Lebaran Ditenda Pengungsian
Tradisi dan Aktivitas Sosial Menghilang
“Solidaritas dan gotong royong menjadi modal sosial utama masyarakat untuk bertahan sekaligus mempercepat pemulihan,” PROF SUADI
Ringkasan Berita:
- Solidaritas dan gotong royong menjadi modal sosial utama masyarakat untuk bertahan sekaligus mempercepat pemulihan
- Suadi menilai dampak bencana tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga mengganggu sistem sosial masyarakat
- Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya interaksi sosial serta melemahnya aktivitas keagamaan dan budaya yang biasanya menjadi bagian penting perayaan Idulfitri
“Solidaritas dan gotong royong menjadi modal sosial utama masyarakat untuk bertahan sekaligus mempercepat pemulihan,” PROF SUADI, Guru Besar Unimal
SUASANA Idulfitri tahun ini terasa berbeda bagi sebagian penyintas banjir di Aceh Utara dan Bireuen. Selain kehilangan rumah, warga juga kehilangan tradisi sosial yang selama ini melekat setiap Lebaran. Keterbatasan tempat tinggal dan kondisi ekonomi membuat aktivitas yang biasanya meriah menjadi sunyi.
Guru Besar Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Malikussaleh, Prof Dr Suadi MSi, menilai Idulfitri di Aceh selama ini dikenal sebagai momentum sakral yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan budaya.
“Idulfitri di Aceh bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum yang menyatukan dimensi spiritual, sosial, dan budaya masyarakat,” ujarnya. Tradisi seperti ziarah kubur setelah salat Id hingga teumeutuk menjadi simbol penguatan hubungan sosial dan kekeluargaan masyarakat.
Namun, bagi korban banjir yang masih tinggal di pengungsian, tradisi tersebut tidak sepenuhnya dapat dijalankan. Keterbatasan ruang dan kondisi ekonomi membuat aktivitas silaturahmi berkurang, sementara sebagian warga hanya merayakan Lebaran secara sederhana di tenda atau hunian darurat.
Ia menambahkan, hilangnya ruang-ruang komunal seperti balai desa, masjid, dan tempat berkumpul juga mengganggu ritme kehidupan sosial masyarakat. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya interaksi sosial serta melemahnya aktivitas keagamaan dan budaya yang biasanya menjadi bagian penting perayaan Idulfitri.
Kondisi itu kini terlihat di sejumlah wilayah terdampak banjir di Aceh Utara. Tradisi pawai obor pada malam takbiran tidak lagi digelar. Warga yang sebelumnya berkumpul di lapangan desa kini lebih banyak bertahan di hunian darurat masing-masing. Setelah salat Id, sebagian langsung kembali ke gubuk terpal atau tempat pengungsian tanpa kegiatan silaturahmi seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini dirasakan warga Gampong Leubok Pusaka, Kecamatan Seunuddon. Selain karena keterbatasan ruang, banyak keluarga yang terpisah tempat tinggal sehingga interaksi antarwarga berkurang. Sebagian masyarakat memilih berdiam diri, sementara yang lain fokus mengurus kebutuhan dasar sehari-hari.
Perubahan tersebut juga berdampak pada aktivitas keagamaan. Di beberapa wilayah, balai pengajian yang sebelumnya menjadi pusat kegiatan anak-anak rusak akibat banjir. Hingga kini, ratusan anak belum dapat kembali mengikuti kegiatan mengaji secara rutin.
Situasi serupa terjadi di Gampong Buket Linteung, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara. Balai pengajian yang rusak membuat kegiatan belajar agama terhenti. Selama Ramadan, kegiatan sempat berjalan dengan bantuan relawan, namun setelah itu tidak berlanjut karena keterbatasan fasilitas.
Kondisi ini membuat orang tua khawatir terhadap aktivitas anak-anak mereka. Tanpa ruang belajar dan kegiatan rutin, sebagian anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekitar hunian darurat. Keterbatasan ruang juga membuat anak-anak kesulitan bermain secara leluasa. Di beberapa lokasi, keluarga bahkan harus tinggal terpisah karena keterbatasan hunian, menambah beban emosional bagi penyintas, terutama anak-anak.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bireuen. Warga yang tinggal di meunasah, tenda darurat, atau rumah keluarga menghadapi keterbatasan ruang untuk menerima tamu Lebaran. Tradisi saling berkunjung yang biasanya berlangsung hingga beberapa hari setelah Idulfitri tidak lagi berjalan seperti biasa.
Sebagian warga memilih mengurangi aktivitas silaturahmi karena kondisi tempat tinggal yang tidak memungkinkan. Selain itu, banyak keluarga kehilangan perlengkapan rumah tangga sehingga tidak dapat menyiapkan hidangan Lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya.
Keterbatasan ekonomi turut mempengaruhi suasana Lebaran. Rusaknya lahan pertanian dan sumber penghasilan membuat sebagian warga harus memprioritaskan kebutuhan pokok. Akibatnya, perayaan Lebaran berlangsung sederhana bahkan tanpa persiapan khusus.
Perubahan suasana ini juga berdampak pada kondisi psikologis masyarakat. Sebagian warga mengaku masih mengalami trauma saat hujan turun atau angin kencang. Tinggal di hunian darurat membuat mereka merasa tidak aman, terutama pada malam hari. Di tengah kondisi tersebut, solidaritas menjadi penopang masyarakat.
Solidaritas Jadi Modal
Suadi menilai dampak bencana tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga mengganggu sistem sosial masyarakat. Hilangnya ruang berkumpul membuat ritme kehidupan sosial berubah serta melemahkan komunikasi antarwarga.
Menurutnya, kelompok rentan menjadi pihak paling terdampak. Perempuan harus menanggung beban ganda, anak-anak kehilangan rasa aman dan akses pendidikan, sementara lansia menghadapi keterbatasan mobilitas di tengah kondisi darurat.
“Dalam situasi seperti ini, solidaritas dan gotong royong menjadi modal sosial utama masyarakat untuk bertahan sekaligus mempercepat pemulihan,” kata Suadi. Kebersamaan antarwarga pengungsi dinilai mampu membantu masyarakat menjaga kehidupan sosial di tengah keterbatasan.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SUADI-28032026.jpg)