Jurnalisme Warga
Menanamkan Cinta Al-Qur’an dan Ilmu di Cinta Al-Qur’an
Dalam jejak sejarah Aceh, masa Kesultanan Iskandar Muda, ulama dari berbagai wilayah seperti Arab, Persia, dan India datang ke Aceh untuk mengajar.
Pendekatan ini memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa setiap ilmu pengetahuan dan sains memiliki keterkaitan dengan Al-Qur’an.
Perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan kemajuan ilmu hakikatnya mengikuti prinsip-prinsip yang telah Allah jelaskan dalam kitab-Nya. Al-Qur’an bukan hanya pedoman ibadah, tetapi juga sumber inspirasi ilmu pengetahuan. Karena segala bentuk macam perubahan globalisasi saat ini semuanya sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an, tetapi sayangnya sangat sedikit dari kita yang mendalami kitab suci tersebut.
Sebagaimana disampaikan oleh Buya Hamka, Al-Qur’an mendorong umat Islam untuk berpikir, meneliti, dan mengambil pelajaran dari alam. Ayat-ayat tentang penciptaan, peredaran matahari dan bulan, serta pergantian siang dan malam adalah isyarat agar manusia menggunakan akal dan ilmunya.
Dengan cara inilah anak-anak dibentuk untuk melihat bahwa belajar sains bukanlah sesuatu yang terpisah dari iman, melainkan keseimbangan hidup serta bagian dari penghambaan kepada Allah.
Ramadhan Village
Puncak kegiatan Ramadhan di SD kami dikemas dalam kegiatan “Ramadhan Village.” Siswa dibagi dalam kelompok halakah untuk memperdalam ilmu fikih, khususnya praktik ibadah. Mereka belajar kembali tentang tata cara wudu, rukun, dan sunah shalat, serta adab berpuasa.
Pada hari berikutnya, diadakan lomba praktik shalat berjamaah, azan sebagai bentuk pembiasaan dan evaluasi. Anak-anak tampil penuh percaya diri, memperagakan gerakan dan bacaa dengan khusyuk.
Kegiatan ditutup dengan tausiah “Nuzulul Qur’an” dan penyaluran santunan kepada yatim piatu serta keluarga kurang mampu. Dana santunan berasal dari infak seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6 yang dikumpulkan setiap hari Jumat sebelum Ramadhan, mulai dari semester satu dan dua.
Anak-anak belajar bahwa berbagi adalah bagian dari iman dan bukti nyata dari pemahaman mereka terhadap ajaran Al-Qur’an.
Tradisi mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan ini memiliki akar sejarah
kuat di Aceh. Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636), Kesultanan Aceh Darussalam mencapai puncak kejayaan. Selain memperkuat armada dan ekonomi, beliau juga menjadikan pendidikan sebagai prioritas.
Ulama-ulama besar dihadirkan ke Aceh dan pusat-pusat pendidikan berkembang pesat. Masjid Raya Baiturrahman pada masa itu bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kajian tafsir, fikih, astronomi, dan ilmu falak.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu, Aceh menjadi salah satu pusat studi Islam terkemuka di Asia Tenggara. Ilmu agama dan ilmu rasional (seperti matematika dan astronomi) dipelajari berdampingan. Hal ini menunjukkan bahwa sejak dahulu, Aceh memahami bahwa kemajuan peradaban harus dibangun di atas fondasi Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan.
Semangat itulah yang kini terasa kembali dalam suasana Ramadhan di SD Sukma
Bangsa Lhokseumawe. Sekolah tidak hanya tempat transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter. Anak-anak tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga dibiasakan untuk santun, disiplin, peduli, dan mencintai Al-Qur’an.
Ramadhan di sekolah ini menjadi gambaran kecil tentang harapan besar bagi Aceh. Dari kelas-kelas yang sederhana, lahir generasi yang memahami bahwa iman dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Bahwa setiap pelajaran memiliki nilai ketauhidan. Bahwa setiap perkembangan zaman telah Allah isyaratkan dalam firman-Nya.
| Asyiknya Belajar Alam di Sungai Lhok Buloh |
|
|---|
| Kepedulian Bupati Syech Muharram terhadap Aksara Arab Melayu melalui Program ‘Beut Kitab bak Sikula’ |
|
|---|
| Memetik Hikmah dari Peluncuran Buku MemoryGraph |
|
|---|
| Kenduri di Makam Putroe Sani, Dari Kejayaan Sultan Iskandar Muda ke Sunyi Makam Permaisuri |
|
|---|
| Mengoptimalkan Potensi Gedung Karantina Haji Pulau Rubiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/GUNAWAN-GURU-SUKA-BANGSA.jpg)