Lebaran Ditenda Pengungsian
Lebaran Berlalu Mereka Masih Menunggu, Nasib Korban Banjir Aceh
“Andai tidak diizinkan lagi tinggal di meunasah, kami minta pulang ke rumah keuchik, karena rumah sudah tidak ada lagi,” NURHAYATI, Korban
Ringkasan Berita:
- RAMADHAN telah lewat, Idulfitri pun telah usai. Mereka masih bertahan di tenda darurat, gubuk terpal, ruang kelas sekolah, hingga meunasah, menunggu kepastian hunian yang hingga kini belum juga datang
- Selain persoalan tempat tinggal, dampak banjir juga mempengaruhi kehidupan sosial dan keagamaan
- Akademisi di Bireuen, Dr Nazaruddin, menilai kebutuhan paling mendesak bagi penyintas saat ini adalah kepastian hunian.
“Andai tidak diizinkan lagi tinggal di meunasah, kami minta pulang ke rumah keuchik, karena rumah sudah tidak ada lagi,” NURHAYATI, Korban Banjir Bireuen
Sebagian korban banjir di Aceh hingga bulan keempat ini masih bertahan di tenda, gubuk terpal, dan hunian darurat. Liputan eksklusif ini merekam kondisi lapangan, persoalan pendataan, dampak sosial, serta lambatnya pemulihan hunian di berbagai daerah terdampak. Empat laporan pada hari pertama menghadirkan potret menyeluruh dari para korban yang belum sepenuhnya pulih. Tim peliput terdiri atas Jafaruddin, Yusmandin Idris, Edi Laber, dan Rahmad Wiguna, dengan Koordinator Liputan oleh Yocerizal.
RAMADHAN telah lewat, Idulfitri pun telah usai. Namun bagi sebagian penyintas di Kabupaten Aceh Utara, Bireuen dan sejumlah kabupaten/kota lainnya, hari kemenangan itu belum membawa perubahan berarti. Mereka masih bertahan di tenda darurat, gubuk terpal, ruang kelas sekolah, hingga meunasah, menunggu kepastian hunian yang hingga kini belum juga datang.
Di Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, ratusan keluarga masih bertahan di gubuk darurat beratap terpal. Sebagian dibangun secara swadaya menggunakan kayu seadanya, sementara lainnya menumpang di rumah kerabat atau menyewa rumah dengan kemampuan terbatas. Empat bulan pascabanjir, kehidupan warga masih belum banyak berubah.
Keuchik Leubok Pusaka, Janni, mengatakan sebagian besar warga masih menunggu kepastian hunian. Ia menyebut kondisi tersebut membuat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat belum pulih sepenuhnya. “Biasanya malam Lebaran kami keliling desa dengan pawai obor, lalu saling berkunjung. Sekarang tidak ada. Setelah salat Id, warga kembali ke tempat pengungsian dan lebih banyak berdiam diri,” ujar Janni.
Di Kecamatan Langkahan, kondisi tidak jauh berbeda. Sejumlah warga masih bertahan di ruang kelas sekolah. Salah satunya Musliadi, Kepala Dusun Leubok Muku, Gampong Buket Linteung, yang hingga kini masih mengungsi di SMP Negeri 4 Langkahan bersama keluarganya.
Ia mengaku, anak-anaknya sering menanyakan kapan mereka bisa pindah ke hunian yang lebih layak. “Anak-anak sering bertanya, kapan kami pindah ke huntara. Tapi mereka mulai memahami kondisi ini,” tuturnya.
Selain persoalan tempat tinggal, dampak banjir juga mempengaruhi kehidupan sosial dan keagamaan. Balai pengajian rusak sehingga ratusan anak belum bisa kembali mengikuti kegiatan mengaji. Selama Ramadhan, kegiatan sempat berjalan dengan bantuan relawan, namun setelah itu kembali terhenti. Bagi warga, kondisi ini menambah beban psikologis, terutama bagi anak-anak.
Sementara itu di Kabupaten Bireuen, kondisi serupa juga dirasakan para penyintas. Di Gampong Tingkeum Manyang, Kecamatan Kutablang, delapan kepala keluarga masih bertahan di meunasah karena rumah mereka hilang diterjang banjir. Salah satunya M Yusuf (59) bersama istrinya, Nurhayati (45), dan tiga anak mereka yang merayakan Lebaran dengan segala keterbatasan.
“Andai tidak diizinkan lagi tinggal di meunasah, kami minta pulang ke rumah keuchik, karena rumah sudah tidak ada lagi,” ujar Nurhayati dengan suara tertahan.
Di Gampong Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Riska Devia (35) juga harus merayakan Lebaran di tenda darurat bersama belasan kepala keluarga lainnya. Tahun lalu ia masih berlebaran di rumah sendiri, namun tahun ini ia dan tiga anaknya harus tinggal di hunian sementara yang rapuh. “Tahun ini ya di tenda dengan serba darurat, beda sekali,” ujarnya nyaris menangis.
Sebagian warga Bireuen memilih menumpang di rumah keluarga atau menyewa rumah, sementara lainnya bertahan di hunian darurat. Bahkan masih ada pengungsi yang tinggal di tenda dalam kompleks Kantor Bupati Bireuen. Mereka menunggu kepastian bantuan hunian, karena dana yang diterima tidak cukup untuk bertahan lama.
Bagi para penyintas, kebutuhan paling mendesak bukan lagi bantuan sembako. Mereka membutuhkan kepastian tempat tinggal agar dapat kembali menata kehidupan. Tanpa hunian yang layak, aktivitas ekonomi, pendidikan anak, hingga kehidupan sosial menjadi sulit pulih.
Bayang Ketidakpastian
Guru Besar Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Malikussaleh, Prof Dr Suadi MSi, menilai Idulfitri di Aceh selama ini menjadi momentum yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan budaya dalam satu perayaan kolektif. Namun Lebaran tahun ini menghadirkan kontras, ketika sebagian masyarakat merayakan tradisi di kampung halaman, sementara ribuan korban banjir masih bertahan di pengungsian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Lebaran-Berlalu-Mereka-Masih-Menunggu.jpg)