Citizen Reporter
Menjalani Puasa Ramadhan di Musim Dingin Barat Irlandia
Ramadan tahun ini, yaitu ketika saya menjalaninya jauh dari Aceh, di kota kecil Galway di barat Irlandia. Ramadhan tahun ini saya awali di tengah
Oleh: KEUMALA FADHIELA ND, S.P, M.Si., Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, peserta Predoctoral Course Program (PDCP) Kemdiktisaintek, University of Galway, melaporkan dari Galway, Irlandia
KINI kita berada di pengujung Ramadhan, yang berarti bulan puasa sehari lagi akan meninggalkan kita. Namun, ingatan saya justru kembali pada hari-hari pertama
Ramadan tahun ini, yaitu ketika saya menjalaninya jauh dari Aceh, di kota kecil Galway di barat Irlandia. Ramadhan tahun ini saya awali di tengah musim dingin, di mana suasana Ramadhan.
sangat berbeda dari yang biasa saya rasakan di kampung halaman.
Saya berada di Kota Galway untuk mengikuti sebuah program akademik bernama
Predoctoral Course Program (Bridging Programme) di University of Galway, Irlandia. Program ini mempertemukan dosen dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan persiapan khusus sebelum memulai studi doktor di luar negeri.
Selama beberapa minggu, kami mengikuti berbagai kegiatan akademik seperti Academic Writing, Reflective Writing, Poster Presentation, dan kegiatan lainnya. Hari-hari di kampus menjadi pengalaman yang berkesan karena kami dapat berinteraksi
langsung dengan calon promotor, sekaligus mempersiapkan diri sebelum benar-benar memulai studi doktoral.
Di tengah kesibukan belajar, saya menyadari bahwa sepuluh hari pertama puasa akan saya
jalani di tempat yang jauh dari suasana Ramadhan yang biasa saya jalani di Indonesia, khususnya di Aceh.
Berbeda dengan di kampung halaman, atmosfer Ramadhan di Galway tidak begitu terasa di ruang publik. Kafe, pub, dan restoran tetap ramai pada siang hari. Orang-orang menikmati makan dan minum seperti rutinitas harian mereka. Tidak ada spanduk ucapan selamat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan 1447 Hijriah, tidak ada pasar
takjil di pinggir jalan, dan tentu saja tidak ada suara azan yang menandai datangnya waktu berbuka.
Bagi seorang muslimah yang terbiasa dengan suasana Ramadhan yang hidup di kampung halaman, pengalaman ini terasa cukup asing.
Selama sepuluh hari pertama Ramadhan di Galway, udara selalu terasa dingin, terutama
ketika angin bertiup dari arah Atlantik. Langit kerap berwarna kelabu dan hujan tipis kadang turun tanpa banyak tanda. Terkadang cuaca ini juga memengaruhi ‘mood’ untuk menjalani kegiatan sehari-hari.
| TPQ Ahlul Fikri Gelar Festival Ramadhan di Gampong Cot Yang, Cetak Generasi Qurani Sejak Dini |
|
|---|
| Sikap Cerdas Indonesia Bangun Hotel di Pusat Peradaban Islam |
|
|---|
| Warisan Dunia di India, Bukan Cuma Taj Mahal |
|
|---|
| Duta Wisata Aceh Besar Berbagi Kebahagiaan di Panti Asuhan Bumi Moro |
|
|---|
| Nanda Kumar dan Kanji Ramadhan: Harmoni Lintas Iman di Gampong Cureh Bireuen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/KEUMALA-FADHIELA-90ol.jpg)