyarakat untuk membeli takjil (makanan berbuka puasa).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved