Berita Aceh Utara
Pembangunan Sebagian Huntara di Aceh Utara Terkendala Penyediaan Lahan
Kondisi ini membuat sebagian masyarakat terpaksa menjalani kehidupan sehari-hari dalam keterbatasan, bahkan hingga pasca-Lebaran.
Penulis: Jafaruddin | Editor: Mursal Ismail
Ringkasan Berita:
- Sekitar 20 persen warga korban banjir masih tinggal di tenda atau gubuk darurat karena huntara belum sepenuhnya tersedia.
- Penanganan bencana kini memasuki fase transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi hingga 30 April 2026.
- Pemerintah fokus mempercepat pembangunan hunian, pemulihan ekonomi, dan validasi data korban agar bantuan tepat sasaran.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengakui hingga kini masih terdapat warga korban banjir yang bertahan di tenda dan gubuk darurat, meski masa tanggap darurat telah berakhir.
Kondisi ini membuat sebagian masyarakat terpaksa menjalani kehidupan sehari-hari dalam keterbatasan, bahkan hingga pasca-Lebaran.
Pelaksana Tugas (Plt) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, Fauzan MAP, kepada Serambinews.com Jumat (27/3/2026), menjelaskan bahwa penanganan bencana kini telah memasuki masa transisi darurat ke pemulihan yang akan berlangsung hingga 30 April 2026.
Sebelumnya, pada masa tanggap darurat, bantuan lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan logistik bagi para pengungsi.
“Pada masa tanggap darurat, bantuan didominasi logistik. Sekarang sudah masuk masa transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Fauzan.
Ia menyebutkan, meskipun sebagian besar warga telah meninggalkan tenda pengungsian, namun masih ada yang bertahan karena belum tersedianya hunian sementara (huntara).
Baca juga: VIDEO - JTS Korea bantu Korban Banjir Bandang di Bireuen
Saat ini, penanganan bantuan juga masih berada di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Masih ada warga yang tinggal di tenda atau tempat darurat sambil menunggu pembangunan huntara. Sebagian lainnya sudah menempati huntara yang tersedia,” katanya.
Menurut Fauzan, pembangunan huntara sejauh ini telah mencapai sekitar 80 persen.
Namun, masih terdapat sekitar 20 persen warga yang belum tertampung dan harus bertahan secara mandiri, baik di tenda, gubuk terpal, maupun tempat tinggal sementara lainnya.
“Yang belum tertampung ini sebagian memilih bertahan di lahan sendiri atau mendirikan tempat darurat. Lokasi huntara juga diupayakan tidak jauh dari permukiman asal warga,” jelasnya.
Sementara itu, untuk hunian tetap (huntap), progresnya masih sekitar 20 persen dan masih dalam tahap perencanaan serta pendataan lanjutan.
Baca juga: VIDEO 12 Jam Terjebak Banjir Usai Selamatkan Warga Aipda Maulizar Dapat Penghargaan
Pemerintah berupaya agar relokasi tidak jauh dari lokasi awal agar masyarakat tetap dapat melanjutkan kehidupan sosial dan ekonominya.
“Kendala utama saat ini adalah penyesuaian kondisi lapangan, termasuk ketersediaan lahan dan proses verifikasi data rumah rusak. Data harus benar-benar valid sebelum direalisasikan bantuan,” ujarnya.
| Puluhan Personel Polres Aceh Utara Kaget Tiba-tiba Dites Urine Mendadak, Begini Hasilnya |
|
|---|
| 396 KK Penyintas Banjir di Aceh Utara Terima Bantuan Rehab Rumah |
|
|---|
| Jadup untuk Korban Banjir di Dewantara Aceh Utara belum Cair, Publik Resah |
|
|---|
| Tujuh Guru Besar Baru Unimal Dikukuhkan, Perkuat Riset dan Kontribusi |
|
|---|
| Polres Aceh Utara Tes Urine Personel Secara Acak, Ini Hasil Temuannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/fauzan-27032026.jpg)