Kamis, 23 April 2026

Lebaran Ditenda Pengungsian

Lebih 300 KK di Aceh Utara Masih Tinggal di Gubuk Terpal

Di Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Seunuddon, lebih dari 300 kepala keluarga masih tinggal di gubuk darurat beratap dan berdinding terpal

Editor: mufti
for serambinews/SERAMBI/JAFARUDDIN
BERTAHAN DI TENDA - Meski Lebaran Idulfitri telah usai, korban bencana banjir di Kabupaten Aceh Utara masih bertahan di tenda darurat. Hingga kini, sebagian warga belum dapat kembali ke rumah karena kerusakan hunian dan kondisi lingkungan yang belum pulih. 

Ringkasan Berita:
  • Di Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Seunuddon, lebih dari 300 kepala keluarga masih tinggal di gubuk darurat beratap dan berdinding terpal.
  • Hunian tersebut dibangun secara swadaya menggunakan kayu seadanya, sebagian bahkan berdiri di atas lahan bekas rumah yang rusak akibat banjir.
  • Warga tidak terpusat di satu lokasi, melainkan tersebar di berbagai titik, membuat penanganan bantuan menjadi tidak merata.

PROSES pemulihan pascabanjir di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Utara masih berjalan lambat. Hingga kini, ratusan keluarga korban banjir masih bertahan di hunian darurat dengan kondisi terbatas, menunggu pembangunan hunian sementara yang belum sepenuhnya terealisasi.

Di Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Seunuddon, lebih dari 300 kepala keluarga masih tinggal di gubuk darurat beratap dan berdinding terpal. Hunian tersebut dibangun secara swadaya menggunakan kayu seadanya, sebagian bahkan berdiri di atas lahan bekas rumah yang rusak akibat banjir. Warga tidak terpusat di satu lokasi, melainkan tersebar di berbagai titik, membuat penanganan bantuan menjadi tidak merata.

Keuchik Leubok Pusaka, Janni, mengatakan banjir yang terjadi pada akhir November 2025 berdampak besar terhadap warganya. Dari total 764 kepala keluarga, sebanyak 560 kepala keluarga terdampak. Lebih dari 400 rumah mengalami kerusakan berat bahkan hanyut terbawa arus.

“Lebih dari 400 KK mengalami kerusakan rumah kategori berat bahkan hanyut. Sisanya rusak sedang dan ringan, dan sebagian sudah kembali setelah memperbaiki rumah mereka,” kata Janni.

Hingga saat ini disebutkannya, hanya sebagian kecil warga yang telah menempati hunian sementara. Sementara ratusan lainnya masih bertahan di tempat darurat yang tidak layak huni. Sebagian warga membangun gubuk sendiri dari terpal, ada yang menumpang di rumah keluarga, bahkan ada yang terpaksa menyewa rumah dengan biaya sendiri.

“Terakhir sebelum Lebaran, pihak Kantor Pertanahan dan BPBD hanya meninjau lokasi. Belum ada kepastian kapan pembangunan dimulai. Huntara saja belum berjalan, apalagi huntap,” ungkapnya.

Lumpuhkan Ekonomi

Selain persoalan hunian, dampak banjir juga melumpuhkan perekonomian warga. Lahan pertanian yang menjadi sumber penghasilan utama rusak parah, menyebabkan sebagian besar warga kehilangan mata pencaharian. Kondisi ini memperberat beban masyarakat yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah keterbatasan.

Janni memperkirakan dampak ekonomi yang dirasakan warga mencapai sekitar 80 persen. Banyak warga yang sebelumnya bergantung pada sektor pertanian kini tidak memiliki sumber pendapatan tetap.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan yang dijanjikan pemerintah juga belum sepenuhnya diterima warga. Bantuan yang diharapkan meliputi jatah hidup sebesar Rp 15 ribu per jiwa per hari, bantuan tunggu hunian Rp 600 ribu per kepala keluarga per bulan, bantuan perabot rumah tangga Rp 3 juta, serta bantuan pemulihan ekonomi Rp 5 juta.

“Belum ada yang kami terima sampai sekarang. Ini membuat kondisi masyarakat semakin sulit. Mereka tidak punya penghasilan, sementara bantuan belum jelas kapan disalurkan,” ucap Janni.

Selain persoalan hunian, warga juga menghadapi keterbatasan fasilitas dasar. Sejumlah pengungsi mengeluhkan kesulitan mendapatkan air bersih dan sanitasi yang layak, terutama menjelang akhir Ramadan. Kondisi tersebut memperberat kehidupan sehari-hari di hunian darurat.

Kondisi serupa juga terlihat di beberapa wilayah lain di Aceh Utara. Sejumlah warga masih tinggal di hunian darurat sambil menunggu pembangunan huntara selesai. Sebagian lainnya memilih bertahan di lahan sendiri agar tetap dekat dengan sumber mata pencaharian mereka.

Sementara itu, pemerintah daerah mengakui masih terdapat warga yang tinggal di tenda dan gubuk darurat meskipun masa tanggap darurat telah berakhir. Penanganan saat ini telah memasuki masa transisi menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pelaksana Tugas BPBD Aceh Utara, Fauzan, mengatakan sebagian warga belum dapat dipindahkan ke hunian sementara karena keterbatasan lahan dan proses verifikasi data. “Masih ada warga yang tinggal di tenda atau tempat darurat sambil menunggu pembangunan huntara. Sebagian lainnya sudah menempati huntara yang tersedia,” katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved