Rabu, 8 April 2026

Berita Banda Aceh

Usul Pertemuan dengan Gubernur, Rijaluddin: Banyak Masalah Internal DPRA Perlu Diketahui Mualem

Internal lembaga ini yang kemudian berdampak kepada keseluruhan penganggaran di Pemerintah Aceh,” kata Rijaluddin

Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nur Nihayati
Serambinews.com/Rianza Alfandi
RIJALUDDIN – Anggota DPRA Fraksi PKB, Rijaluddin, saat diwawancarai terkait usulan pertemuan khusus antara anggota DPRA dengan Gubernur Aceh, di Warkop Solong Pango, Banda Aceh, Senin (6/4/2026) malam. 

Internal lembaga ini yang kemudian berdampak kepada keseluruhan penganggaran di Pemerintah Aceh,” kata Rijaluddin

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Anggota DPRA, Rijaluddin, mengusulkan adanya pertemuan khusus antara anggota dewan dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem

Ia mengaku banyak persoalan internal di tubuh DPRA yang perlu diketahui langsung oleh gubernur, termasuk yang berdampak pada kebijakan anggaran dan kondisi pemerintahan.

Menurut Rijaluddin, pertemuan tersebut menjadi penting agar komunikasi antara legislatif dan eksekutif bisa berlangsung lebih terbuka dan tanpa batas.

“Banyak hal yang kami merasa ini gubernur tidak tahu bagaimana kondisi di internal lembaga (DPRA). 

Internal lembaga ini yang kemudian berdampak kepada keseluruhan penganggaran di Pemerintah Aceh,” kata Rijaluddin, saat ditemui, di Warkop Solong Pango, Banda Aceh, Senin (6/4/2026) malam.

Baca juga: Soroti Kebijakan Anggaran, Rijaluddin: Diamnya Anggota DPRA Adalah Pengkhianatan kepada Masyarakat

Rijaluddin mengungkap, usulan pertemuan khusus dengan Mualem tanpa keterlibatan seluruh unsur pimpinan DPRA bertujuan agar diskusi berjalan lebih terbuka dan transparan, sehingga kondisi yang terjadi selama ini di tengah masyarakat tersampaikan secara lugas.

Di sisi lain, kata dia, kehadiran pimpinan DPRA dikhawatirkan justru membatasi ruang penyampaian aspirasi, apalagi jika menyangkut hal-hal sensitif. 

Hal itu sudah terlihat dalam rapat paripurna kemarin, di mana Ketua DPRA Zulfadhli sangat membatasi ruang berbicara anggota.

“Mungkin alasan salah satunya, karena ini masalah internal lembaga, kita khawatirkan akan menyinggung pimpinan. Jadi kalau ada pimpinan di situ kita masih terbatas,” jelasnya. 

“Kemudian, kita bisa lihat alur paripurna tadi, kita sangat dibatasi oleh pimpinan. Jadi kita tidak leluasa, kita mau tidak seperti itu,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Rijaluddin juga mengakui selama ini komunikasi antara pimpinan dan anggota DPRA sangat lemah. Bahkan, nyaris tidak ada komunikasi sama sekali. 

Padahal, ia menilai seharusnya hubungan komunikasi tersebut lebih intens, mengingat pimpinan merupakan representasi dari kesepakatan bersama anggota.

“Yang pasti komunikasi antara pimpinan dan anggota hari ini sangat rendah levelnya. Jadi dapat saya katakan komunikasinya itu tidak ada. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved