Rabu, 8 April 2026

Citizen Reporter

Menjalani Puasa Ramadhan di Musim Dingin Barat Irlandia

Ramadan tahun ini, yaitu ketika saya menjalaninya jauh dari Aceh, di kota kecil Galway di barat Irlandia. Ramadhan tahun ini saya awali di tengah

Editor: Ansari Hasyim
@pegadaian.kanwilmedan
KEUMALA FADHIELA ND, S.P, M.Si., Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, peserta Predoctoral Course Program (PDCP) Kemdiktisaintek, University of Galway, melaporkan dari Galway, Irlandia. 

Oleh: KEUMALA FADHIELA ND, S.P, M.Si., Dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, peserta Predoctoral Course Program (PDCP) Kemdiktisaintek, University of Galway, melaporkan dari Galway, Irlandia

KINI kita berada di pengujung Ramadhan, yang berarti bulan puasa sehari lagi akan meninggalkan kita. Namun, ingatan saya justru kembali pada hari-hari pertama

Ramadan tahun ini, yaitu ketika saya menjalaninya jauh dari Aceh, di kota kecil Galway di barat Irlandia. Ramadhan tahun ini saya awali di tengah musim dingin, di mana suasana Ramadhan.

sangat berbeda dari yang biasa saya rasakan di kampung halaman.

Saya berada di Kota Galway untuk mengikuti sebuah program akademik bernama

Predoctoral Course Program (Bridging Programme) di University of Galway, Irlandia. Program ini mempertemukan dosen dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan persiapan khusus sebelum memulai studi doktor di luar negeri.

Selama beberapa minggu, kami mengikuti berbagai kegiatan akademik seperti Academic Writing, Reflective Writing, Poster Presentation, dan kegiatan lainnya. Hari-hari di kampus menjadi pengalaman yang berkesan karena kami dapat berinteraksi

langsung dengan calon promotor, sekaligus mempersiapkan diri sebelum benar-benar memulai studi doktoral.

Di tengah kesibukan belajar, saya menyadari bahwa sepuluh hari pertama puasa akan saya

jalani di tempat yang jauh dari suasana Ramadhan yang biasa saya jalani di Indonesia, khususnya di Aceh.

Berbeda dengan di kampung halaman, atmosfer Ramadhan di Galway tidak begitu terasa di ruang publik. Kafe, pub, dan restoran tetap ramai pada siang hari. Orang-orang menikmati makan dan minum seperti rutinitas harian mereka. Tidak ada spanduk ucapan selamat menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan 1447 Hijriah, tidak ada pasar

takjil di pinggir jalan, dan tentu saja tidak ada suara azan yang menandai datangnya waktu berbuka.

Bagi seorang muslimah yang terbiasa dengan suasana Ramadhan yang hidup di kampung halaman, pengalaman ini terasa cukup asing.

Selama sepuluh hari pertama Ramadhan di Galway, udara selalu terasa dingin, terutama

ketika angin bertiup dari arah Atlantik. Langit kerap berwarna kelabu dan hujan tipis kadang turun tanpa banyak tanda. Terkadang cuaca ini juga memengaruhi ‘mood’ untuk menjalani kegiatan sehari-hari.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved