Rabu, 13 Mei 2026

Banjir Landa Aceh

Korban Banjir Bertahan di Gubuk Darurat Beratap dan Dinding Terpal

Selain di Leubok Pusaka, di Desa Buket Linteung dan di sejumlah kecamatan lainnya di Aceh Utara juga masih mengalami nasib serupa

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI PASE EDISI AHAD 20260329 

Ringkasan Berita:
  • Hingga Kini ratusan KK masih hidup dalam kondisi serba terbatas di pengungsian, sementara pembangunan huntara belum juga dimulai
  • lebih dari 400 KK lebih mengalami kerusakan rumah kategori berat hingga hanyut terbawa arus
  • Ada yang mendirikan gubuk darurat dengan atap dan dinding terpal, sebagian menggunakan kayu, ada juga yang tinggal di rumah saudara, bahkan terpaksa menyewa rumah

“Ada yang mendirikan gubuk darurat dengan atap dan dinding terpal, sebagian menggunakan kayu, ada juga yang tinggal di rumah saudara, bahkan terpaksa menyewa rumah,” JANNI, Keuchik Leubok Pusaka

SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Dampak banjir yang melanda Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara, sejak akhir November 2025 masih menyisakan penderitaan bagi ratusan warga. 

Hingga kini, ratusan kepala keluarga (KK) masih hidup dalam kondisi serba terbatas di pengungsian, sementara pembangunan hunian sementara (huntara) belum juga dimulai. Selain di Leubok Pusaka, di Desa Buket Linteung dan di sejumlah kecamatan lainnya di Aceh Utara juga masih mengalami nasib serupa dengan jumlah mencapai ribuan KK. 

Namun, untuk saat ini korban banjir yang masih mengungsi, terbanyak di berada di kecamatan Langkahan. Keuchik Leubok Pusaka, Janni kepada Serambi, Jumat (27/3/2026), mengatakan bahwa dari total 764 KK yang tersebar di 10 dusun, lima di antaranya dusun definitif, 560 KK di antaranya terdampak banjir.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 400 KK lebih mengalami kerusakan rumah kategori berat hingga hanyut terbawa arus.

“Sisanya mengalami kerusakan sedang dan ringan, dan mereka sudah kembali ke rumah masing-masing setelah melakukan perbaikan,” ujar Janni.

Saat ini, sebanyak 101 KK telah menempati huntara yang tersedia. Namun, masih terdapat lebih dari 300 KK yang belum mendapatkan tempat tinggal layak. Mereka terpaksa bertahan di berbagai kondisi pengungsian yang tersebar, tidak terpusat di satu lokasi.

“Ada yang mendirikan gubuk darurat dengan atap dan dinding terpal, sebagian menggunakan kayu, ada juga yang tinggal di rumah saudara, bahkan terpaksa menyewa rumah,” jelasnya.

Menurut Janni, rencana pembangunan huntara tambahan bagi ratusan KK tersebut hingga kini masih berada pada tahap awal, yakni penyediaan lahan. 

Ia menyebutkan, sebelum Idulfitri lalu, pihak dari Kantor Pertanahan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah meninjau lokasi, namun belum ada tindak lanjut signifikan.

“Terakhir sebelum Lebaran, baru sebatas pengecekan lokasi. Sampai sekarang belum ada kepastian kapan pembangunan huntara dimulai. Kalau Huntap (hunian tetap) apalagi, huntara saja belum berjalan,” katanya.

Kondisi ini juga berdampak pada suasana sosial masyarakat, termasuk perayaan Idulfitri yang terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tradisi pawai obor dan silaturahmi warga tidak lagi terlihat.

“Dulu malam Lebaran kami pawai obor keliling desa hingga ke desa tetangga. Sekarang tidak ada. Setelah salat Ied, warga langsung kembali ke pengungsian, lebih banyak berdiam diri,” ungkap Janni.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa banjir yang terjadi telah melumpuhkan sekitar 80 persen perekonomian warga. Lahan pertanian sebagai sumber utama penghasilan masyarakat rusak parah, sementara bantuan yang dijanjikan belum juga terealisasi.(jaf)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved