Citizen Reporter
Menjalani Puasa Ramadhan di Musim Dingin Barat Irlandia
Ramadan tahun ini, yaitu ketika saya menjalaninya jauh dari Aceh, di kota kecil Galway di barat Irlandia. Ramadhan tahun ini saya awali di tengah
Kami saling memperkenalkan diri, berbagi cerita tentang kehidupan di perantauan, sambil menikmati makanan khas Indonesia saat berbuka puasa.
Saat itu saya benar-benar merasakan betapa rindunya saya akan makanan dari tanah air. Syukurlah, pertemuan-pertemuan kecil seperti itu terasa seperti menemukan keluarga baru di perantauan.
Meski Ramadhan berlangsung di tengah udara musim dingin, kebersamaan membuat suasananya terasa lebih hangat. Saya menyadari, bahwa saya tidak sendiri menjalani puasa di Irlandia.
Hal lain yang tentu terasa berbeda adalah suasana malam. Di Aceh, malam Ramadhan biasanya dipenuhi berbagai aktivitas. Orang-orang berkumpul setelah berbuka, masjid ramai oleh
jamaah Tarawih, dan warung-warung makanan biasanya tutup sementara saat waktu shalat tiba.
Suasana seperti itu tidak saya temukan di Galway. Setelah aktivitas harian selesai, kota perlahan menjadi lebih tenang. Jalan-jalan mulai lengang dengan dingin yang menusuk dan kehidupan kembali berjalan seperti hari-hari biasa, tanpa nuansa khusus Ramadhan.
Namun, justru dalam suasana yang lebih sunyi itulah saya menemukan sisi lain dari Ramadhan. Ketika lingkungan
sekitar tidak memberi banyak pengingat tentang bulan puasa, ibadah terasa menjadi sesuatu yang lebih personal sehingga disiplin dan kesadaran diri menjadi hal yang lebih penting.
Pengalaman menjalani sepuluh hari pertama Ramadhan dan sesudahnya di Irlandia memberi saya perspektif baru tentang makna puasa. Selama ini, suasana Ramadhan sering kita rasakan melalui berbagai tanda di sekitar kita, seperti adanya suara azan dari masjid, pasar takjil yang ramai, atau
kebersamaan saat berbuka bersama keluarga dan teman. Ketika semua itu tidak ada, kita belajar bahwa esensi Ramadhan sebenarnya terletak pada niat dan kesungguhan pribadi dalam menjalaninya.
Kini, ketika Ramadhan hampir usai, pengalaman itu terasa seperti sebuah pengingat kecil bahwa Ramadhan tidak selalu hadir dalam suasana yang meriah, seperti yang biasa kita
rasakan di Aceh. Terkadang ia datang dalam bentuk yang lebih sederhana, di kota yang jauh, di tengah udara musim dingin, dan di tempat yang bahkan tidak mengenal apa itu berpuasa di bulan Ramadhan.
Di mana pun kita berada, Ramadan tetap menghadirkan makna yang sama, yaitu kesempatan untuk menahan diri, memperbaiki diri, serta mengingat kembali hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Dan, mungkin justru ketika kita menjalani Ramadhan jauh dari suasana
yang biasa, kita belajar melihat bulan suci ini dengan cara yang berbeda, lebih bermakna, dan terus merasa bersyukur.
| Ketika Haji Menjadi Puncak Pengorbanan yang Sesungguhnya |
|
|---|
| Phuket Destinasi Wisata yang Memanjakan Lidah dan Mata |
|
|---|
| Aceh dalam Bayang Transformasi Asia: Catatan dari Beijing tentang Masa Depan SDM Indonesia |
|
|---|
| Dari Beijing untuk Aceh: Membangun Generasi Masa Depan melalui Perdamaian dan Penguatan SDM |
|
|---|
| Saat Massa Menuntut Keadilan, Saiful Mencari Rezeki di Tengah Kericuhan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/KEUMALA-FADHIELA-90ol.jpg)